Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Murabbi Umat Yang Sederhana Itu Kini Telah Tiada

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Februari 2015 13:36 1:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2015 13:31
Bagikan
Tok Guru Nik Aziz Nikmat menyempatkan membeli minuman pedagang kecil di pinggir jalan
Bagikan

Oleh: Rossem (H. Rosidi Semail)

PULAU Melaka, tetapi letaknya di Kelantan, tentu aneh! Kenapa nama Melakaada di Kelantan, padahal jarak antara kedua negara itu hampir 700 kilometer. Tentu ada sejarahnya tersendiri.

Kampung Pulau Melaka sudah ada ratusan tahun sebelumnya, ketika era kesultanan Melayu Melaka masih tegak. Ketika itu Kg Pulau Melaka diperintah oleh kesultanan Jembal, antara sultan Jembal yang terkenal adalah Raja Sakti (1638M).

Hubungan antara dua negara di Pantai Barat dan Pantai Timur Semenanjung Tanah Melayu itu hanya lewat kapal laut yang berlayar menyusuri Selat Melaka dan Laut Cina Selatan. Belum ada jalan darat saat itu (Abad ke 16 H).

Pemerintah Jembal di masa kejayaan maju dan makmur, pedagang luar datang berdagang. Sungai Pulau Melaka yang dalam airnya serta lebar memudahkan kapal- kapal berlayar dan singgah berlabuh di situ. Hal ini menimbulkan iri hati Sultan Melaka, lalu mengirim mata untuk mengintip kekuatan pertahanan pemerintah Jembal.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Perbuatan dan niat buruk itu diketahui Raja Jembal, lalu mata Melaka itu di tangkap dan diasingkan di sebuah pulau kecil pinggiran sungai. Akhirnya pulau itu dinamakan Pulau Melaka, sempena keturunan orang-orang Melaka itu.

Sekarang nama Pulau Melaka kembali disebut-sebut dan meniti di bibir-bibir rakyat setelah seorang putra kelahiran Kampung Pulau Melaka yang pulang ke rahmatullah pada jam 9.45 malam, 12 Februari 2015 di rumahnya Pulau Melaka.

Putra kesayangan umat itu tak lain adalah Mursyidul Am PAS dan mantan Menteri Besar Kelantan (Gubernur) Negara Bagian Kelantan, Tok Guru Dato ‘Nik Abdul Aziz Nik Mat.

Almarhum menghembus nafas terakhir dalam usia 84 tahun setelah  mendapat perawatan di rumah sakit Sultanah Zainab Kota Bharu, karena mengidap kanker prostat yang terdeteksi sejak Pemilihan Umum ke 13 dan kondisinya memburuk setelah bencana banjir melanda Kelantan akhir Desember 2014 lalu. [Baca: Mursyidul Am PAS Nik Aziz Nik Mat Meninggal Dunia]

Nik Abdul Aziz Nik Mat adalah seorang putra asal Pulau Melaka. Ayahnya, almarhum Haji Nik Mat bin Raja Banjar adalah dari keturunan Raja Jembal yang memerintah Kelantan dalam kurun ke 16.

Keturunan Raja Jembal itu masih banyak lagi di negeri Kelantan, terutama di Kota Jembal (Dulunya Toko Lalat), Pulau Melaka, Binjai, dan Banda Aceh. Pemakaman Almarhum bersebelahan dengan pusara ayahandanya Haji Nik Mat Bin Raja Banjar.

TokGuru2
Beginilah penghormatan rakyat Kelantan pada Tok Guru Nik Aziz Nik Mat. Berita Harian menyebut lebih 50 ribu orang ikut mengantar ke pemakamannya [BH]

Almarhum menikah dengan Tuan Sabariah Tuan Ishak, atas pilihan bibi tua pada 1962. Ketika itu Tok Guru, demikian ia akrab dipanggil masih berusia 31 tahun, sedangkan istrinya kala itu masih berusia 14 tahun.

Hasil pernikahan itu dikaruniai 10 cahaya mata, 5 pria dan 5 perempuan. Antara anaknya yang mengikuti jejak menjadi politikus adalah Muhamad Abduh, sekarang menjadi Wakil Rakyat.

Tanpa Pembantu dan Sekretaris Pribadi

Rumah kediamannya di Kg. Pulau Melaka sangat sedarhana. Rumah lama berdinding papan (kayu), hanya beton pada bagian belakang (dapur). lebih bersemangat karena rumah itu berpagar, sebagaimana rumah-rumah kediaman orang sekarang. Bahkan tidak ada penjaga keamanan mengontrol rumah itu, padahal ia seorang Menteri Besar (23 tahun). Sebagai Menteri Besar, berhak mendapatkan kalwalan polisi di rumahnya.

Tok Guru tak ingin membangun pagar di rumahnya. Tidak ada istilah “privacy” dalam kamus hidupnya. Siapapun dan setiap saat bisa datang ke rumahnya, Tok Guru selalu melayani tamu dengan penuh keramahan, kecuali bila masuk waktu shalat, Tok Guru memimpin shalat jamaah.

Pertama kali saya ke rumah Tok Guru tahun 2000, menemani seorang teman dari Jakarta, Indonesia. Setelah memperkenalkan diri (sebenarnya malu untuk memperkenalkan diri sebagai kartunis ke seorang ulama besar seperti Tok Guru). Tok Guru kemudian melontarkan ungkapan yang sampai hari ini masih segar dalam ingatan saya,  “Jadi kartunis Islam,” ujarnya.

Sebulan setelah itu saya hadir dalam sebuah ceramah Tok Guru di Kuala Lumpur, beliau menyebut lagi di hadapan ribuan penonton “Kepada kartunis saya menasihati mereka, jadilah kartunis yang bermanfaat untuk perjuangan Islam”.

Sebelumnya saya pernah mendengar banyak perbincangan, Tok Guru mengambil sendiri minuman (teh/kopi) di dapur rumahnya kepada tamu yang datang.

Hari itu, ketika saya sedang mengantar tamu,  saya melihat sendiri bagaimana Tok Guru melayani tamunya dengan baik. Ia masuk ke dapur, dan kembali  dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh untuk kami berdua. Tak ada pembantu di rumahnya, padahal beliau seorang Menteri Besar (Gubernur).

Sebagai Menteri Besar, ia disediakan sebuah rumah dinas, namun Tok Guru justru tidak tinggal di rumah itu. Sebaliknya justru tinggal di rumah sendiri di Pulau Melaka.

Segala fasilitas seperti biaya sewa dan biaya melayani tamu sebanyak RM3,000 (sekitar Rp. 9 juta perbulan) yang dialokasikan pemerintah, justru tak diambilnya dan dikembalikan pada pemerintah.

Di antara rutinitas harian Tok Guru Nik Aziz selama menjadi Menteri Besar Kelantan 23 tahun sungguh membuat orang beriman di manapun iri.

Begitu tiba di kantor di Kota Darulnaim, didahului dengan shalat dhuha, baru  kemudian memulai kerja.

Selain itu, memberikan tazkirah (peringatan) pagi untuk semua karyawan di semua kantor di kompleks administrasi negara yang dipancarkan melalui pengeras suara yang terhubung ke setiap gedung dan kantor selama 10 menit. Itu dilakukan setiap pagi hari pada jam kerja (antara pukuk 8.00).

Selama 9 tahun (2005 – 2013) saya bekerja di bawah pemerintahannya di Kota Darulnaim, Tok guru mudah ditemui. Siapa saja bisa datang tanpa perlu janjian atau melewati sekretaris. Tidak ada protokol baginya, wartawan bahkan bisa bertanya apa saja, tak peduli tempat. DI mana beliau ada, di situ wartawan bisa mewawancarainya. Meski seorang pejabat Negara, Tok Guru tak memiliki sekretaris pribadi atau petugas protokoler.

Di pentas ceramah, Tok Guru tidak pernah memilih-milih khalayak. Banyak ceramahnya  selalu terkait dengan hukum Islam. Suatu ketika beliau berceramah tentang politik yang dihadiri para pemimpin partai dan warga  non-Muslim.

“Di atas muka bumi ini ada dua golongan, yaitu Muslim dan non-Muslim. mereka yang non-Muslim itu kafir, matinya masuk neraka,” demikian ceramahnya kala itu.

Yang menarik, tak satupun warga non-Muslim marah dengan kata-kata Tok Guru itu. Beliau bahkan dihormati kalangan non-Muslim. Itulah salah satu kelebihannya.

Kemampuan 4 Bahasa

Dengan gambar serban dan jubah, Tok Guru menjadi Menteri Besar Kelantan selama 23 tahun mulai 1990 sampai 2013. Ketika televisi menyiarkan segmen berita tentang pengangkatan Tok Guru Nik Aziz pada 1990, kala itu saya bekerja di kantor pemerintah di Kuala Lumpur. Kami bersama teman-teman sekantor menoton segmen berita pagi itu. Seorang karyawan wanita sempat mencelah (menghina) “Dapatkah Nik Aziz berbicara orang putih (bahasa Inggris)?

NikAziz

“Kantor Menteri Besar harus tahu orang putih, ” ujarnya. Saya menjawab, “Kalau Tun Dr Mahathir (ketika itu Perdana Menteri Malaysia) dapat berbicara dua bahasa, yaitu Melayu dan Inggris, Nik Aziz justru berbicara 4 bahasa; Melayu, Arab, Urdu dan Inggris.” Dan wanita itu kemudian terdiam.

Faktanya, meskipun berserban, berjubah, berstatus ulama, namun telah berhasil mengelola Negeri Kelantan dengan damai selama 23 tahun, dengan menempatkan Islam di tempat yang paling tinggi.*/(bersambung)

Penulis kartunis, tinggal di Kelantan Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Malaysiamurabbisederhanaumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Istri Ex-Rapper Jerman Anggota ISIS Diduga Mata-Mata FBI
Tulisan selanjutnya Erdogan Mengaku Terisolasi di Kancah Politik Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?