Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pemuda Muslim Marak Nge-Punk di Amerika

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Agustus 2009 15:17
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah. com–Novel Michael Muhammad Knight, The Taqwacores, terbit tahun 2003, berisi kisah fiksi tentang para rocker punk yang menjalankan Islam sesuai kehendak hatinya. Ketika novel itu ditulis, Knight seorang mualaf, sedang merasa kecewa dengan agama barunya.

Novel itu terjual 15.000 kopi di seluruh dunia, termasuk di Texas. Di wilayah itu seorang remaja keturunan Persia, Kourosh Poursalehi, membaca buku itu dan mengira tokoh-tokoh dalam novel tersebut nyata.

“(Membaca buku itu) saya merasa, ‘Wow, ternyata bukan saya seorang yang mengalami hal seperti ini’,” kata Poursalehi. “Ternyata ada anak lain di luar sana yang bermain musik seperti ini.”

Poursalehi mengambil sebuah puisi dari halaman pertama buku itu yang berjudul “Muhammad Seorang Rocker Punk”, dan menggabungkannya dengan musik–mengubah halaman-halaman diam menjadi sebuah “lagu kebangsaan” yang nyata bagi anak-anak Taqwacore. Dalam satu bait puisi itu berbunyi, “Muhammad seorang rocker punk. Ia meruntuhkan segalanya.”

Poursalehi mengirimkan puisi versi musiknya kepada pengarang The Taqwacores, yang kemudian memberikannya kepada seorang musisi muda di Boston, Shahjehan Khan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Saya sangat merasa bersalah karena beranjak dewasa tanpa melakukan hal-hal yang benar, tidak menjadi Muslim yang baik, atau menjadi anak Pakistan yang baik,” kata Khan. “Dan setelah membaca buku itu saya menjadi yakin bahwa kebingungan itu, dan mungkin kekecewaan itu, adalah normal. Dan banyak orang mengalami hal itu, dan itu bukanlah hal yang keliru.”

Dulu Khan juga merasa kecewa dengan teman-teman sekolah Amerikanya. “Pada bulan Desember, setelah kejadian 11 September, saya masih SMA. Ketika berjalan memasuki ruangan kelas sebagian anak berkata, ‘Yo, apa yang orang-orangmu lakukan?'”katanya. “Dan saya tidak tahu harus menjawab apa.”

Rasa frustasi menggiringnya membentuk sebuah band bersama temannya, Basim Usmani. Namanya The Kominas, menjadi salah satu band yang pertama dibentuk, seperti dalam dalam cerita Taqwacore.

Lagu pertama The Kominas berjudul “Hukum Syariah di AS.” Lagu tersebut menyamakan hukum Islam dengan Undang-Undang USA Patriot Act. Khan bilang, itu hanya sekedar bercanda.

Tak lama kemudian, band musik seperti Taqwacore dari seluruh Amerika saling bertemu lewat situs jejaring sosial seperti MySpace dan Facebook. Banyak di antaranya yang kemudian jumpa darat pada musin panas 2007, ketika lima band mengadakan tur ke daerah timur laut Amerika. Mereka bersama-sama menggunakan bis sekolah berwarna hijau dengan tulisan “Taqwa” di depannya.

Bersama dengan The Kominas, ada juga band The Thawra. Penyanyi utamanya, Marwan Kamel. Ketika orang-orang berpapasan dengan kendaraan mereka, memberikan simbol penghinaan kepada Allah. Kamel berkata, musik memberikan senjata kepadanya untuk balik melawan.

“Saya, OK saja dengan diri saya,” kata Kamel. “Yang punya masalah itu Anda–seperti orang penting saja.”

Orang yang membantu mereka memulai semua itu, Michael Muhammad Knight, sendiri dikucilkan oleh orang-orang Muslim dan non-Muslim karena pandangannya terhadap Islam.

Anak-anak Taqwacore memang jauh dari kesan seorang Muslim yang bertakwa. Dengan gaya mereka yang liar, mengkritik dunia Timur dan Barat, terutama ajaran Islam. Mereka berpakaian seenaknya, dengan jaket yang bertambal-tambal, teler, menggunakan pipa hookah, mabuk, dan merokok. Selama perjalanan tur mereka juga tidak berhenti untuk melakukan shalat lima waktu. Fatalnya, meskipun demikian mereka masih merasa sebagai Muslim yang taat.

“Saya mendapat (celaan) dari banyak orang,” kata Knight. “Saya mendapati orang-orang neo-konservatif berkomentar di blog mereka, ‘Oh ini hebat, anak ini menantang Islam. Anak ini membenci Islam, ia mencoba merusak segalanya.’ Saya tidak sedang merusak Islam. Saya sedang berusaha agar Islam menjadi mungkin dalam kehidupan saya.”

Setelah tur pertama ini, semakin banyak band Taqwacore bermunculan. Mereka punya acara  di festival musik South by Southwest pada bulan Maret, dan dua buah film sedang digarap mengenai Taqwacore. Tren itu juga merambah penulis buku komik dan para fotografer.

Meskipun musik heavy metal sudah merambah Timur Tengah, Taqwacore belum menyebar sejauh itu. Tapi, Knight yakin bahwa musik ini akan sampai ke sana.

“Menurut saya Anda harus tahu apa yang membuat orang kesal dan apa yang diperbincangkan orang,” kata Knight. “Dan ungkapkan itu dengan cara yang bisa dipahami orang. Menurut saya, di mana-mana ada orang yang tidak berdaya, marah, dan kehilangan harapan. Mereka butuh orang yang menyuarakan hal itu.”

Itulah yang membuat Knight yakin bahwa Taqwacore bisa menjadi corong bagi anak-anak muda Timur Tengah, sebuah suara yang keras, untuk mengekspresikan diri mereka. [di/npr, mug/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tayangan TV Jangan Menodai Ramadhan
Tulisan selanjutnya Fatwa Saudi: Terkena Flu Babi, Mati Syahid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?