Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Erdogan Kecam Prancis Rasis

Dija
Terakhir diupdate:
Dija
Dipublikasikan 24 Januari 2012 21:22
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa keputusan Prancis untuk mengkriminalkan para penyangkal pembunuhan di Armenia pada masa Perang Dunia I merupakan kebijakan yang rasis dan diskriminatif.

“Pemungutan suara di Senat (Prancis) dan rancangan undang-undang itu sendiri merupakan diskriminasi dan rasis yang terang-terangan, serta merupakan sebuah pembunuhan massal atas kebebasan berpikir, guna memenangkan perolehan suara [pemilu] dengan mempermaikan sentimen anti-Turki,” kata Erdogan di hadapan parlemen Turki, Selasa (24/01/2012), lansir Euronews.

Setelah berdebat selama lebih dari 7 jam hari ini, Senat Prancis lewat pemungutan suara akhirnya setuju meloloskan undang-undang yang mengkriminalkan siapa saja yang tidak menyebut pembunuhan warga Armenia oleh pasukan Turki Utsmani pada Perang Dunia I sebagai genosida.

Sebanyak 127 suara anggota Senat menyatakan setuju atas RUU yang diajukan oleh Presiden Nicolas Sarkozy itu, sementara 86 suara anggota Senat menolaknya.

Undang-undang tersebut menyatakan, barangsiapa yang menyangkal telah terjadi pembunuhan massal orang-orang Armenia oleh pasukan Turki Utsmani diancam hukuman penjara satu tahun dan denda 45.000 euro atau sekitar USD 59.000. Dengan kata lain, penyangkal genosida yang dilakukan oleh pasukan Muslim terhadap orang-orang Armenia diperlalukan sama dengan para penentang holocaust.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan sebelumnya telah mengatakan bahwa apa yang dilakukan Prancis merupakan upaya pengaburan sejarah.

Ketika orang-orang Armenia mengangkat senjata melawan Kekhalifahan Turki Utsmani saat pasukan Rusia menginvasi Anatolia Timur –sekarang Turki sebelah timur– menurut Ankara sekitar 300.000 orang menjadi korban. Tidak sedikit pula korban tewas di pihak Turki Ustmani.

Sementara Armenia mengklaim ada 1,5 juta orang mereka dibunuh pasuan Turki ketika itu.

Meskipun undang-undang itu kini tinggal menunggu tandatangan Sarkozy, yang memiliki waktu 15 hari untuk mengesahkannya, namun menurut Jean-Pierre Sueur –presiden komisi Senat dari Partai Sosialis– isi teks perundangan itu inkonstitusional.

“Kami di komisi hukum Senat sangat yakin bahwa teks (perundangan) ini inkonsttitusional. Cepat atau lambat kita akan melihatnya demikian. Namun pertanyaannya adalah apakah diskusi masalah ini akan meringankan kepedihan yang dirasakan di kedua pihak? Apakah diskusi ini menjadikan sejarah lebih jelas? Apakah bermanfaat untuk hubungan diplomatik? Saya tidak yakin dan tidak percaya masalah ini sudah selesai,” katanya.

Sejumlah pihak menuding undang-undang ini sengaja diajukan partainya Nicolas Sarkozy untuk mencari simpati dari warga keturunan Armenia yang berjumlah sekitar 500.000 orang di Prancis, agar memilih UMP dalam pemilihan umum mendatang.*

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MUI Jatim: Mumpung Masih Kecil, Syiah Harus Dilarang
Tulisan selanjutnya Apa Ibukota Tunisia Sebenarnya?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang

Terbaru

  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?