Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Ramadhan untuk Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juli 2013 10:51 10:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juli 2013 10:51
Bagikan
PNS Bengkulu diwajibkan berbaju Muslim selama Ramadhan
Bagikan

Oleh: Ibnu Budiman  

ISLAM  adalah agama dengan setiap jenis ibadahnya selalu memiliki dimensi sosial. Mulai dari ber-syahadat, shalat, puasa, hingga berbagai jenis ibadah lainnya. Dalam syahadat, ikrar meng-esa-kan Tuhan dan Muhammad sebagai utusan Tuhan, bertujuan untuk mendorong optimisme individu dalam ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) sehingga kemudian menciptakan peradaban yang adil dan makmur.

Dalam shalat, bagi seorang  mukmin hal ini memilki unsur ruhiyah di dalamnya, dia mengetahui secara pasti bahwa Tuhan selalu mengawasinya dalam setiap gerakan dan bacaan shalatnya. Sehingga dia pun berusaha menghadirkan jiwa yang khusyu’ ketika shalat. Tidak terburu-buru ketika shalat tetapi dengan khusyu dan sabar dia memaknai setiap bacaan hingga kemudian melekat menjadi prinsip.

Pun demikian dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika seorang bersaksi dalam shalat bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Tuhan, sesungguhnya dia telah meng-esa-kan Tuhan dalam penghambaan maupun dalam pensucian serta menafikkan secara pasti penghambaan terhadap selain Tuhan dalam bentuk apa pun, baik berupa materi, kesenangan dunia, atau pun hal fana lainnya. Seorang mukmin yang shalat dengan sempurna pasti akan mampu memahami esensi dari amar ma’ruf nahi munkar (menyeru pada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran).

Tidak hanya dalam perihal ibadah, sejarah Islam pun juga turut berdimensi sosial. Kisah 25 Rasul yang diyakini dalam Islam merupakan refleksi  dari jenis-jenis karakter yang layak dijadikan panutan dan pedoman. Jenis-jenis karakter ini meliputi berbagai bidang kehidupan, bahkan juga dalam berpolitik. Kisah Nabi Yusuf adalah sebuah teladan yang menawan bagaimana karakter berpolitik yang santun dan bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan bersama.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Lalu dalam karakter berani yang ideal, kita bisa belajar dari Nabi Musa. Bagaimana daya kritisnya mendorong sifat beraninya untuk mempertanyakan eksistensi Tuhan, hingga kemudian ia pun mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Tuhan.

Pada Zaman Nabi Musa, ada sebuah kisah yang juga terkait dengan urgensi dimensi sosial dalam Islam. Konon Nabi Musa bertemu dengan seorang ahli ibadah ketika dalam perjalanan menuju sebuah bukit untuk berbicara dengan Tuhan. Ahli ibadah ini kemudian menitipkan pertanyaannya kepada Tuhan melalui Musa, ia bertanya “di surga manakah nanti aku akan ditempatkan? Karena aku telah hidup tanpa mengganggu makhluk Tuhan. Aku makan dari daun yang berguguran, tidak pernah memetiknya dan juga membunuh binatang.”

Musa pun menanyakan kepada Tuhan, dan Tuhan menjawab bahwa ia ditempatkan di Neraka. Musa pun kembali ke ahli ibadah tersebut dan memberi tahu kepadanya. Ahli ibadah itu pun tidak percaya dan meminta Musa kembali menanyakan kepada Tuhan. Musa pun kembali menanyakannya dan Tuhan menjawab “Surga”. Musa pun heran bertanya kepada Tuhan kenapa jawabannya berubah. Tuhan menjawab “Ketika engkau tadi menanyakan untuk pertama kali, sang ahli ibadah tersebut berdoa kepadaKu bahwa jika ia ditempatkan di neraka, maka besarkanlah tubuhnya sehingga memenuhi ruang di neraka dan tak ada orang lain yang kemudian masuk ke dalamnya.”

Hal ini menjelaskan bahwa kesalehan sesungguhnya yang diinginkan Tuhan adalah memang yang berdimensi sosial ; kesalehan sosial, bukan kesalehan individu yang tidak berdampak sosial (kepada masyarakat).

Dimensi Sosial Ramadhan

Ramadhan, adalah sebuah bulan yang diistimewakan oleh Islam dibanding sebelas bulan lainnya. Dalam momentum ini, semua amalan ibadah dan berbagai hal terkait Islam didorong untuk diangkat dan dilipatgandakan pahalanya. Dalam kajian tasawuf, Ramadhan merupakan momentum untuk optimalisasi dimensi sosial dari Islam.

Ketika semua ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial dan pada Bulan Ramadhan semua jenis ibadah tersebut dilipatgandakan, maka inilah yang dimaksud dengan optimalisasi dimensi sosial dari Islam sebagai agama yang rahmatan lili alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Puasa adalah ibadah utama dalam Bulan Ramadhan. Puasa disebut sebagai ibadah yang berdimensi sosial tertinggi dalam Islam.

Dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 ditegaskan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Puasa adalah satu-satunya ibadah dalam Islam yang dengan tegas menyuratkan dalam perintahnya bahwa hal ini diwajibkan dan sudah dilakukan dari umat-umat sebelum Islam dibawa oleh Muhammad, serta ibadah ini bahkan dikaitkan dengan ketaqwaan, tingkat ‘pemahaman’ tertinggi terhadap substansi Islam yang menyeluruh.

Makna dalam berpuasa adalah menahan diri dari berbagai jenis nafsu yang pada sebelas bulan lainnya kita relatif terbiasa akan hal tersebut. Hal ini bertujuan untuk melatih simpati terhadap mereka yang nasibnya mungkin kurang baik dibandingkan kita. Dari simpati ini diharapkan akan muncul berikutnya sikap empati yang kemudian berujung pada kepedulian sosial.

Selanjutnya, ibadah-ibadah lainnya yang didorong dalam Bulan Ramadhan yaitu ada zakat, membaca al Qur’an, shalat, dan sejumlah jenis kegiatan lainnya baik secara berjamaah maupun individu. Zakat adalah sebentuk empati kaum yang membutuhkan. Ibadah berjamaah mempererat silaturahmi dan membuka wadah berdiskusi berbagi ilmu, ‘membaca’ al-Qur’an mempertajam pemahaman kita atas Islam, dan semua manfaat ibadah di atas pada akhirnya menentramkan kehidupan sosial bermasyarakat.

Ramadhan dan Indonesia

Terkait dimensi sosial ini, KH Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) pernah berujar menganalogikan Indonesia itu bagaikan gadis cantik yang sangat sempurna dan hanya lelaki yang bodohlah yang tidak tertarik padanya.

Ini adalah perumpamaan atas kekayaan sumber daya di Indonesia yang begitu melimpah dan hanya negara bodohlah yang tidak tertarik untuk menjajah. Maka inilah yang menjadi pangkal krisis multidimensional yang melanda Indonesia saat ini dan dimensi sosial Islam adalah solusi terpendam yang butuh diangkat secara kolektif.

Ramadhan yang datang setiap tahun dengan muatan dimensi sosial tingkat tinggi, mestinya tidak hanya hadir sebagai rutinitas semu bin palsu belaka. Ramadhan harusnya menjadi momentum berkelanjutan dalam upaya optimalisasi dimensi sosial Islam dan kemudian menjadi jawaban bagi permasalahan bangsa. Ukirlah keindahan Ramadhan dalam bingkai ke-Indonesiaan.*

Penulis  anggota Keluarga Besar Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) UI. Tulisan ini terinspirasi ceramah M Rofiq Thoyib Lubis (Direktur Wakaf Al Azhar) dalam buka bersama Keluarga Besar Alumni HMI UI 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dimensi sosialkrisis indonesiaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jaga Rahasia Pejabat, Kremlin Aktifkan Mesin Ketik
Tulisan selanjutnya Berlomba Jadi Pembicara, Tapi Ulama Makin Sedikit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?