Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Muhammad Natsir di Mata Prof. Dr. Kamal Hassan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Maret 2012 14:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Muhammad Natsir adalah cendikiawan yang berpijak di bumi tapi berpandukan kepada panduan Ilahi. Itulah salah satu pandangan tentang sifat kecendikiawanan Muhammad Natsir yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Mohammad Kamal Hassan, dosen International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) pada acara “Special Lecture Series on Contemporary Muslim Thinkers and Scholars of Islam” dengan tema “Muhammad Natsir: His Life dan Thought” di kampus ISTAC, IIUM Kuala Lumpur Campus, Taman Duta, Kuala Lumpur, Rabu, 14 Maret 2012 lalu.

Pada special lecture perdana yang dihadiri para staf, dosen, dan mahasiswa ISTAC dan jurusan lain di IIUM tersebut, Prof. Kamal ─yang telah membaca buku-buku karya Muhammad Natsir ketika masih duduk di bangku sekolah─ menuliskan beberapa pandangannya tentang sifat kecendikiawanan Muhammad Natsir.
Pandangan yang sama juga pernah beliau ungkapkan pada “Seminar Serantau Memperingati 100 Tahun Pahlawan Nasional Bapak Muhammad Natsir”, yang diselenggarakan oleh Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS) dan Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH).

Santun dan Berhikmah

Kesimpulan dari kajian ini didapat beberapa kesimpulan;

Pertama, kecendikiawanan yang berasaskan pada teologi, epistemologi, kosmologi, axiologi dan etika – bahagian-bahagian penting dalam pandangan hidup atau worldview Islam – hasil dari proses tadabbur dan tafakkur serta pegangan yang kuat kepada wewenang wahyu Ilahi dan contoh pelaksanaan dan kebijaksanaan Sunnah Rasulu’Llah (s.a.w.). Kecendikiawan saperti ini akan senantiasa mendaulatkan kemutlakan wahyu Ilahi dengan memberi tempat yang sewajarnya kepada fungsi dan kedudukan akal manusia. Ia tahu menduduki nilai yang mutlak dan nilai yang nisbi, yang rabbani dan yang insani, yang qat‘i dan yang zanni, yang berubah (mutaghayyirat) dan yang tidak berubah (thawabit), ijtihad yang sabenar dan ijtihad yang mengganas.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Kedua, kecendikiawanan yang benar-benar bersepadu antara unsur-unsur yang sering diasingkan – antara tafakkur dengan dhikr Allah; antara yang berguna dari peradaban Barat atau kemodenan dengan yang baik dari warisan klassik atau peradaban Timur; antara keindonesiaan dan keislaman; antara ilmu pengetahuan umum dan moden dengan ilmu pengetahuan agama; antara bahasa Arab, Indonesia dengan bahasa Barat; antara semangat kebangsaan dengan semangat ummatisme; antara kepentingan keduniaan yang sah dengan matlamat di Akhirat. Kecendikiawan seperti ini adalah termasuk ciri-ciri keperibadian dan sikap Ulu al-Albab yang tergambar dalam 16 ayat al-Qur’an, ciri-ciri keseimbangan yang terbaik dan adil – al-wasatiyyah yang hakiki, bukannya kesederhanaan, atau wasatiyyah yang palsu yang sedang dipamerkan oleh sarjana-sarjana dan media-media Barat dan sekular.

Ketiga, kecendikiawanan yang tahu memberikan prioriti, keutamaan atau awlawiyyah dan proporsionaliti dalam mencari penyelesaian masalah-masalah semasa. Ia tahu membedakan antara yang pokok (usul) dan yang ranting (furu‘). Ia lebih bersifat “problem-solving” dari “solidarity-making” meminjam kategorisasi kecendikiawanan Indonesia yang dibuat oleh Herbert Feith. Ciri ini akan meletakkan kepentingan masyarakat, negara dan umat di atas kepentingan-kepentingan peribadi.

Keempat, kecendikiawanan yang sopan, santun, berakhlaq mulia dan berhikmah, tanpa menggadai kepentingan umat atau prinsip agama. Ia membela kebebasan orang lain atau agama lain untuk berbeza pandangan dan menentang penggunaan kekerasan sebagai penyelesaian masalah perbezaan perspektif atau pandangan hidup. Ketegasan berpegang kepada prinsip juga akan dibuat dengan beradab, tanpa kecenderungan egoisme atau rasa besar diri.

Kelima, kecendikiawanan yang berprinsip dan komited kepada perjuangan Islam, maslahah umat dan nilai-nilai tamaddun Islam, tanpa menutupi kemungkinan berlapang dada dan sedia berkerjasama dengan golongan yang berbeza agama atau pandangan hidup dalam hal-hal yang menyentuh kepentingan bersama atau kepentingan kemanusiaan yang universal.

Keenam, kecendikiawanan yang berjijak di bumi nyata tetapi berpandu kepada panduan Ilahi dan keupayaan akal yang mengetahui batas-batasnya.

Kecendikiwanan ini bukan bersifat “arm-chair” atau tertutup dari realitas kehidupan orang awam, dan menghindari dari sebarang kecenderungan untuk dikultuskan, kerana ia memberi khidmat semata-mata untuk kepentingan masyarakat, atas prinsip pengabdian (‘ubudiyyah) kepada Allah (S.W.T) dan mencari keridhaan Ilahi.

Ketujuh, kecendikiawanan bermutu tinggi yang mampu memimpin negara besar dan kompleks seperti Indonesia adalah suatu model yang langka tetapi amat diperlukan. Model kecendikiawanan seperti ini mungkin dapat memberi jawaban kepada persoalan yang maha penting, yakni manakah yang harus diutamakan oleh hamba-hamba Allah s.w.t yang hidup di atas sebahagian kecil dari bumi yang fana ini, “mengindonesiakan Islam” sebagaimana yang dikehendaki oleh sarjana-sarjana Barat atau “mengislamisasikan Indonesia” sebagai negara umat Islam terbesar di dunia yang telah mencapai kemerdekaannya dengan sumbangan besar pejuang-pejuang dan cendikiawan-cendikiawan Islam.

Seperti diketahui, Muhammad Natsir adalah satu model cendikiawan yang amat diperlukan dewasa ini. Pemikiran-pemikiran Muhammad Natsir yang telah dilontarkan sejak tahun 30-an masih tetap relevan dengan isu-isu besar yang ada di tengah-tengah umat Islam dewasa ini seperti Islam liberal, pluralisme, feminisme, hedonisme dan isu hubungan antara negara dan agama dalam perspektif Islam, demikian ungkap mantan rektor IIUM (1999-2006) tersebut yang pernah beberapa kali bertemu dengan Muhammad Natsir.*/Abdullah al-Mustofa, Kuala Lumpur, Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamMedia IslamNatsirold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islamic Book Fair, Seharusnya Bukan Sekedar Nama!
Tulisan selanjutnya Anggota Jamaah Al Islamiyah Diminta Pulang ke Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?