Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

‘Islamisasi’ dan ‘Arabisasi’ Nama di Jawa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juni 2015 15:29 3:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juni 2015 13:33
Bagikan
Fakta banyak orang Jawa menamai anaknya dengan nama Arab menunjukkan Islamisasi dan Arabisasi memang berjalin berkelindan satu sama lain, mustahil dipisah
Bagikan

Oleh: Adif Fahrizal

HARI Jum’at 29 Mei 2015 lalu, bertempat di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, berlangsung sebuah diskusi yang mengambil tema “Islamization in Java. Contemporary Etnographic and Quantitative Data on Arabic Names”.

Diskusi ini diawali dengan presentasi hasil penelitian kuantitatif oleh Joel C. Kuipers antropolog asal Universitas George Washington Amerika Serikat. Dalam presentasi ini Kuipers memaparkan hasil penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun tentang nama-nama berbahasa Arab di kalangan masyarakat Jawa. Dari penelitiannya ini banyak fakta menarik yang berhasil digali.

Nama sebagai Penanda

Penelitian mengenai nama ini dilakukan dalam rangka memahami proses Islamisasi yang berlangsung di tengah masyarakat Jawa selama satu abad terakhir. Mengapa nama menjadi obyek penelitian? Dan apa kaitan antara nama berbahasa Arab dengan Islamisasi?

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa perubahan atau pergeseran dalam hal pemberian nama sesungguhnya bisa mencerminkan perubahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Dalam kaitannya dengan Islamisasi, diasumsikan bahwa semakin meningkatnya pengaruh Islam di tengah masyarakat Jawa bisa dilihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan nama-nama Arab.

Mengapa demikian? Dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim di Jawa bahasa Arab erat kaitannya dengan aktivitas ibadah, bahasa Arab juga merupakan bahasa Al Qur`an. Dengan demikian menyandang nama yang diambil dari bahasa Arab identik dengan -setidaknya harapan- menjadi Muslim yang taat.

Nama-nama Arab di Tiga Daerah Jawa

Untuk mengeksplorasi penggunaan nama Arab di Jawa, Kuipers dibantu asistennya yang terdiri dari para peneliti lokal mengumpulkan data nama yang tercatat dalam database kependudukan di tiga daerah di Jawa yaitu Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta), Lamongan, dan Lumajang (keduanya di Jawa Timur). Ketiga daerah itu dipilih sebagai sampel untuk mewakili tiga area kebudayaan Jawa yaitu Mataraman (Bantul), Pasisiran (Lamongan), dan Brang Wetan (Lumajang).

Kuipers beserta timnya mengumpulkan data nama yang tercatat dalam kurun waktu satu abad lebih yaitu dari tahun 1900-2010. Tim Kuipers lalu mengklasifikasikan nama-nama yang diperoleh ke dalam enam kategori yaitu nama Jawa murni, nama Arab murni, nama Barat murni, nama Jawa campuran, nama Arab campuran, dan nama Barat campuran.

Berdasarkan data-data yang telah diklasifikasikan tersebut dapat dianalisis bagaimana pergeseran yang terjadi dalam pola pemberian nama di kalangan masyarakat di ketiga daerah itu selama satu abad terakhir.

Hasilnya, Kuipers menemukan fenomena yang sama di ketiga daerah yang diteliti yaitu semakin berkurangnya penggunaan nama-nama Jawa murni dan meningkatnya penggunaan nama-nama Arab -baik nama Arab murni maupun campuran- dari masa ke masa.

Di Bantul yang mewakili daerah Mataraman ditemukan bahwa sampai dekade 1980-an nama-nama Jawa murni masih mendominasi, sebaliknya nama-nama Arab murni hanya sedikit jumlahnya. Namun memasuki dekade 1980-an sampai 2000-an nama-nama Arab murni semakin banyak ditemukan sementara nama-nama Arab campuran -dengan nama Jawa, Barat, atau keduanya- perlahan-lahan menjadi nama yang paling banyak ditemukan pada periode tersebut. Sementara itu di Lamongan dan Lumajang nama-nama Arab -murni dan campuran- sudah banyak ditemukan sejak awal abad lalu, melebihi nama-nama Jawa murni.

Memasuki dasawarsa 1990-an-2000-an nama-nama Arab semakin jamak ditemukan di kedua daerah ini sedangkan nama-nama Jawa murni hanya tinggal sedikit sekali. Satu hal yang menarik bahwa di ketiga daerah yang diteliti nama-nama khas Jawa dengan awalan “Su-” (seperti Sumarno, Sunarto (untuk laki-laki) atau Sumarni dan Sunarti (untuk perempuan)) sudah hilang sama sekali pada dekade 2000-an. Padahal di Bantul pada dasawarsa 1950-an-1970-an nama-nama berawalan “Su-” sangat jamak ditemukan bahkan boleh dibilang menjadi nama yang dominan. Sebaliknya nama “Muhammad” semakin lazim dijumpai di ketiga daerah itu pada dekade 1980-an-2000-an.

Temuan lain dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan standarisasi nama yang digunakan. Nama “Muhammad” misalnya, pada dasawarsa 1980-an-1990-an makin banyak ditulis dengan ejaan “Muhammad” sementara pada periode-periode sebelumnya ada sejumlah variasi dari nama “Muhammad” antara lain “Mohammad”, “Mochammad”, “Mohamad”, “Mochamad”, “Mochamat”, atau disingkat “Moch.”, “Moh.”, dan “Much.”.

Demikian pula dengan nama “Aisyah”, pada akhir abad ke-20 dan awal abad ini semakin banyak ditulis dengan “Aisyah” atau bahkan “A’isyah” sementara makin mundur ke belakang penulisan nama “Aisyah” lebih bervariasi antara lain “Aisah”, “Ngaisah”, atau bahkan tertukar dengan “Asiyah”.

Di sisi lain ada pula kecenderungan meningkatnya hibridisasi nama Arab, yaitu pencampuran nama Arab dengan nama Jawa atau -dalam kuantitas yang lebih rendah- Barat atau campuran ketiganya (Arab, Jawa, dan Barat) di ketiga daerah dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Perlu pula dicatat bahwa sepanjang periode yang diteliti nama-nama Barat di tiga daerah tersebut selalu sangat jarang ditemukan.* (Bersambung)

Penulis adalah mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gajah Mada

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:arabisasiIslam NusantaraislamisasiJemaat Islam NusantaraJINMuhammadNamanusantarapribumisasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Yordania Tolak Pelancong Syiah Iran Wisata Ziarah ke Makam Sahabat Nabi
Tulisan selanjutnya ‘Islamisasi’ dan ‘Arabisasi’ Nama di Jawa [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Berita
2 September 2026 21:40
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?