Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Berdarah Tiga Negara, Remaja Malaysia ini Jadi Tukang Masak di Cirebon

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 Desember 2013 01:58 1:58 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 Desember 2013 01:58
Bagikan
Bagikan

“INDONESIA dan Malaysia Bagusnya Bergabung!”

Pernyataan di atas bukan dilontarkan Presiden Republik Indonesia, atau oleh Perdana Menteri Malaysia, atau seorang diplomat, tokoh agama maupun pengamat politik. Juga bukan hasil pertemuan pemimpin kedua negara.

Seruan tersebut setidaknya disetujui oleh Ahmad Fahrullah bin Muhammad Na’im. Dia belum begitu lama tinggal di Indonesia, di sebuah daerah yang cukup jauh dari ibukota negara, Jakarta. Fahrullah, panggilannya, bukan pengamat dunia internasional. Dia justru tak tertarik dengan politik.

Fahrullah adalah seorang santri di Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat. Meski baru setahun lebih nyantri, dia sudah merasa betah hidup di Indonesia. Salah satu yang membuatnya betah karena lingkungan pesantren yang terletak di Jalan Pangeran Cakra Buana, No. 179, Sendang, Sumber, Kabupaten Cirebon itu.

Remaja 15 tahun ini masuk ke Al-Bahjah pada 2011 lalu. Salah satu yang membuat dia kerasan di tempat ini, karena dia menilai pesantren di Indonesia lebih kondusif dibanding pesantren di Malaysia. Olehnya, dia berharap kedua negara saling bersinergi, bukan sebaliknya.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Meski lahir di Terengganu, 3 Juli 1998 silam, Fahrullah mengaku tidak punya garis keturunan dengan rumpun Melayu. Anak kedua dari pasangan Muhammad Na’im bin Muhammad Akib (42) dan Suraya binti Isa (32) ini berdarah tiga negara.

“Neneknya orangtua (dari) Kamboja, kawinnya sama orang lain, orang Cina. Terus bapaknya keturunan Vietnam, kawinnya sama orang Kamboja. Tapi keturunan Melayu nda ada. Keturunan Kamboja, Cina, Vietnam. Tapi sudah dikit lupa sih (bahasanya), lama nda dipakai,” jelas Fahrullah saat bincang-bincang dengan Hidayatullah.com di dapur umum kampus utama Al-Bahjah, Selasa, 8 Muharram 1435 H (12/11/2013) lalu.

Tak Sengaja

Di Al-Bahjah, remaja ini ditemani kakak sulungnya, Ahmad Duzuki, 16 tahun. Kehadiran mereka berdua di pesantren milik Yahya Zainul Maarif, atau dikenal Buya Yahya itu atas perintah ayahnya. Uniknya, dipilihnya pesantren tersebut bisa dibilang tidak sengaja.

Ayahnya, tutur Fahrullah, saat itu hendak mencari pesantren yang cocok buat anak-anaknya. Bermaksud mencari “Buya Hamka” –tokoh Muslim di Indonesia yang cukup populer–, Na’im pun mengetik kata kunci “Buya” di internet. Namun yang muncul justru “Buya Yahya”.

“Ayahnya (ayah Fahrullah. Red) nyari di internet itu mau nyari Buya Hamka. Terus keluar ‘Buya Yahya’. Langsung  (ayah) ke sini. Seminggu ke sini, pulang, langsung bikin paspor, bikin visa (buat kami),” kenangnya di sela-sela mengupas bawang dan memotong tempe.

Sepanjang obrolan dengan media ini, Fahrullah kerap menggunakan imbuhan “nya” sebagai kata ganti kepunyaan “aku”. Seperti jika hendak mengatakan “ayahku”, dia menyebut “ayahnya”.

Yang menarik lagi, meski jauh-jauh datang dari Malaysia, Fahrullah bukannya belajar layaknya pesantren lain yang dijejali materi bejibun. Di awal-awal, dia memang santri biasa yang rutinitas utamanya belajar.

Namun enam bulan belakangan ini, Fahrullah mendapat tugas khusus yang disebut Santri Khos. Santri Khos ini menempati berbagai unit usaha Al-Bahjah. Mulai minimarket, radio, tim dakwah, sosial dan sebagainya. Sementara Fahrullah kebagian tugas sebagai tukang masak di dapur.

Meski begitu, orangtuanya tidak mempermasalahkan. Salah satu pesan orangtuanya yang paling dia pegang adalah amanat belajar.

“Ya disuruh belajar. Tapi di sini kan lambat ya belajarnya, saya milihnya ikut Khidmat. Katanya Mama nda pa-pa (ikut) Khidmat, tapi kan tetap belajar,” ujar remaja berkulit putih dan bermata agak sipit ini.

Khidmat merupakan istilah dalam bahasa Arab yang berarti bantuan, atau yang memberi pelayanan. Dengan adanya Khidmat inilah Fahrullah justru merasa berkesan mondok di Al-Bahjah. Berbeda dengan pesantren lain yang menurutnya lebih banyak belajarnya daripada kerjanya.

Belajar Tiga Jam

Rutinitas Fahrullah sepanjang pagi hingga siang dan sore tak hanya mengurusi konsumsi. Dia berada di dapur mulai pukul 9.00 WIB. Menyiapkan rempah-rempah, memasak nasi, lauk-pauk dan sebagainya untuk dimakan ratusan santri Al-Bahjah, putra dan putri. Menu yang dibuat pada pagi hari disiapkan untuk sarapan dan santap siang.

Saat senggang, Fahrullah kerap disuruh mengerjakan pekerjaan lain di luar dapur, semisal ke bengkel memperbaiki sepeda motor, atau memberi makan ternak. Semua itu tidak dikerjakan sendiri, dia ditemani Khidmat-khidmat santri putra lainnya. Lantas kapan belajarnya?

“Siangnya ya istirahat sampai Ashar. Asharnya nyambung lagi (siapin) makan seperti itu. Terus malamnya baru belajar, jam 9. Nanti kalau mau ngambil tambahan ya ba’da (setelah) Maghrib langsung belajar sampai Isya’. Terus kalau belajar selanjutnya sampai jam 9, (terus) sampai jam 11,” tutur Warga Negara Asing (WNA) yang cukup lancar berbahasa Indonesia “pasaran” ini, meski kadang agak ribet memahaminya.

Salah satu aturan di Al-Bahjah, para santri diharuskan berbahasa Arab dalam keseharian. Bagi santri baru, diberi waktu tiga bulan untuk beradaptasi. Begitu pula terhadap Fahrullah. Di awal-awal mondok dia masih menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Tanah Air ini dia pelajari saat masih di Malaysia.

“Sebenarnya, di sana (Malaysia) kan ada film-filmnya Indonesia, jadi belajar (sampai) bisa gitu. Ya prioritasnya ngomong (bahasa Indonesia) itu dulu,” ungkapnya.

Untuk menguasai bahasa Arab pun, dia mengaku tak kesulitan. Waktu adaptasi yang ditetapkan pondok mampu dimaksimalkan.

“Kalau santri masuk ke sini Insya Allah tiga bulan udah bisa ngomong (bahasa Arab). Kan denger-denger terus gitu, jadi, Alhamdulillah (bisa),” lanjutnya.

Fahrullah pun mengaku sering kena hukuman karena melanggar. Hukuman ini di pondok tersebut biasa disebut ta’zir.

“Yang parahnya dibotak, (sudah) tiga kali. (Gara-gara) tidur di masjid dulu. Sekarang sudah boleh,” kenangnya sembari tertawa.* Bersambung

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya YahyaIndonesia-MalaysiaPesantren Al-BahjahsantriWNA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lagi, Terungkap Kasus Pemurtadan Berkedok Pernikahan di Cirebon
Tulisan selanjutnya GAPAS Cirebon Panen Aduan Kasus Pemurtadan Berkedok Pernikahan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?