Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Mendirikan Pesantren di Tengah Hutan: Tak Minggir karena Cibiran

Bambang S
Terakhir diupdate: 30 November 2015 15:41 3:41 pm
Bambang S
Dipublikasikan 30 November 2015 15:41
Bagikan
Saharuddin bersama para santrinya
Bagikan

TURUN dari perahu yang mengantarkannya ke Pulau Longos, Kampung Baru, Desa Nanga Kantor Barat, Kec. Macang Pacar, Manggarai Barat, NTT, Saharuddin langsung disambut oleh beberapa tokoh pemerintah, agama dan ratusan warga sekitar dengan berposisi baris memanjang rapi.

Bak pahlawan yang tengah dinanti-nanti kedatangannya, masyarakat menyambutnya dengan begitu hangat. Senyum semeringah memancar dari kedua pipi mereka masing-masing. Di lain pihak, sembari melangkahkan kakinya dan menyalami masyarakat yang menyambut kedatangannya,  pikiran Saharuddin tengah terusik dengan  kondisi alam yang ada di hadapannya.

Betapa tidak, yang nampak adalah hutan belantara. Pohon-pohon asam berukuran besar dan semak belukar memadati kawasan itu. Yang lapang, hanya lokasi acara peletakkan batu pertama pesantren, yang dilaksanakan pada hari itu. Tidak ada arus listrik PLN. Letak permukiman pendudukpun masih ratusan meter jaraknya.  Itulah lokasi yang akan dirintis menjadi pesantren.

“Saya sangat kaget, kalau lokasi yang akan dirintis pesantren seperti itu. Makanya sempat bengong. Pikir saya; listriknya ada dan dekat di permukiman penduduk, seperti di pulau tempat tinggal saya di Madura,” jelasnya.

Meski demikian, Sahar, panggilan akrabnya, mengaku semangatnya untuk berjuang tidak lantas pudar dengan tantangan alam yang dihadapinya. Mengenang pengorbanan dan perjuangan para dai Hidayatullah tempo dulu yang merintis diberbagai tempat menjadi inspirasinya untuk terus semangat dalam meniti jalan dakwah.

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

“Saya memang paling gemar membaca kisah-kisah perjuangan dai Hidayatullah, khususnya yang ada di rubrik majalah Suara Hidayatullah. Merekalah yang banyak menginspirasi saya,” tambahnya.

Terlebih ia melihat harapan masyarakat yang begitu  tinggi untuk mendirikan madrasah aliyah di tempat tinggal mereka. Maklum, di pulau itu belum berdiri sekolah menengah atas terutama berbasis Islam. Tak ayal, para pelajar yang berhasrat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya harus menyeberang ke pulau sebelah yang tentu saja memakan banyak waktu dan biaya.

Inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat berinisiatif mendirikan pesantren ataupun madrasah. Hidayatullah kemudian dipercaya untuk mengemban amanah itu. Sebidang tanah yang luasnya berkisar satu hektare setengah diwakafkan oleh seorang muwakif untuk dimanfaatkan. Tanah inilah yang diamanahkan kepada lajang asal Madura ini untuk dikelola dan dikembangkan menjadi madrasah sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat.

Menebangi Kayu Hutan

Tidak lama dari acara peletakkan batu pertama, Sahar dan beberapa tokoh serta perwakilan dari masyarakat mengadakan rapat koordinasi. Dari situ, diambillah keputusan bahwa perintisan akan segera dimulai. Langkah awalnya, menebangi pohon-pohon besar di hutan yang akan dijadikan bahan bangunan.

Dari pagi sampai menjelang ashar, bersama sebagian masyarakat, pemuda kelahiran 1989 ini merobohkan pohon-pohon besar di hutan dengan menggunakan mesin pemotong pohon kemudian membelah menjadi papan dan sebagainya untuk siap guna. Ini berjalan hingga tiga bulan.

Lazimnya para perintis yang berjibaku untuk kelanjutan lembaganya, Sahar mengaku mendapati kesulitan serupa. Di tengah proses pembangunan pesantren, ada saja oknum yang mencoba mengendurkan tekadnya untuk mendirikan pesantren. Mereka mencibir, sekolah yang tengah dirintis itu dijamin tidak akan jadi. Dan memang minimnya dukungan finansial, beberapa kali menyebabkan proyek pembangunan lokal berjalan di tempat untuk beberapa saat.

“Terutama ketika telah mendekati akhir tahun ajaran, cibiran semakin terasa karena anak-anak sudah mau lulusan, tapi sekolah belum rampung,” jelasnya.*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daidakwahdakwah pedalamanHidayatullahPulau Longos
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pasukan Penjajah Israel Hancurkan Rumah Dua Warga Palestina
Tulisan selanjutnya Saudi Beri Penampungan 1 Juta Warga Yaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?