Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Sekampung Dihukum Gara-gara Siarkan Video Gigit Zionis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Desember 2015 06:43 6:43 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Desember 2015 06:43
Bagikan
Aksi gadis Palestina menggigit tangan tentara Zionis guna menyelamatkan saudaranya dari tangkapan tentara Israel
Bagikan

Hidayatullah.com–Desa Nabi Saleh di Tepi Barat menerima hukuman akibat sebuah video yang memperlihatkan kekejaman penjajah Zionis beredar luas. Yakni, video yang memperlihatkan wanita paruh baya dan seorang anak perempuan dengan berani menghalangi serdadu Zionis yang akan menangkap seorang bocah lelaki. Serdadu Zionis yang memakai topeng dan bersenjata itu mencekik dan menjepit bocah lelaki itu di batu besar pada 28 Agustus lalu. Terlihat lengan bocah lelaki itu dibalut perban.

Bocah lelaki itu bernama Abu Yazan Tamimi (10), putra bungsu dari Bassem Tamimi. Para wanita yang membelanya adalah ibunya, Nariman Tamimi, dan kakak perempuannya, Ahed Tamimi, serta bibinya, Manal Tamimi. Dua hari sebelum insiden tersebut, Abu Yazan Tamimi menderita patah lengan akibat penggerebekan yang dilakukan Zionis di desanya. Karena itulah, tangannya terlihat dibalut perban. [ [Video]: Aksi Heroik Gadis Palestina Gigit Lengan Tentara IDF Membuat Zionis Lari]

Ketika publik dunia mengecam tindakan serdadu Zionis, para politisi Zionis justru membela tindakan para serdadunya. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa si serdadu seharusnya bertindak lebih kejam lagi. Miri Regev, Menteri Kebudayaan Zionis, mengatakan bahwa si serdadu seharusnya menembak para penyelamat bocah lelaki yang tak bersenjata itu.

Sejak insiden tersebut, tentara Zionis telah menangkap sejumlah pemuda dari desa Nabi Saleh dan membuat mereka menjalani masa interogasi yang panjang, serta memperlakukan mereka dengan kejam. Kini ada sekitar 17 orang yang dijebloskan ke penjara, termasuk Waed Tamimi (19), abang Abu Yazan Tamimi. Waed ditangkap bersama sepupunya Anan (20) dalam penggerebekan malam 19 Oktober lalu di rumah orangtua Waed, Nariman dan Bassem Tamimi.

Di malam yang sama, tentara Zionis juga menangkap empat pemuda lainnya, termasuk Louay Tamimi. Adik Louay, Mustafa, tewas pada Desember 2011 saat serdadu Zionis menembakkan tabung gas airmata berkecepatan tinggi ke kepalanya dari jarak satu meter. Bassem Tamimi, yang sedang kuliah di Amerika Serikat saat anaknya ditangkap, telah ditahan belasan kali. Ia juga disiksa dan menghabiskan tiga tahun di penjara tanpa kepastian hukum.

Baca Juga

Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah

Melawan Tanpa Senjata

Bassem dan sepupunya Naji, ayahanda Anan, dikenal sebagai pembela HAM oleh Uni Eropa. Keduanya mengkoordinir aktivitas perlawanan tanpa senjata desa mereka. Penduduk Nabi Saleh tak tinggal diam menyaksikan para pemukim ilegal Yahudi merampas tanah dan menutup saluran air bersih mereka. Mereka melakukan demonstrasi pekanan dengan penuh semangat selama enam tahun karena menuntut diakhirinya penjajahan.

Dalam perspektif penjajah Zionis, warga desa Nabi Saleh telah melanggar Peraturan Militer 101 ‘Israel’, yang mengkriminalisasi keikutsertaan dalam aksi protes, rapat dan berjaga-jaga, mengibarkan bendera, serta menyebarkan muatan politik. Upaya-upaya untuk memengaruhi pendapat publik dilarang karena dianggap sebagai “hasutan politik”. Bagi penduduk Nabi Saleh, peraturan militer seperti itu sangat tidak adil. Dalam persidangannya pada Juni 2011 karena mengorganisir demonstrasi, Bassem Tamimi mengatakan pada pengadilan:

“Kalian berupaya menempatkan saya di bawah hukum militer yang tak punya legitimasi apapun; hukum yang ditetapkan oleh otoritas yang tidak saya pilih dan tidak mewakili saya. Saya dituduh mengorganisir demonstrasi sipil yang damai dan tak memiliki aspek militer, serta sah berdasarkan hukum internasional. Kami berhak untuk mengekspresikan penolakan atas penjajahan dalam segala bentuknya; memperjuangkan kemerdekaan kami dan martabat sebagai bangsa, mencari keadilan dan perdamaian di tanah air kami demi melindungi anak-anak kami, serta menjamin masa depan mereka,” dikutip Sahabat Al-Aqsha dari Electronic Intifada.

Warga ‘Israel’ dan para relawan internasional seringkali ikut serta dalam demonstrasi mingguan di Nabi Saleh, serta menghadapi para serdadu Zionis yang melemparkan granat kejut, gas airmata, menyemprotkan air berbau busuk, menembakkan peluru baja berlapis karet dan amunisi tajam. Dari tahun ke tahun, sebanyak 200 warga desa dari seluruh populasi yang hanya lebih dari 500 orang ditahan penjajah. Seluruhnya dari marga Tamimi. Keluarga besar Tamimi di desa Nabi Saleh memang terkenal pemberani, terutama keluarga Bassem.

Dinyatakan Bersalah

Pada aksi demo 28 Agustus lalu, tentara Zionis menangkap keponakan Bassem, Mahmoud (19). Vittorio Fera, seorang relawan Itali juga turut ditangkap. Namun, pengadilan sipil Zionis dengan cepat membebaskan Fera dari tuntutan melempar batu dan tuduhan lainnya. Mahmoud –yang menghadapi tuntutan serupa di sistem pengadilan militer Zionis– harus mendekam berbulan-bulan di penjara Ofer, Tepi Barat, tanpa diadili.

Pemuda Palestina dari desa Nabi Saleh, Tepi Barat, saat diadili di pengadilan militer Ofer
Pemuda Palestina dari desa Nabi Saleh, Tepi Barat, saat diadili di pengadilan militer Ofer pada 21 Desember. Foto: Oren Ziv/ActivStills

Bagi warga Palestina termasuk anak-anak, tak ada asas praduga tak bersalah dan sedikit kemungkinan dibebaskan dari tuduhan. Tak heran, mereka yang diputus bersalah di pengadilan militer mencapai 99.74 persen. Sejumlah tawanan juga dijatuhi penahanan administratif, yakni para tawanan akan dipenjara tanpa dakwaan atau pengadilan, dan tanpa diberitahu bukti apa yang membuat penjajah Zionis menawan mereka.

Tujuh belas pemuda dari Nabi Saleh mendekam di penjara-penjara militer –dimana keluarga mereka tidak bisa mengunjungi mereka atau bahkan sekadar mengirimi mereka pakaian musim dingin– karena seseorang dari desa tersebut diintimidasi untuk mengatakan siapa yang mereka lihat melempar batu.

Dua pemuda yang ditahan pada 9 Desember kini telah dibebaskan, tapi keluarga-keluarga di Nabi Saleh khawatir akan ada penangkapan lagi. Penjajah Zionis muncul dengan tekad akan melakukan segalanya demi bisa menjatuhkan hukuman kolektif terhadap desa yang menjadi simbol perlawanan penjajahan militer yang hampir setengah abad itu.

Sementara itu, Bassem Tamimi heran mengapa masyarakat internasional tak mengambil langkah serius terhadap penindasan tanpa henti Zionis. “Diamnya dunia lebih buruk dari apa yang dilakukan para penjajah,” katanya. “Kami tidak bisa memahami kebisuan ini, karena perjuangan kami untuk kemanusiaan dan dunia seharusnya peduli tentang hak asasi manusia.” *

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahed Tamimigigit zionisIDFpalestinatentara IsraelTepi BaratZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menjelang Natal Wilayah Selatan Amerika Serikat Dihantam Badai
Tulisan selanjutnya Musibah Kebakaran di Sebuah Rumah Sakit Saudi, 31 Meninggal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional

31 Maret 2026 09:08
Palestina Terkini

Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

17 Februari 2026 14:18
Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?