Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Al-Quran Datang untuk Meringankan, Bukan Memberatkan Manusia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Desember 2015 05:45 5:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Desember 2015 05:45
Bagikan
Seakan terinspirasi, penumpang pria ini baca al-Qur'an juga. [Foto: Syakur]
Bagikan

Dikisahkan bahwa orang-orang Yahudi berkata: Apakah kalian tidak heran dengan perbuatan Nabi Muhammad? Ia menyuruh sahabatnya dengan suatu urusan lalu ia juga yang melarang untuk dikerjakan. Setelah itu, dia menyuruh kembali sahabatnya dengan perintah lain yang sebaliknya.

Nabi berkata dengan suatu ucapan pada hari ini dan ia menghapusnya di keesokan harinya. Tidaklah al-Quran itu kecuali ucapan Muhammad yang dikeluarkan seenaknya saja. Ucapan yang saling bertolak belakang. (Lihat tafsir al-Kasysyaf, az-Zamakhsyari)

Ayat ini lalu turun menyanggah sangkaan buruk orang Yahudi tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) berfirman:

ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير

“Ayat mana saja  yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (Surah al-Baqarah [2]: 106).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Menilik sabab nuzul ayat, ayat ini termasuk yang biasa jadi “batu loncatan” kaum liberal untuk menyerang al-Quran sebagai sesuatu yang tidak suci alias hanya sebagai produk budaya manusia (muntaj tsaqafi).

Secara khusus, Mufassir Muhammad Ali ash-Shabuni membantah anggapan orang-orang yang keliru dalam memahami ayat di atas.

Hal itu dijelaskan lebih jauh dengan sub judul Lathaif at-Tafsir (kehalusan tafsir) dalam karyanya “Ayat al-Ahkam min al-Quran” (Cetakan Dar ash-Shabuni, Kairo: 2007, cetakan kesatu).

Berikut penjelasannya:

Pertama, Allah menyebut nasakh (penghapusan) di dalam al-Quran sekaligus hikmah di balik perkara tersebut. Yaitu menghadirkan sesuatu yang lebih baik bagi urusan hamba-hamba-Nya.

Kabar nasakh itu setidaknya mengandung dua hal. Apa yang lebih ringan untuk manusia dari sisi hukum atau apa yang lebih baik buat manusia dari urusan dunia dan agama.

Imam al-Qurthubi berkata, urusan yang kedua lebih utama. Sebab Allah mengatur seorang mukallaf dengan apa yang bermaslahat padanya. Bukan semata karena pertimbangan berat atau ringan dan disesuaikan dengan tabiat manusia.

Terkadang ada hukum yang diubah justru kepada sesuatu yang lebih memberatkan. Misalnya, menasakh puasa Asyura menjadi kewajiban puasa Ramadhan sebulan penuh, tentunya hal itu untuk maslahat hamba itu sendiri.

Dengan ibadah puasa Ramadhan, manusia lalu mendapatkan ganjaran pahala yang lebih banyak.

Kedua, sebagian ulama menolak kata “nunsiha” (Kami jadikan (manusia) lupa) untuk dimaknai sebagai derivasi (turunan kata) dari “nisyan” atau lupa, lawan daripada mengingat.

Sebab hal itu tidak mungkin terjadi pada Nabi Muhammad Shallallahu alaih wasallam (Saw) di mana Allah telah membacakan ayat-ayat al-Quran dan tidak mungkin dilupa.

Allah berfirman;

سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى

“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa.” (Surah al-A’la [87]: 6).

Ali ash-Shabuni lalu mengutip penjelasan Ibn al-Athiyyah al-Andalusi tentang persoalan di atas. Menurut Ibn al-Athiyyah, kelupaan seorang Nabi ketika itu menjadi ketetapan takdir Allah merupakan hal wajar untuk terjadi, baik secara akal ataupun syara’.

Sedang kelupaan Nabi Muhammad sebagai bentuk kelalaian yang menyebabkan agama ini rusak maka Nabi terjaga (makshum) dari hal tersebut.

Ketiga, firman Allah; “Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.”

Lafadz “khairiyah” di sini bermaksud sebagai sesuatu yang lebih baik(afdhaliyah).  Yaitu kemudahan (suhulah) dan keringanan (khiffah).

Ia tidak diartikan afdhaliyah dari sisi tilawah atau bacaan. Sebab semuanya berasal dari Allah sebagai firman-Nya, tidak ada perbedaan dalam hal tersebut. Di mana seluruh ayat-ayat Allah adalah mukjizat secara mutlak.

Al-Qurthubi menambahkan, lafadz “khair”menunjukkan sifat unggul dan afdhal. Artinya, ayat tersebut diganti dengan urusan yang lebih bermanfaat bagi manusia. Baik dalam urusan dunia jika yang menggantinya itu lebih ringan ataupun urusan Akhirat sekiranya yang menasakh itu dianggap lebih berat dari sebelumnya.

Termasuk yang sebanding dengannya jika penggantinya itu setara dengan sebelumnya. Sekali lagi, ia bukan untuk dibandingkan atau ada ayat yang lebih baik antara satu dengan lain.

Senada Abu Bakar al-Jasshash menambahkan, lafadz “bi khairin minha” dimaksudkan untuk memudahkan (taysir).

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dan Qatadah. Menurut al-Jasshash, tidak ada seorangpun di antara para ulama yang mengartikan dengan lebih afdhal dalam hal bacaan.

Sebab seorang Muslim tidak boleh mengatakan bahwa ada ayat tertentu yang lebih baik daripada ayat selainnya dalam hal tilawah atau bacaan. Semuanya adalah mukjizat dan kalamullah.

Keempat, sebagai penutup, Ali ash-Shabuni menyimpulkan, jika dalam proses kehidupan manusia perubahan atau penghapusan suatu hukum dan keadaan adalah mutlak terjadi.

Bagaimana mungkin ada manusia yang mengingkari adanya perubahan tersebut yang kaitannya dengan agama dan umat. Sedang hal itu diyakini untuk sebuah hal yang lebih baik.

Sebab Allah Yang Maha Mengetahui sendiri yang langsung menasakh ayat-Nya. Mahasuci Allah dengan segala nama-Nya yang baik dan sifat-Nya yang tinggi.*/Masykur Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-Quranhukummanusianasakh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Luncurkan 5 Buku Baru, Adian Husaini Akan Diskusi Keliling Indonesia
Tulisan selanjutnya Pungutan Dana Ketahanan Energi 200 Rupiah Dari Pembelian Bensin Dinilai Ngawur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?