Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Paman Bob dan Nepos Sang Keponakan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Oktober 2023 19:14 7:14 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Oktober 2023 13:30
Bagikan
Bagikan

Masyarakat Inggris menyebutkan seseorang yang jabatannya meroket karena didongkrak anggota keluarganya yang  berkuasa, mereka  gunakan frasa “Bob’s your uncle”

Oleh: Akmal Nasery Basral

Hidayatullah.com | PAUS Kalistus (Callixtus) III lahir pada 1378 dengan nama Alfonso de Borgia. Ejaan lainnya “Borja”. Dia adalah Bapa Suci umat Katolik selama 3 tahun 120 hari (1455 -1458) sampai kematiannya tiba.

Karier awalnya sebagai pengajar ilmu hukum di Universitas Lleida, Catalonia, sampai menjadi guru besar. Kecerdasan dan karismanya memikat Kerajaan Aragon era Alfonso V Sang Pemurah (The Magnanimous) yang menjadikannya sebagai diplomat.

Saat itu Raja Alfonso sedang tidak akur dengan Paus Martinus V (1417 -1431). Borgia dengan kepiawaian diplomasi dan pengetahuan ilmu hukum yang abad pertengahan yang mumpuni, mampu menjembatani kedua tokoh untuk rekonsiliasi.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Takhta Suci Vatikan yang berterima kasih memberinya predikat dan jabatan terhormat sebagai Uskup Valencia. Karier Borgia moncer.

Dia diangkat sebagai kardinal pada masa Paus Eugenius IV (1431 – 1447). Setelah masa jabatan dua orang Paus berikutnya (Felix V dan Nicolaus V), garis nasib mengantarkan Borgia menjadi Paus ke-209 sekaligus Paus pertama asal Spanyol.

Baru tujuh bulan menjabat Paus Kalistus III, dia perintahkan pengadilan ulang anumerta terhadap dara heroik Jeanne d’Arc (Joan of Arc) yang dihukum mati penguasa Prancis dengan tuduhan mempraktikkan sihir, menyebarkan pemikiran sesat,  dan berpakaian seperti lelaki laknat.

Jeanne dibakar di tiang pancang di Alun-Alun kota Rouen, Prancis, disaksikan 10.000 warga yang tak mampu membelanya. Umur Jeanne baru 19 saat nyawanya lepas. 

Pengadilan ulang yang diperintahkan Paus Kalistus III dimulai November 1455 di Katedral Notre Dame, Paris, dan selesai delapan bulan kemudian, Juli 1456, di Katedral Rouen.

Ada 115 saksi yang dihadirkan.  Hasil akhirnya:  pengadilan Jeanne sebelumnya dinyatakan ngawur. Jeanne tidak bersalah, nama baiknya dipulihkan oleh Paus Kalistus III.

Itu baru sebagian prestasi gemilang Borgia. Daftar kehebatannya masih panjang sehingga membuat salah seorang sejarawan terpenting Gereja Katolik asal Jerman, Ludwig von Pastor, penulis buku History of The Popes (1891) yang enam kali dinominasikan sebagai penerima Nobel Sastra, menyimpulkan bahwa “Kecuali untuk praktik nepotisme yang dilakukannya, Paus Kalistus III patut mendapat pujian tinggi, terutama atas energi, keteguhan dan tujuan yang ditunjukkannya dalam melindungi peradaban Barat … memberikan teladan luar biasa kepada dunia Kristen … dan tidak mengabaikan urusan internal Gereja.”

Tetapi kenapa ada frasa ‘kecuali untuk praktik nepotisme yang dilakukannya’? yang digunakan von Pastor, jika Paus Kalistus III sehebat pujiannya?

Selidik punya selidik, rekam jejak Paus Kalistus III menunjukkan dia pernah mengangkat dua orang keponakannya sebagai kardinal saat dia menjadi Paus. Keduanya adalah  Luis de Milà  y de Borgia (sebagai Kardinal Segorbe-Castellón, Spanyol) dan Rodrigo de Borgia (sebagai Kardinal Valencia).

Rodrigo belakangan menjadi Paus Alexander VI (1492 -1503). Praktik nepotisme keluarga Borgia terus berlanjut ke generasi selanjutnya,  melibatkan sejumlah nama kardinal dan Paus pula.

Namun karena tulisan ini bukan untuk mengupas sejarah kepausan melainkan hanya sebagai ilustrasi penjelas, maka contoh keterkaitan hubungan antara Paus Kalistus III sebagai paman dan Luis de Mila serta Rodrigo de Borgia sebagai keponakan sudah mencukupi.

Dalam praktik di Vatikan, Paus Kalistus III bukan yang pertama kali melakukan nepotisme. Ada sebutan khusus untuk itu, yakni ‘kardinal-keponakan’ (Latin: cardinalis nepos, Italia: cardinale nipote).

Ini sudah lazim dilakukan Takhta Suci sejak abad ke-5 Masehi. Penyebab utama terjadinya ‘kardinal-keponakan’ adalah karena para Bapa Suci (Paus) tidak menikah. Mereka  tidak punya anak kandung, sehingga memilih anak-anak saudara mereka (keponakan) untuk melanjutkan dan melestarikan jabatan yang sudah di tangan.

Praktik ini dilarang Gereja Katolik pada 1692. Salah satu faktor penyebabnya adalah buku sejarawan Italia Gregorio Leti, terbit pada 1667, dengan judul Nepotisme Kepausan, atau Kaitan Sebenarnya dari Alasan-Alasan yang Mendorong Paus untuk Menjadikan Keponakannya Berkuasa (Il Nipotismo di Roma, o vero relatione delle ragioni che muovono i Pontefici all’aggrandimento de’ Nipoti).

Leti terkenal pada masanya sebagai seorang penulis bergaya satir. Lucu tapi nyelekit.  Bahkan dia punya julukan “Satiris dari Milan”.  Sejarawan gereja Salvator Miranda menyebutkan praktik ‘kardinal-keponakan’ dilakukan sedikitnya oleh 15 – 19 Paus sebelum dilarang. 

Kata Latin ‘nepos’  diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘nepotism’. Kamus Oxford tahun 1669 menjadi dokumentasi tertulis pertama yang mengabadikannya.

Sejak itu, kata nepotisme tak hanya digunakan dalam lingkup Gereja Katolik, melainkan untuk fenomena serupa dalam berbagai bidang kehidupan yang lebih luas. Dari politik, olahraga, sampai dunia hiburan.

Sejarawan dan pendeta Gereja Anglikan Inggris, William Owen Chadwick, dalam bukunya The Popes and European Revolution (1981) menyimpulkan  bahwa “nepotisme merupakan ciri umum dalam pemerintahan, khususnya di mana identitas dan kesetiaan lebih ditentukan di tingkat keluarga dibandingkan di tingkat negara-bangsa.”

Artinya, kepentingan mendahulukan kepentingan keluarga ditempatkan di atas kepentingan negara-bangsa menjadi ciri khas para nepotis–penjunjung tinggi hasrat nepotisme yang meledak-ledak.

Dalam kosa kata sehari-hari di Inggris dan negara-negara anggota Persemakmuran, ada ungkapan “Bob’s your uncle” yang digunakan untuk menggambarkan nepotisme.  Syahdan, istilah ini muncul ketika Perdana Menteri Robert (“Bob”) Gascoyne Cecil pada masa jabatannya (1895 – 1902) menunjuk keponakannya Arthur James Balfour sebagai Sekretaris Utama Irlandia, sehingga melempangkan jalan bagi Balfour sang keponakan menduduki kursi Perdana Menteri Inggris periode berikutnya (1902 – 1905) yang ditinggalkan pamannya.

Sejak itulah jika masyarakat Inggris menyebutkan seseorang yang jabatannya meroket karena didongkrak anggota keluarganya yang  berkuasa, mereka  gunakan frasa “Bob’s your uncle”.

Jika nepotisme mengacu pada adanya hubungan keluarga dalam sebuah lingkar jabatan, maka jika tak terkait hubungan darah — hanya pertemanan/pergaulan–sebutannya adalah  koncoisme (cronysm).

Ada dua versi tentang muasal kata ini. Pertama dari bahasa Irlandia ‘comh-roghna’ yang berarti ‘teman dekat’. Kedua, dari bahasa Yunani chronios yang bermakna ‘jangka panjang’.

Mungkin juga cronysm memiliki makna gabungan kedua arti di atas sebagai ‘teman dekat yang (memberikan manfaat) jangka panjang’.

Cronysm, atau koncoisme, adalah salah satu perusak utama prinsip meritokrasi, yang mengharuskan seseorang mendapatkan jabatan karena prestasi yang relevan.  Bukan tersebab dia kawan dari seseorang yang sedang berkuasa.

Dua orang akademisi ilmu sosial dan peneliti politik Universitas Santa Clara, Judi Nadler dan Miriam Schulman, dalam buku mereka Favoritism, Cronysm, and Nepotism (2006) menyatakan bahwa “secara politik, koncoisme sebenarnya adalah penghinaan dalam bentuk praktik jual beli bantuan, seperti jumlah suara di legislatif, atau bantuan tertentu secara kelembagaan, atau memberikan jabatan duta besar yang diinginkan bagi penempatan di tempat-tempat eksotik yang diinginkan.”

Filsuf dan pujangga klasik India Thiruvalluvar –kadang disebut Valluvar saja— yang hidup pada 5 – 4 SM, dalam adikaryanya Tirukkural (Tamil: “ayat-ayat suci”) mendedah kaitan etika dan cinta dalam bingkai politik dan ekonomi dalam berkuplet-kuplet sajak.

Salah satu bagian yang menyoroti tentang nepotisme adalah cuplikan tulisannya berikut ini;

“Jika Anda memilih orang yang tidak cocok untuk sebuah pekerjaan, hanya karena Anda mencintai dan menyukainya, maka dia akan membawa Anda pada kebodohan yang tak akan ada habisnya.”

Pesan Valluvar tak pernah kedaluwarsa, selama masih ada ‘Paman Bob dan Nepos Sang Keponakan’ yang muncul silih berganti di pelbagai negara. Selama itu pula asas suci meritokrasi tercemar racun  tamak kuasa dari keluarga-keluarga digdaya yang piawai mengakali dengan segala cara.*/ Cibubur, 17 Oktober 2023

Penulis penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 bidang Sastrawan/Budayawan Nasional dan National Writer’s Award 2021, mantan redaktur kompartemen luar negeri majalah berita Gatra dan Tempo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bob’s your uncleHeadlineinggriskekuasaan keluargakknkronineposNepotismepaman bon
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bekas Kepala Bank of China Ditangkap dengan Tuduhan Korupsi
Tulisan selanjutnya Komandan Batalyon 75 ‘Israel’ Letnan Amti Zvi Granot Tewas akibat Tembakan Anti-Tank

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’

Berita
29 Agustus 2026 19:05
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?