Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Akankah Sejarah Berulang Menimpa Kaum Yahudi?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Oktober 2023 15:20 3:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Oktober 2023 15:30
Bagikan
Pengusiran warga Palestina setelah pendirian 'negara palsu israel' tahun 1948
Bagikan

Bangsa Yahudi hanya datang bertamu di Palestina, sang tamu kemudian mengusir tuan rumah, sekaligus mengklaim bahwa rumah yang mereka rampas tersebut miliknya, itulah sejarahnya

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | HASAN KLEIB, pemateri sentral dalam acara jumpa pers yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) tujuh tahun lalu, tepatnya pada Kamis, 3 Maret 2016 siang di Jakarta, datang terlambat. Laki-laki tegap dengan rambut tipis itu berjalan cepat menuju kursi tengah di barisan meja pemateri.

Begitu duduk, Hasan langsung dipersilahkan oleh sang moderator untuk memulai pemaparannya. Hampir seratus wartawan dari dalam dan luar negeri yang diundang oleh kantor Kemenkominfo siang itu telah lama menanti kehadiran Direktur Jenderal Multilateral Kementrian Luar Negeri RI  tersebut, termasuk saya.

Sedang sang tuan rumah, Ismail Cawidu, Kepala Humas Kemenkominfo, telah lebih dulu duduk di kursi di sebelah kanan Hasan. Namun, dia belum mendapat kesempatan berbicara. Ia sempat mengangkat tangan kepada saya sebelum acara dimulai. Kami berdua saling kenal setelah diundang mengisi acara di sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu sebelumnya. Dialah yang mengundang saya ke acara ini.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

Rencananya, tiga hari setelah jumpa  pers tersebut, negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bakal menggelar sebuah konferensi di Gedung Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, selama dua hari, yakni pada 6 dan 7 Maret 2016. Jumpa pers hari itu  dilaksanakan sebagai bagian dari puncak persiapan penyelenggaraan konferensi tersebut.

“Konferensi ini bukan konferensi biasa. Ini konferensi luar biasa,” kata Hasan memulai pemaparannya.

Hasan benar! Konferensi ini memang dinamakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa OKI. Ia disebut luar biasa karena diselenggarakan di luar jadwal rutin, yakni setiap tiga tahun sekali.

KTT rutin baru akan dilaksanakan bulan berikutnya, yakni tanggal 15 dan 16 April 2016, di Istambul, Turki.

Yang juga menarik, KTT Luar Biasa ini sedianya akan digelar di Maroko. Namun, Maroko menyatakan tidak sanggup. Presiden Palestina dan Sekjen OKI meminta Indonesia menggantikan Maroko menjadi tuan rumah. Lampu hijau dinyalakan oleh pemerintah Indonesia. Jadilah negeri dengan jumlah kaum Muslim terbesar di dunia ini sebagai tuan rumah hajatan tersebut.

Ada 10 hingga 12 pemimpin setingkat kepala Negara yang menghadiri KTT ini, serta utusan dari Amerika Serikat, Rusia, PBB, dan Uni Eropa, serta 4 negara peninjau, yakni Bosnia Herzegovina, Afrika, Rusia, dan Thailand.

Namun, yang paling istimewa dari konferensi ini adalah tema yang diusung –yang menjadi tema tunggal– yakni solusi mengatasi persoalan yang melanda Palestina dan Al-Quds Al-Sharif.

Ya, tema ini pula yang menarik perhatian saya untuk memenuhi undangan media briefing siang itu. Israel, satu seperempat abad silam, lewat David Ben Gurion, telah mendeklarasikan kemerdekaannya secara sepihak.

Berdirinya “negara” Israel ini menjadi babak baru persoalan yang melanda Palestina dan menyita perhatian masyarakat dunia, terutama kaum Muslim.

Saya sengaja menaruh tanda kutip pada kata “negara” karena pada dasarnya Israel berdiri di atas penindasan dan perampasa yang mereka lakukan atas bangsa dan negara Palestina. Coba perhatikan sebuah peta yang dirilis oleh National Geographic tahun 1947, atau setahun sebelum peristiwa Nakba. 

Peta itu memperlihatkan hanya ada Palestina di wilayah yang diapit oleh Trans-Jordan, Mesir, Suriah, dan Laut Mediterania. Tidak ada Israel.

Jadi, bangsa Yahudi hanya datang bertamu. Namun, sang tamu kemudian mengusir tuan rumah, sekaligus mengklaim bahwa rumah yang mereka rampas tersebut miliknya.

Tidak semua wilayah Palestina berhasil mereka rampas, melainkan menyisakan dua bagian kecil, yakni Tepi Barat dan Gaza, yang terus bergejolak hingga kini. KTT Luar Biasa OKI, yang khusus membahas persoalan Palestina, hanyalah satu di antara banyak upaya untuk menghentikan upaya penindasan yang dilakukan ‘Israel’.

KTT tersebut membuahkan beberapa keputusan. Salah satunya, Deklarasi Jakarta (Jakarta Declaration) yang berisi rencana aksi konkret para pemimpin OKI untuk menyelesaikan persoalan Palestina dan Al-Quds Al-Sharif.

Hasil lainnya adalah meningkatkan tekanan kepada Dewan Keamanan PBB untuk memberikan perlindungan internasional bagi warga Palestina, dan penetapan batas waktu pendudukan Israel atas negara di Bumi Syam tersebut.

Namun, ‘Israel’ keras kepala, sebagaimana nenek moyang mereka dahulu. Mereka tetap saja menjajah Palestina dan menyerang kaum Muslim yang beribadah di Masjid al-Aqsha.

Bahkan, di penghujung 2023 ini, mereka membombardir Gaza. Ribuan warga sipil Palestina, termasuk bayi dan anak-anak, meninggal.

Tak ada negara yang sanggup dan mau menghentikan aksi biadab ini, termasuk PBB. Di banyak negara, yang bergerak menentang justru penduduknya, bukan negaranya.

Namun, gelombang ketidaksukaan kepada sikap sombong dan keras kepala bangsa Yahudi ini kian lama kian membesar. Mungkinkah sikap keras kepala kaum Yahudi ini kelak akan berbalik menimpa mereka sendiri sebagaimana sejarah pernah mencatatnya berulang kali? Wallahu a’lam. *

Penulis adalah wartawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineisraelpalestinapengusiran PalestinayahudiZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Haedar Nashir: Muhammadiyah Memandang Seni dan Budaya Mubah
Tulisan selanjutnya Massa Menyerbu Bandara Dagestan Memburu Orang Israel dan Yahudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi

Berita
14 Agustus 2026 14:02
Hari Literasi Muhammadiyah, Pers Didorong Jadi Penguat Demokrasi dan Ekosistem Ilmu Pengetahuan
Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India
Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Dorong Media Tetap Cepat, Akurat dan Harus Benar di Era Digital
Eks Menag Yaqut Didakwa Rugikan Negara Rp622 Miliar dalam Kasus Kuota Haji

Terbaru

  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS
  • Perang Iran Dongkrak Penjualan Truk Listrik China
  • Qatar Bantah Menahan Pilot Iran
  • Tidak Becus Tandai Kecurangan NTU Hentikan Penggunaan Detektor AI
  • Pakai Toilet Umum Kaum Hawa Disuruh Bayar Kaum Adam Gratis, Wanita Austria Ini Menggugat
  • Banyak Peluncuran Satelit Eropa Terancam Kekurangan Roket
  • Redam Aksi Protes PM Modi Janjikan Pelatihan AI Gratis untuk Pelajar India

Mungkin Anda Juga Suka

Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Pustaka

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad

31 Juli 2026 20:21
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Artikel

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

24 Juli 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?