Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Kisah Mantan Bartender dan Tren Pemudah Hijrah yang Makin Populer

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Mei 2024 15:59 3:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Mei 2024 15:59
Bagikan
Kisah Mantan Bartender dan Tren Pemudah Hijrah yang Makin Populer
Bagikan

Cukuplah kematian sebagai nasehat. Mumpung masih ada waktu, mantan bartender ini akhirnya memutuskan hijrah dan mengikuti pengajian, sebagaimana marak saat in

Daftar isi
  • Tren Pemuda Hijrah
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com | SEBAGAI seorang bartender di sebuah diskotik di Surabaya, saya sudah tak asing lagi dengan dunia malam. Hampir semua jenis minuman keras saya tahu.

Tahu pula bagaimana cara menyajikannya kepada para pengunjung. Karena sering berinteraksi dengan banyak orang, saya cukup terkenal di kalangan penikmat diskotik. Saya bergaul dengan banyak orang, dari anak muda hingga yang sudah berkepala lima, pria maupun wanita.

Saya juga memiliki lumayan banyak followers di media sosial dan selalu memposting gaya hidup glamor dunia malam. Apalagi saya salah satu personal band lokal yang cukup banyak penggemarnya.

Saya cukup lama berkecimpung di dunia malam. Tentu tak hanya sebagai penyaji minuman-minuman haram itu, saya juga peminum berat. Dan, pergaulan malam ini membawa saya semakin jauh, ke lingkaran narkoba hingga kecanduan.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Jika sudah menyentuh hal-hal haram itu, berbagai maksiat pun tak luput saya lakukan.

Sebagai bartender dan anak band, secara ekonomi tentu saja kebutuhan dan gaya hidup saya terpenuhi. Bahkan saya mentato badan hampir sekujur tubuh serta menindik telinga dan lidah saya sebagai gaya hidup anak dunia malam.

Setelah mendapatkan semua yang saya inginkan, saya sampai di titik dimana saya merasa bosan dan kebingungan tentang hal apa lagi yang harus saya lakukan dalam hidup ini. Memiliki seorang pendamping hidup pun kala itu bagi saya tak harus terikat pernikahan.

Rutinitas di dunia hiburan malam semakin terasa menjenuhkan. Sampai suatu hari di penghujung malam, saya bermimpi. Saya terbaring kaku di sebuah pembaringan dengan kondisi tubuh yang pucat dan mulai membiru. Aroma busuk tercium menyengat dari tubuh saya penuh darah yang mulai mengering. Ratusan lalat menggrogoti tubuh saya. Tiba-tiba saya terbangun saat suara adzan subuh terdengar.

Hari itu saya merasa sangat ketakutan dengan kematian. Mimpi itu seakan nyata. Kehidupan saya mulai semakin tidak tenang. Saya belum tahu jalan keluarnya, akhirnya miras dan narkoba menjadi pelarian.

Mimpi itu tak langsung membuat saya sadar atau memutuskan berhijrah. Saya masih aktif bekerja di diskotik, meskipun perasaan mulai gundah dan takut jika nyawa saya diambil ketika sedang menyajikan miras kepada pengunjung.

Tak berjarak lama, saya kembali bermimpi. Kali ini saya dapati seorang wanita separuh baya terbujur kaku terbungkus kain kafan. Puluhan orang terlihat tengah melayat.

Saya pandangi wajah mayat itu baik-baik. Sosok yang tak begitu asing. Ibuku. Kembali kumandang adzan subuh membuyarkan mimpi burukku.

Saya terbangun penuh ketakutan. Subuh itu saya menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba hati saya tergerak untuk bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke masjid terdekat.

Sampai di masjid saya merasa terasing. Tetapi, bukan karena orang-orang melihat saya dengan pandangan aneh penuh curiga karena badan penuh tato hingga wajah. Saya merasa terasing karena sudah lama tak pernah menginjakan kaki di masjid.

Saya bergegas mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah di masjid itu. Meskipun banyak bacaan shalat yang telah lupa, saya merasakan ketenangan. Sepulang dari masjid muncul tekad yang kuat di dalam hati untuk berubah, meninggalkan dunia malam.

Awalnya saya pikir hijrah semudah itu, ternyata banyak sekali halangan dan rintangannya. Meninggalkan pekerjaan yang selama ini telah memenuhi kebutuhan hidup memang terasa berat.

Apa lagi pria penuh tato seperti saya, bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan baik-baik nanti kedepannya? Belum lagi lingkungan sekitar saya yang menolak keinginan saya ingin hijrah.

Namun keinginginan berubah memperbaiki diri betul-betul kuat di hati. Saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dunia malam dan teman-teman band.

Saya pikir jika masih berlama-lama menunggu waktu, hijrah hanya menjadi wacana dan akan semakin terjerumus dan tenggelam di dunia kelam.

Keputusan ini saya bulatkan setelah membaca sebuah Hadits Nabi yang artinya;

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (Riwayat Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

Saya merasa Allah SWT mencintai saya. Meskipun harus memulai dari nol lagi, mencari-cari pekerjaan lagi, alhamdulillah saya dipertemukan dengan orang-orang baik, sebuah komunitas pemuda-pemuda hijrah. Saya menemukan keluarga baru yang selalu membimbing, memotivasi dan membantu menjadi Muslim yang baik.

Semenjak hijrah, saya rutin ikut kajian di beberapa tempat, ikut komunitas hijrah saling memotivasi dan menguatkan untuk istiqamah.

Tren Pemuda Hijrah

Istilah hijrah sangat populer di dalam kurun 10 tahun Indonesia. Kampanye gerakan hijrah di media sosial kini seolah menjadi semacam gerakan sosial, apalagi sejak dikampanyekan artis dan kalangan selebriti.

Akun hijrah banyak bermunculan di media sosial dan diikuti oleh ribuan bahkan jutaan orang.

Sejumlah tokoh panutan masyarakat ramai-ramai bergabung pada gerakan hijrah dan ikut aktif di dunia dakwah.

Istilah hijrah bukanlah istilah baru. Istilah ini telah familiar di kalangan umat Muslim.

Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya memutuskan ke luar Makkah setelah terjadi ancaman, intimidasi, dan persekusi kaum kafir Quraiys di Makkah. Sejak itu Nabi ﷺ memutuskan untuk berhijrah, ke teman lebih aman.

Hijrah pertama menuju di Habasyah (Ethiopia). Hijrah berikutnya menuju Kota Madinah (dulu namanya kota Yasrib).

Di Habasyah, kaum Muslim mendapatkan perlindungan keamanan dari seorang Raja Kristen yang adil bergelar Raja Negus (Raja Najasyi). Momen hijrah kedua tidak lama setelah orang yang dicintai Rasulullah ﷺ yang saat itu menjadi pelindungnya, yakni Khadijah, istrinya dan juga pamannya, Abu Thalib, meninggal dunia.

Momen bersejarah ini kemudian dijadikan dasar bagi penetapan kalender Islam atau kerap disebut kalender hijriyah.Peristiwa sejarah hijrah di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah hijrah di zaman Rasulullah ﷺ lebih bermakna perpindahan secara fisik dari satu tempat ke tempat lain guna mencari suaka politik, keselamatan, keamanan, dan menjauhkan diri dari penguasa kafir Mekkah yang dzalim.

Namun istilah hijrah kini mengalami pergeseran, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.

Yang paling terkenal adalah gerakan Pemuda Hijrah, atau lebih dikenal dengan nama Shift, yang didirikan salah satunya oleh Ustadz Hanan Attaki.

Mereka menjauhkan hal haram, menjauhi riba, menutup aurat (bagi wanita) dll. Umumnya kalangan hijrah adalah anak-anak muda perkotaan yang relatif baru bersentuhan dengan wacana keagamaan dan umumnya berlatar belakang pendidikan sekolah atau universitas negeri non-keagamaan. Fenomena ini sesuatu yang harus disambut baik, bukan dimusuhi atau dicurigai.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinehijrahPemudaShift Media
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prof. Dr. Kahar Muzakkir dan Dukungan Aktif Indonesia terhadap Palestina
Tulisan selanjutnya Petugas Pemungut Sampah Paris Ancam Mogok Kerja Saat Olimpiade

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Berita
15 Juli 2026 21:36
SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?