Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

“Pecah Belah 2.0”: Kolonialisme Dunia Islam dengan Wajah Senyum

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 5 November 2025 12:55 12:55 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 5 November 2025 12:54
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Persatuan umat bukan nostalgia sejarah, melainkan strategi bertahan hidup di tengah penjajahan modern yang datang lewat utang, narasi, dan keserakahan global

Oleh:Fahmi Salim

Hidayatullah.com | IA DATANG dengan jubah Arab dan senyum yang menawan. Thomas Edward Lawrence — lebih dikenal sebagai Lawrence of Arabia — menulis puisi tentang padang pasir, minum teh bersama para kabilah, dan tampak seolah mencintai bangsa Arab lebih dari bangsanya sendiri. Tapi di balik romantisme itu, ada peta besar yang sedang digambar: peta perpecahan dunia Islam.

Lawrence bukan sekadar petualang Inggris yang terpesona oleh Timur. Ia adalah perwira dan diplomat yang tahu cara memecah kekuatan dari dalam.

Melalui “Revolusi Arab” 1916, ia meyakinkan Syarif Hussein dari Hijaz untuk memberontak pada Khilafah Usmaniyah (Kekaisaran Ottoman) — sebuah langkah yang menjadi awal dari berantainya politik divide et impera di Timur Tengah.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Seratus tahun berlalu, tapi jejak Lawrence masih terasa. Kini ia hadir dalam bentuk baru: para analis, diplomat, dan influencer yang memuji budaya Timur hanya untuk menanam bibit perpecahan baru.

Ada yang menyanjung bangsa Kurdi agar memisahkan diri dari Arab; ada yang menyanjung kaum Druze agar menjauh dari Kurdi. Setiap kelompok dipuji agar merasa istimewa — dan pada akhirnya, tercerai berai.

Inilah politik pecah-belah berlapis: strategi yang mengubah satu tubuh besar menjadi serpihan-serpihan kecil yang mudah dikendalikan.

Perpecahan dari Dalam Tubuh Sendiri

Ironisnya, umat Islam kini tak butuh Lawrence untuk saling curiga. Perbedaan mazhab, fiqih, hingga orientasi politik berubah menjadi bahan bakar konflik.

Media sosial menjadi arena fatwa-war, tempat setiap kelompok menuduh yang lain sesat, sementara musuh bersama menonton dengan tenang.

Padahal Al-Qur’an sudah memperingatkan: “Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46).

Peringatan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan strategi geopolitik. Umat yang lemah karena perpecahan akan menjadi objek kekuasaan, bukan subjek sejarah.

Dulu penjajahan datang dengan senjata. Kini, ia datang lewat ekonomi.

Sistem global hari ini melahirkan apa yang bisa disebut serakahnomics — ekonomi keserakahan yang menguntungkan segelintir elite global dan menindas mayoritas.

Dunia Islam, dengan kekayaan energi dan sumber dayanya, kembali menjadi sasaran eksploitasi.

Setiap kali negeri Muslim berusaha berdiri di atas kaki sendiri, selalu muncul tekanan ekonomi, konflik, atau kudeta politik. Tak perlu pasukan kolonial — cukup utang, korupsi, dan elite yang bisa dibeli.

Gaza yang dijanjikan “reviera baru” dan Sudan yang porak poranda oleh perang saudara hanyalah bab terbaru dari kisah lama: siapa menguasai sumber daya, dialah penguasa sejati.

Indonesia bukan pengecualian. Negara kaya ini pun menjadi incaran oligarki global.

Ancaman terbesar kini bukan invasi militer, melainkan jebakan ekonomi dan disinformasi yang membuat bangsa ini saling mencurigai dan mudah dikendalikan.

Jihad masa kini bukan sekadar perang fisik, tetapi perjuangan moral melawan keserakahan sistemik: menumbangkan mafia energi, menghentikan rente kekuasaan, dan memulihkan keadilan sosial. Ini bukan isu hukum semata — ini jihad nasional.

Dari Politik Pecah Belah ke Politik Persaudaraan

Belanda pernah mengajarkan devide et impera di Nusantara — mengadu ulama, bangsawan, dan rakyat. Kini, strategi yang sama hidup dalam bentuk propaganda digital dan ekonomi global. Senjatanya bukan meriam, tapi wacana.

Islam tidak menolak perbedaan. Justru, perbedaan adalah rahmat yang melahirkan kebijaksanaan. Namun, perbedaan yang tak dikelola berubah menjadi racun yang melumpuhkan kekuatan kolektif.

Musuh terbesar umat Islam bukanlah “yang lain”, melainkan perpecahan dalam diri sendiri. Umat yang tercerai berai oleh ideologi, kepentingan, dan gengsi akan terus dijajah — bukan oleh tentara, tapi oleh sistem yang rakus.

Persatuan bukan slogan spiritual, tetapi strategi peradaban. Selama umat Islam mampu menghormati perbedaan, membangun kemandirian ekonomi, dan bersatu dalam visi keadilan, mereka akan kembali memimpin sejarah — bukan menjadi catatan kaki di bawahnya.

Direktur Al-Fahmu Institute, Ketua Umum FORDAMAI

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dunia IslamHeadlinekeserakahan globalkolonialisme barupenjajahan modernpersatuan umatPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pembantaian Tidak Berhenti, Maladewa akan Larang Masuk Wisatawan 'Israel' Sah! Generasi Muda Maladewa Dilarang Merokok
Tulisan selanjutnya Ribuan Keluarga Gaza Hadapi Ancaman Banjir dan Musim Dingin Tanpa Tempat Tinggal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?