Hidayatullah.com—Menjelang datangnya musim dingin, ribuan keluarga di Gaza menghadapi kondisi yang semakin genting. Setelah kehilangan rumah akibat serangan berkepanjangan, mereka kini terancam banjir dan suhu ekstrem di wilayah yang porak poranda.
Pusat Operasi Pemerintah untuk Intervensi Darurat di Gaza menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai lembaga internasional dan kemanusiaan untuk segera bertindak sebelum situasi memburuk.
Dalam pernyataannya, lembaga itu menekankan pentingnya membangun pusat-pusat perlindungan darurat yang aman agar ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal tidak menjadi korban bencana berikutnya.
Laporan yang dikutip dari Kantor Berita Palestina (WAFA) menyebutkan, kondisi kemanusiaan di Gaza kini berada pada tahap yang sangat berbahaya.
Banyak wilayah rendah berpotensi dilanda banjir akibat hujan deras, limpahan air laut, dan rusaknya infrastruktur setelah dua tahun serangan ‘Israel’ yang menghancurkan sistem drainase dan jalan-jalan utama.
Beberapa kawasan paling berisiko termasuk Al-Jazira di sepanjang Jalan Salah al-Din antara Maghazi dan Bureij, Sahn al-Barka, serta lembah Wadi al-Salqa di Gaza bagian tengah.
Warga yang terusir dari rumah mereka juga terpaksa bertahan di sepanjang pesisir Jalan Al-Rashid—membentang 26 kilometer dari utara ke selatan Gaza—serta di kamp pengungsi di timur Deir al-Balah dan Jalan Al-Nafaq di Kota Gaza.
Kepala pusat operasi pemerintah, Samah Hammad, memperingatkan bahwa situasi ini sudah mencapai titik kritis.
“Keluarga-keluarga di wilayah pantai dan dataran rendah berisiko mengalami banjir besar kapan saja. Diperlukan pemindahan segera ke tempat perlindungan yang lebih aman,” ujarnya.
Hammad menambahkan, sebenarnya sejumlah organisasi internasional telah menyiapkan perlengkapan darurat dan tenda, namun pengirimannya masih tertahan karena pembatasan ketat oleh otoritas pendudukan.
Ia juga menyoroti pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya menjamin masuknya 600 truk bantuan setiap hari.
“Dalam periode 1–25 Oktober lalu, hanya 5.078 truk yang diizinkan masuk—rata-rata 203 truk per hari, jauh di bawah kebutuhan minimum,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rencana pemulihan awal, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Palestina telah mengidentifikasi 294 lokasi yang dapat dijadikan tempat perlindungan sementara, lengkap dengan akses air dan sanitasi dasar. Pemerintah meminta organisasi kemanusiaan bekerja sama untuk membangun pusat-pusat perlindungan di lokasi-lokasi tersebut.
Pemerintah Palestina juga mendesak komunitas internasional agar menekan ‘Israel’ untuk membuka akses penuh bagi bantuan kemanusiaan, termasuk tenda, bahan bangunan darurat, dan unit hunian siap pakai. Tanpa langkah cepat, musim dingin tahun ini bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan baru bagi ratusan ribu warga Gaza yang kini hidup tanpa atap dan tanpa perlindungan.*




