Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Pelajaran Surah Ar-Rum dalam Membaca Konflik AS-Israel–Iran

Ahmad
Terakhir diupdate: 14 Maret 2026 15:39 3:39 pm
Ahmad
Dipublikasikan 14 Maret 2026 16:15
Bagikan
Bagikan

Konflik AS-Israel dan Iran perlu dibaca dengan perspektif geopolitik dan sejarah Islam, bukan sekadar emosi atau perdebatan ideologis.

Hidayatullah.com | DI TENGAH meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, diskursus publik di dunia Muslim sering kali terjebak pada perdebatan yang sangat emosional. Perhatian lebih banyak diarahkan pada pertanyaan siapa yang lebih salah, siapa yang lebih benar, atau pihak mana yang paling “Islami”.

Pendekatan semacam itu mungkin memuaskan secara moral, tetapi sering gagal menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa dampak strategis dari konflik ini bagi masa depan umat Islam?

Tradisi Islam sebenarnya menyediakan kerangka analisis yang lebih matang untuk membaca konflik geopolitik. Al-Qur’an dan sejarah kenabian tidak hanya memberikan panduan spiritual, tetapi juga mengandung pelajaran tentang bagaimana memahami dinamika kekuatan global. Salah satu contoh paling menarik terdapat dalam Surah Ar-Rum yang berbicara tentang konflik dua imperium besar pada masa awal Islam.

Nubuat Politik Surah Ar-Rum

Baca Juga

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?

Pada awal abad ke-7, dunia berada di bawah bayang-bayang dua kekuatan raksasa: Byzantine Empire dan Sasanian Empire. Kedua imperium ini terlibat dalam konflik panjang yang dikenal sebagai Byzantine–Sasanian Wars.

Pada suatu fase perang, Persia berada di atas angin. Banyak wilayah penting Romawi berhasil direbut, dan dari sudut pandang militer saat itu, kehancuran Romawi tampak hanya tinggal menunggu waktu.

Namun dalam situasi tersebut, Al-Qur’an menyampaikan pernyataan yang mengejutkan: Romawi akan bangkit kembali dan meraih kemenangan dalam beberapa tahun. Bahkan disebutkan bahwa kemenangan itu akan membuat kaum beriman bergembira.

Menariknya, Romawi bukanlah sekutu umat Islam. Secara akidah mereka berbeda. Dalam fase berikutnya, Nabi Muhammad bahkan berhadapan dengan kekuatan Romawi dalam berbagai ekspedisi militer seperti Battle of Mu’tah dan Expedition of Tabuk.

Hal ini menunjukkan bahwa perspektif Al-Qur’an tidak semata-mata menilai konflik berdasarkan identitas pihak yang bertarung, tetapi juga mempertimbangkan dampak geopolitik dari hasil perang tersebut.

Keseimbangan Kekuatan dalam Sejarah

Jika Persia memenangkan perang secara mutlak pada masa itu, mereka berpotensi menguasai hampir seluruh kawasan Timur Tengah. Dominasi tunggal semacam ini dapat menutup ruang bagi munculnya kekuatan baru.

Kemenangan Romawi justru menciptakan situasi yang berbeda. Dua imperium besar saling melemahkan melalui perang panjang, sehingga tidak ada satu kekuatan yang benar-benar mendominasi kawasan.

Dalam kondisi seperti itu, wilayah Arabian Peninsula tetap berada di pinggiran sistem kekuasaan global. Ruang geopolitik inilah yang kemudian memberi kesempatan bagi dakwah Nabi Muhammad berkembang tanpa segera dihancurkan oleh kekuatan imperium besar.

Sejarah kemudian menunjukkan bagaimana kondisi tersebut membuka jalan bagi kebangkitan peradaban Islam. Setelah wafatnya Nabi, umat Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan Umar ibn al-Khattab mampu menaklukkan wilayah luas dari dua imperium yang sebelumnya tampak tak tergoyahkan.  Perang panjang antara Romawi dan Persia ternyata telah melemahkan keduanya secara signifikan.

Membaca Konflik Israel–Iran Secara Strategis

Pelajaran dari Surah Ar-Rum menunjukkan bahwa analisis strategis tidak selalu identik dengan persetujuan ideologis. Kaum Muslim yang bergembira atas kemenangan Romawi bukan berarti menerima akidah Romawi. Mereka tetap berbeda secara prinsip, bahkan kemudian berhadapan dalam berbagai konflik.

Prinsip ini penting dalam membaca konflik modern seperti ketegangan antara penjajah ‘Israel’ dan Iran.

Konflik tersebut bukan sekadar permusuhan dua negara, tetapi bagian dari perebutan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Jika diskusi hanya berfokus pada perdebatan ideologi atau mazhab, maka dimensi geopolitik yang jauh lebih penting bisa terabaikan.

Pertanyaan strategis yang seharusnya muncul adalah: apa konsekuensi kawasan jika salah satu pihak menang secara mutlak?

Sejarah menunjukkan bahwa dominasi tunggal dalam suatu kawasan hampir selalu membawa dampak luas, tidak hanya bagi negara yang kalah tetapi juga bagi seluruh sistem regional.

Pentingnya Bashirah dalam Membaca Geopolitik

Dalam tradisi intelektual Islam, kemampuan membaca realitas secara jernih disebut bashirah, yaitu ketajaman pandangan yang melampaui emosi dan propaganda.

Tanpa bashirah, umat mudah terjebak dalam narasi yang terlalu sederhana—membagi dunia hanya menjadi hitam dan putih, kawan dan lawan, benar dan salah. Padahal sejarah jarang bergerak dalam pola yang sesederhana itu.

Surah Ar-Rum menunjukkan bahwa bahkan konflik antara dua kekuatan non-Muslim dapat memiliki dampak besar terhadap masa depan Islam. Karena itu, memahami struktur kekuatan dan keseimbangan geopolitik menjadi bagian penting dari kesadaran strategis umat.

Membaca sejarah Islam seharusnya tidak berhenti pada nostalgia romantis tentang masa lalu. Ia harus menjadi alat untuk memahami bagaimana dunia bekerja.

Dalam konteks konflik global hari ini, pelajaran dari Surah Ar-Rum mengingatkan bahwa masa depan sering kali tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak, tetapi oleh siapa yang paling jernih membaca realitas. Wallahu a’lam.*/Fahmi Salim, LC, MA, Penulis Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, seorang guru ngaji

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKonflik Israel - IranPersiaPilihan RedaksiSurat Ar-Rum
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya IAEI–Kemenko Perekonomian Bahas Dampak Perjanjian Dagang Indonesia–AS
Tulisan selanjutnya Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Krisis Identitas Berawal dari Cara Berpikir, Keluarga jadi Benteng Terakhir Peradaban

Berita
25 Juli 2026 10:49
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat
Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045
AS dan Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Nuklir, Apa Isinya?

Terbaru

  • Bunuh Majikan dan Kerap Mencuri, ART Asal Indonesia Dibui Seumur Hidup di Singapura
  • Laporan: ‘Israel’ Danai Kampanye Rp840 Miliar untuk Mempengaruhi Jawaban AI soal Gaza
  • Pakai Kacamata AI untuk Menyontek Saat Ujian Nasional Pria Korea Selatan Dipidana
  • Ribuan Sambaran Petir Picu Karhutla Baru di Kanada
  • Ratusan Warga Palestina Kehilangan Tempat Bernaung usai ‘Israel’ Bom Tenda Pengungsian
  • Pakar: Pernikahan adalah Jalan Peradaban, Jangan Biarkan Medsos Meracuninya
  • MUI: Konten Keislaman Jangan Kalah di Ruang Digital
  • Demo Pro-Palestina Sambut Kedatangan Netanyahu di Gedung Putih
  • MUI Tolak Eufemisme Barat, Desak Publik Pakai Istilah LGSP Pengganti LGBT
  • Baliho Berbahasa Ibrani Mewabah, ‘Israel’ Kuasai Siprus?

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

3 Juli 2026 11:27
Opini

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

2 Juli 2026 12:14
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?