Konflik AS-Israel dan Iran perlu dibaca dengan perspektif geopolitik dan sejarah Islam, bukan sekadar emosi atau perdebatan ideologis.
Hidayatullah.com | DI TENGAH meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, diskursus publik di dunia Muslim sering kali terjebak pada perdebatan yang sangat emosional. Perhatian lebih banyak diarahkan pada pertanyaan siapa yang lebih salah, siapa yang lebih benar, atau pihak mana yang paling “Islami”.
Pendekatan semacam itu mungkin memuaskan secara moral, tetapi sering gagal menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa dampak strategis dari konflik ini bagi masa depan umat Islam?
Tradisi Islam sebenarnya menyediakan kerangka analisis yang lebih matang untuk membaca konflik geopolitik. Al-Qur’an dan sejarah kenabian tidak hanya memberikan panduan spiritual, tetapi juga mengandung pelajaran tentang bagaimana memahami dinamika kekuatan global. Salah satu contoh paling menarik terdapat dalam Surah Ar-Rum yang berbicara tentang konflik dua imperium besar pada masa awal Islam.
Nubuat Politik Surah Ar-Rum
Pada awal abad ke-7, dunia berada di bawah bayang-bayang dua kekuatan raksasa: Byzantine Empire dan Sasanian Empire. Kedua imperium ini terlibat dalam konflik panjang yang dikenal sebagai Byzantine–Sasanian Wars.
Pada suatu fase perang, Persia berada di atas angin. Banyak wilayah penting Romawi berhasil direbut, dan dari sudut pandang militer saat itu, kehancuran Romawi tampak hanya tinggal menunggu waktu.
Namun dalam situasi tersebut, Al-Qur’an menyampaikan pernyataan yang mengejutkan: Romawi akan bangkit kembali dan meraih kemenangan dalam beberapa tahun. Bahkan disebutkan bahwa kemenangan itu akan membuat kaum beriman bergembira.
Menariknya, Romawi bukanlah sekutu umat Islam. Secara akidah mereka berbeda. Dalam fase berikutnya, Nabi Muhammad bahkan berhadapan dengan kekuatan Romawi dalam berbagai ekspedisi militer seperti Battle of Mu’tah dan Expedition of Tabuk.
Hal ini menunjukkan bahwa perspektif Al-Qur’an tidak semata-mata menilai konflik berdasarkan identitas pihak yang bertarung, tetapi juga mempertimbangkan dampak geopolitik dari hasil perang tersebut.
Keseimbangan Kekuatan dalam Sejarah
Jika Persia memenangkan perang secara mutlak pada masa itu, mereka berpotensi menguasai hampir seluruh kawasan Timur Tengah. Dominasi tunggal semacam ini dapat menutup ruang bagi munculnya kekuatan baru.
Kemenangan Romawi justru menciptakan situasi yang berbeda. Dua imperium besar saling melemahkan melalui perang panjang, sehingga tidak ada satu kekuatan yang benar-benar mendominasi kawasan.
Dalam kondisi seperti itu, wilayah Arabian Peninsula tetap berada di pinggiran sistem kekuasaan global. Ruang geopolitik inilah yang kemudian memberi kesempatan bagi dakwah Nabi Muhammad berkembang tanpa segera dihancurkan oleh kekuatan imperium besar.
Sejarah kemudian menunjukkan bagaimana kondisi tersebut membuka jalan bagi kebangkitan peradaban Islam. Setelah wafatnya Nabi, umat Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan Umar ibn al-Khattab mampu menaklukkan wilayah luas dari dua imperium yang sebelumnya tampak tak tergoyahkan. Perang panjang antara Romawi dan Persia ternyata telah melemahkan keduanya secara signifikan.
Membaca Konflik Israel–Iran Secara Strategis
Pelajaran dari Surah Ar-Rum menunjukkan bahwa analisis strategis tidak selalu identik dengan persetujuan ideologis. Kaum Muslim yang bergembira atas kemenangan Romawi bukan berarti menerima akidah Romawi. Mereka tetap berbeda secara prinsip, bahkan kemudian berhadapan dalam berbagai konflik.
Prinsip ini penting dalam membaca konflik modern seperti ketegangan antara penjajah ‘Israel’ dan Iran.
Konflik tersebut bukan sekadar permusuhan dua negara, tetapi bagian dari perebutan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Jika diskusi hanya berfokus pada perdebatan ideologi atau mazhab, maka dimensi geopolitik yang jauh lebih penting bisa terabaikan.
Pertanyaan strategis yang seharusnya muncul adalah: apa konsekuensi kawasan jika salah satu pihak menang secara mutlak?
Sejarah menunjukkan bahwa dominasi tunggal dalam suatu kawasan hampir selalu membawa dampak luas, tidak hanya bagi negara yang kalah tetapi juga bagi seluruh sistem regional.
Pentingnya Bashirah dalam Membaca Geopolitik
Dalam tradisi intelektual Islam, kemampuan membaca realitas secara jernih disebut bashirah, yaitu ketajaman pandangan yang melampaui emosi dan propaganda.
Tanpa bashirah, umat mudah terjebak dalam narasi yang terlalu sederhana—membagi dunia hanya menjadi hitam dan putih, kawan dan lawan, benar dan salah. Padahal sejarah jarang bergerak dalam pola yang sesederhana itu.
Surah Ar-Rum menunjukkan bahwa bahkan konflik antara dua kekuatan non-Muslim dapat memiliki dampak besar terhadap masa depan Islam. Karena itu, memahami struktur kekuatan dan keseimbangan geopolitik menjadi bagian penting dari kesadaran strategis umat.
Membaca sejarah Islam seharusnya tidak berhenti pada nostalgia romantis tentang masa lalu. Ia harus menjadi alat untuk memahami bagaimana dunia bekerja.
Dalam konteks konflik global hari ini, pelajaran dari Surah Ar-Rum mengingatkan bahwa masa depan sering kali tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak, tetapi oleh siapa yang paling jernih membaca realitas. Wallahu a’lam.*/Fahmi Salim, LC, MA, Penulis Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, seorang guru ngaji




