Dari George W. Bush hingga Pete Hegseth, jejak retorika “Perang Salib” dinilai masih membayangi hubungan Barat (terutama Amerika Serikat, dkk) dengan dunia Islam.
Oleh: Dr. Alwi Alatas
Hidayatullah.com | PERANG SALIB sudah berlalu lebih dari tujuh abad. Sebagian orang berfikir bahwa sejarah adalah subyek yang mati, semata kenangan masa lalu. Namun, boleh jadi mereka akan takjub dengan perkembangan yang berlaku dalam beberapa dekade terakhir. Tapi apa hendak dikata, mereka yang tak paham sejarah tak dapat mengaitkan peristiwa-peristiwa masa kini dengan masa lalu. Karena itu pula mereka tak dapat belajar apa-apa dari masa lalu.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Prof. Diraja Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam satu wawancaranya dengan Syaikh Hamzah Yusuf, bahwa “Masa lalu masih sangat hidup [the past is very much alive].” Kata-kata itu merupakan respons beliau atas anggapan yang menyatakan bahwa masa lalu (sejarah) sudah mati (“Hamza Yusuf,” 2011).
Perkataan al-Attas dalam wawancara itu berkaitan dengan perkembangan dan peranan ilmu. Namun, agaknya hal itu relevan juga untuk konteks peristiwa Perang Salib yang sedang dibahas ini.
Istilah Perang Salib (crusade), lebih-lebih lagi pengaruhnya, ternyata terus hidup. Dentuman konflik besar ratusan tahun lalu itu, gemanya masih terdengar hingga ke era sekarang ini.
Contoh menarik tentang ini adalah peristiwa serangan atas World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. Lima hari setelah peristiwa itu, Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, menggambarkan keadaan itu dengan perkataan yang kontroversial. “This crusade, this war on terrorism is going to take a while [Perang Salib ini, perang menghadapi terorisme ini akan mengambil waktu cukup lama],” ucapnya ketika itu (“Remarks,” 2001).
Kata ‘Perang Salib’ (crusade) seolah muncul dari alam bawah sadar Bush, seperti sesuatu yang terpendam lama, tersembunyi tapi tak hilang, lalu tiba-tiba terekspresikan secara spontan. Atau jangan-jangan ia mengucapkannya dengan sadar dan terencana? Itu lebih menarik lagi.
Sebagian orang bisa saja memaknai kata itu secara berbeda. Ini bukan tanpa alasan. Kata ‘crusade’ memang telah menjadi kata umum di dalam kosa kata modern, jadi tidak hanya mengacu pada peristiwa khusus di masa lalu. Crusade di dalam kamus diartikan sebagai upaya mencapai sesuatu yang dilandasi oleh keyakinan yang kuat, atau perjuangan penuh semangat melawan sesuatu atau seseorang.
Bush mungkin hendak berjuang dengan penuh semangat melawan teror, sebagaimana seseorang bisa saja melakukan perang melawan kemiskinan (a crusade against poverty).
Tapi susah juga untuk tidak tergoda mengaitkannya dengan Perang Sallib yang bersejarah itu. Kenyataannya, Perang Salib Bush diarahkan kepada Muslim yang dianggap radikal. Hal ini ikut dipandu oleh pengelompokan Muslim baik (good Muslim) dan Muslim buruk (bad Muslim) versi Amerika. Yang baik adalah yang jinak dan bersahabat, dan yang buruk adalah yang memusuhi negara adidaya itu.
Dalam perang melawan terorisme, sempat ada stigma bahwa tidak semua Muslim teroris, tetapi semua teroris adalah Muslim. Pernyataan lain yang mirip menyebutkan bahwa Amerika “mengidentifikasi musuh-musuhnya, dan musuh-musuhnya mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim,” seperti pada kasus ISIS yang membawa nama Islam (Friedman, 2016).
Ungkapan seperti ini bukan hanya menista dan melukai hati umat Islam, tetapi juga menyesatkan. Fakta menunjukkan bahwa 94% serangan teroris di Amerika Serikat antara tahun 1980 dan 2005 dilakukan oleh non-Muslim. Begitu pula halnya dengan terorisme di Eropa antara tahun 2011 dan 2016, hanya kurang dari 2% yang dilakukan oleh Muslim (Alnatour, 2016).
Hal ini membawa pada satu pengertian. Bush dan Amerika Serikat sebenarnya tidak memerangi segala bentuk terorisme, tetapi hanya terorisme yang melibatkan umat Islam, baik nyata ataupun tidak.
Ini membuat sebagian orang mengaitkan Perang Salib Bush dengan Perang Salib abad pertengahan. Perang itu dilancarkan oleh peradaban Barat Kristen, yang berakar di Eropa Barat, dan berhadap-hadapan dengan umat Islam. Hanya saja ‘Perang Salib’ di awal abad ke-21 itu tidak ditujukan untuk merebut Yerusalem sebagaimana Perang Salib di masa lalu.
Bagaimanapun, Yerusalem tak sepenuhnya absen dari perang yang melibatkan Amerika. Penjajahan zionis atas Yerusalem dan Palestina terletak tepat di jantung kemarahan umat Islam terhadap Barat. Amerika yang memimpin peradaban Barat sejak Perang Dunia II telah menjadi pelindung utama negara haram Israel.
Begitu pula zionisme banyak memainkan peranan dalam permusuhan Amerika terhadap dunia Islam. Lobi zionis masuk sangat dalam di pemerintahan Amerika Serikat. Hubungan di antara kedua belah pihak, Amerika dan Israel, semakin berkelindan dengan keberadaan kaum Kristen Evangelis pro zionis di Amerika.
Belakangan ini pengaruh kaum Evangelis menguat dalam perpolitikan Amerika. Ini tampak pada pemerintahan Republikan Donald Trump sekarang ini. Menteri Pertahanan—yang diubah namanya menjadi Menteri Perang—di era Trump yang kedua ini adalah Pete Hegseth.
Ia merupakan seorang Kristen fanatik, walaupun kabarnya gemar minum alkohol berlebihan dan punya sejarah perilaku buruk di masa lalu (Brockes, 2026).
Hegseth pernah menulis buku dengan judul American Crusade. Sebagai menteri, ia sering menggunakan terma agama serta mengutip Alkitab dalam ucapannya di depan publik. Jika Perang Salib di abad ke-11-13 dikenal demikian karena adanya aksi mengambil salib (taking cross) sebagai komitmen kesertaan dalam perang tersebut, Hegseth ‘mengambil salib’ secara lebih permanen dengan mentato gambar salib besar di dadanya.
Seolah tidak bisa lebih sempurna lagi, ia juga mentato tangannya dengan kata-kata “Deus Vult” [Tuhan menghendakinya]. Ini merupakan seruan populer yang mengawali Perang Salib pertama di tahun 1095 (Wolf, 2026). Kelihatannya ia benar-benar mabuk agama dan mungkin juga mabuk Perang Salib.
Kini Hegseth, dan tentunya Trump, terseret ke dalam perang melawan Iran di Timur Tengah. Ini adalah perang yang melayani kepentingan zionis Israel. Sejauh ini Amerika dapat dikatakan kalah melawan Iran. Negara itu juga kelihatannya sedang bingung mencari jalan untuk menghentikan perang.
Nama Perang Salib mungkin tidak muncul dalam perang melawan Iran. Tapi siapa yang dapat mengatakan tidak ada semangat Perang Salib di dalamnya? Seperti sebuah kebetulan, Perang Salib di akhir abad ke-11 dahulu diwarnai oleh pembantaian atas umat Islam—dan Yahudi—di Levant (Suriah-Palestina). Perang kali ini melibatkan bau anyir genosida Israel atas penduduk Palestina—dan kini Lebanon.
Sikap memusuhi Islam tidak hanya tampak pada pemimpin pemerintahan di Barat, tapi juga di tengah masyarakatnya. Belakangan kelompok-kelompok ekstrim kanan berkembang di Eropa. Mereka secara terbuka menyatakan “Islam adalah musuh kita yang sebenarnya.” Malah ada yang melakukan arak-arakan dengan mengenakan atribut Perang Salib abad pertengahan (Shareef, 2026).
Di Amerika Serikat, kaum Evangelis memberi sokongan mutlak atas penjajahan zionis di Palestina. Mereka percaya bahwa kehadiran Yahudi di Palestina akan mempercepat kedatangan kembali Yesus ke dunia. Ini merupakan hal yang mereka impikan.
Mereka bahkan mempersiapkan diri akan datangnya pertempuran besar eskatologis (Armagedon). Salah seorang aktivis Kristen di Amerika berkata dalam ceramahnya, “Saya ingin melihat Yesus mengambil pedang itu dan membunuh musuh dan melihat darah mengalir hingga ke bagian bawah tubuh kuda” (“Why evangelicals,” 2024).
Tiba-tiba kita teringat deskripsi ngeri yang diberikan oleh Fulcher of Chartes (t.t.), seorang saksi sejarah Perang Salib I. Ia bercerita tentang pembantaian oleh pasukan Salib di Yerusalem saat penaklukkan kota itu di tahun 1099.
“Jika kau berada di sana,” tulisnya, “kakimu pasti akan berlumuran darah orang-orang yang terbunuh hingga ke pergelangan kaki.”
Kedua perkataan itu terdengar sangat mirip. Apakah sebuah Perang Salib baru tengah dipersiapkan? Ironinya, mirip dengan yang terjadi di abad pertengahan, umat Islam menyambut semua itu dengan sibuk bertelingkah sesama sendiri.
Dengan atau tanpa simbolisasi Perang Salib, permusuhan Barat terhadap Islam merupakan sesuatu yang laten dan muncul dari waktu ke waktu. Ia dapat sewaktu-waktu berayun ke titik ekstrim intoleransi, setelah sebelumnya merayakan kebebasan dan multikulturalisme. Ekspresinya bisa berupa anti-imigran atau anti orang asing, tetapi esensinya seringkali Islamofobia.
Ketika warga dunia ketiga dikuliahi nilai-nilai humanis dan toleransi Barat, sebagian orang Barat sendiri terang-terangan bersikap intoleran. Mereka memusuhi kelompok migran yang berbeda agama dan warna kulit dari mereka.
Sekadar contoh, Elon Musk baru-baru ini mempromosikan film berjudul Citizen Vigilante yang menarasikan kekerasan terhadap kaum migran yang terlibat kriminalitas. Film itu dilarang di Jerman karena menstigma dan mempromosikan kebencian terhadap kaum migran.
Nasib film itu sempat tak jelas, tapi kemudian mendapat perhatian luas karena promosi Musk di platform X (Kliszcz, 2026). Musk seperti menyiram minyak ke lahan gambut yang memendam api kebencian terhadap Muslim. Dengan kekayaan dan popularitasnya, minyak yang disebarnya dapat dikatakan masif.
Tentu saja dinamika yang terjadi tidak selalu sederhana seperti yang tampak di permukaan. Namun, tak dapat dipungkiri, Islamofobia memang tengah naik daun di sejumlah negara Barat dalam beberapa dekade terakhir (Apipudin & Alwi, 2024).
Sebuah pertanyaan muncul. Mengapa Barat sulit menghapuskan kebencian dan permusuhannya terhadap umat Islam? Rasanya tak ada yang dapat menjawab pertanyaan ini sebaik Muhammad Asad (Leopold Weiz), terlebih jika dikaitkan dengan isu Perang Salib.
Menurut Asad (2022), Perang Salib abad pertengahan menjadi pengalaman yang mewarnai kelahiran peradaban Barat. Pengalaman ‘masa kecil’ itu menjadi trauma yang sulit hilang dari alam bawah sadar masyarakat Barat, dan terus bertahan ke era dewasa peradaban tersebut.
Pada era Perang Salib, untuk pertama kalinya masyarakat Barat melihat dirinya sebagai satu kesatuan. Mereka bersatu dalam menghadapi Islam. Semua itu membentuk identitas awal Eropa.
Sebagaimana ditulis oleh Asad (2022, h. 44), “Eropa modern lahir dari semangat Perang Salib [modern Europe was born out of the spirit of the Crusades].”
Pada akhirnya, kebencian dan permusuhan itu bisa saja hilang, tetapi tidak mudah dan mungkin juga tidak sepenuhnya. Wallahu a’lam.*/Kuala Lumpur, 17 Muharram 1448H/ 4 Juli 2026
Penulis adalah dosen Sejarah dan Peradaban Islam di International Islamic University Malaysia (IIUM)
Referensi
Alnatour, Omar. 9 Desember 2016. “Muslims Are Not Terrorists: A Factual Look at Terrorism and Islam.” Huffpost. https://www.huffpost.com/entry/muslims-are-not-terrorist_b_8718000
Apipudin & Alwi Alatas. 2024. “Origin of Islamophobia in Europe: A Case Study of Hungary.” Journal of Islamic Thought and Civilization (JITC), Vol 14 No. 1.
Asad, Muhammad. 2022. Islam at the Crossroads. Kuala Lumpur: The Other Press.
Brockes, Emma. 19 Mar 2026. “Is anyone as ill-suited for great office as Donald Trump? Yes, Pete Hegseth – that’s why Potus likes him.” The Guardian. https://www.theguardian.com/commentisfree/2026/mar/19/pete-hegseth-donald-trump-us-secretary-of-war
Chartes, Fulcher. T.t. Chronicle of the First Crusade. https://woodlawnschool.pbworks.com/f/FulcherofChartres.pdf
Friedman, George. 28 November 2016. “Islam and Terrorism.” GPF. https://geopoliticalfutures.com/islam-and-terrorism/
Hamza Yusuf with Syed Muhammad Naquib Al-Attas. 27 Agustus 2011. TouTube. https://www.youtube.com/watch?v=L5pyXqZq4E0
Kliszcz, Eric. 1 Juli 2026. “Elon Musk uses X to promote anti-migrant film accused of inciting violence.” TVP World. https://tvpworld.com/94121711/elon-musk-promotes-anti-migrant-film-citizen-vigilante-on-x-sparking-backlash
Remarks by the President Upon Arrival. 16 September 2001. The White House. https://georgewbush-whitehouse.archives.gov/news/releases/2001/09/20010916-2.html
Shareef, Amina. 29 Mei 2026. “Are we witnessing a 21st century homeland crusade?” Middle East Eye. https://www.middleeasteye.net/opinion/are-we-witnessing-21st-century-homeland-crusade
Why evangelicals influence US foreign policy in the Middle East, EP1. 20 Maret 2024. Al Jazeera English. https://www.youtube.com/watch?v=IhT7oyDlBIk&t=1404s
Wolf, Zachary B. 13 Maret 2026. “Pete Hegseth wanted an ‘American Crusade.’ Now he’s leading a war in the Middle East.” CNN. https://edition.cnn.com/2026/03/13/politics/hegseth-iran-israel-war-american-crusade-analysis




