Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

ISIS dan Propaganda ‘Penunda’ Kebangkrutan AS [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Februari 2016 07:02 7:02 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Februari 2016 09:00
Bagikan
Para polisi berlindung di balik mobil saat peledakan Sarinah
Bagikan

Oleh: Muh. Nurhidayat
LEDAKAN yang mengguncang Jakarta pada Kamis (14/1/2016) lalu menyisakan polemik panjang di kalangan netizen Indonesia. Sebelumnya polisi memperoleh pujian di media sosial (medsos), karena dianggap mampu menumpas—bahkan membunuh–semua tersangka dalam waktu sangat cepat. Malah beredarnya rekaman dan foto-foto seorang polisi tampan dengan pakaian keren (baca: bermerek terkenal dan mahal), yang ikut serta baku tembak melawan tersangka, telah membuat banyak netizen perempuan jatuh cinta kepadanya.

Namun demikian, belum genap sepekan setelah kejadian, banyak netizen mulai meragukan polisi. Sebab beredar puluhan slide foto kronologis hasil ‘bidikan’ wartawan situs berita mainstream, yang secara jelas menunjukkan bahwa aksi terorisme awal 2016 itu dianggap lebih mirip simulasi penanganan kerusuhan, seperti yang dipertunjukkan pada perayaan ulangtahun polisi. Apalagi sebelumnya, sejumlah pengamat intelijen dari perguruan tinggi, bahkan dari Kompolnas sendiri, telah menyampaikan analisisnya, bahwa kasus tersebut sarat kejanggalan.

Selain itu, tuduhan ‘terburu-buru’ polisi yang menyatakan bahwa pelaku teror awal 2016 adalah ISIS, diterima ‘mentah-mentah’ oleh para wartawan televisi. Bahkan awak berita layar kaca pun secara ‘tergesa-gesa’ pula melaporkan kepada khalayak, tanpa ada upaya untuk cek dan ricek sedikit pun.
Padahal, cek dan ricek adalah sikap yang harus dimiliki wartawan. Setiap informasi yang diterimanya dari satu pihak (penuduh), akan selalu di ceck dan riceck, sehingga memenuhi azas berimbang (cover both sides). Dengan demikian, wartawan selalu meminta klarifikasi dari pihak lainnya (tertuduh), sebelum melaporkan beritanya kepada khalayak.

Azas berimbang inilah yang hampir tidak pernah dipenuhi televisi dalam setiap melaporkan berita terorisme di Indonesia. Televisi swasta telah menjadi semacam media ing-griya (media internal) yang dikelola humas polisi. Seperti dipaparkan dalam tulisan sebelumnya berjudul Berita Terorisme dan McDonaldisasi Televisi, wartawan berita layar kaca seakan tidak punya hasrat untuk melakukan investigasi, karena lebih senang mengandalkan press release maupun press conference dari polisi.

Selama ini media massa mainstream, terutama televisi selalu melaporkan ISIS sebagai kelompok yang ‘bangga’ menegakkan khilafah Islamiyah dan menerapkan syariat Islam. Padahal dengan sepak terjangnya yang ‘bangga’ berlaku brutal dan sangat tidak Islami, kelompok pimpinan Abdurrahman Al Baghdadi ini telah merusak nama baik agama yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Akibatnya, sebagian khalayak (Muslim maupun non-Muslim) pun menjadi takut. Bukan hanya takut kepada ISIS saja, tetapi juga merasa ngeri mendengar istilah ‘khilafah Islamiyah’ maupun ‘syariat Islam’.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Mantan pakar komunikasi massa Universitas Hasanuddin, Sinansari Ecip (1999) mensyaratkan wartawan harus mampu menjalankan investigasi, sehingga selain memiliki keterampilan jurnalistik, wartawan juga perlu menguasai dasar-dasar ilmu lainnya seperti ekonomi, politik, dan sejarah.

Dengan demikian, seperti dikatakan Ecip, jika ingin memberitakan kasus ISIS, wartawan pun harus menguasai dasar-dasar ilmu agama maupun sejarah Islam. Dengan bekal pemahaman kedua ilmu tersebut, maka wartawan akan mendapat gambaran tentang ‘sosok’ ISIS yang sebenarnya.

Wartawan, terutama dari televisi swasta akan tahu apakah kelompok yang dipimpin Al Baghdadi itu sesuai atau tidak dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Sungguh patut disayangkan, di Indonesia ini mayoritas reporter televisinya ber-KTP Islam, namun mereka seakan tidak paham dengan dasar-dasar ajaran agamanya sendiri. Betapa memprihatinkannya, siaran berita layar kaca negeri ini dipenuhi oleh stereotype, prejudice, serta trial by the press terhadap Islam, agama mayoritas wartawan dan pemirsa televisi itu sendiri.

Peneliti kebijakan media, Suryani Musi (2014) memandang stereotipe (yang awalnya berupa asumsi yang salah dari seseorang kepada komunitas lain di luar kelompok orang tersebut), pada akhirnya bisa berubah menjadi prejudice (yang diwujudkan dalam bentuk kebencian kepada komunitas tersebut), jika dipicu oleh (pemberitaan) media massa.

Pendapat Musi didukung oleh Samovar (2009), yang menegaskan bahwa zaman sekarang media massa telah menjadi sumber ‘pembelajaran’ yang dominan dalam menanamkan nilai stereotipe seseorang kepada kelompok lain. Dosen Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Formas Juitan Lase (2014) juga berkomentar, bahwa kejahatan atau kriminalitas yang diidentikkan dengan kelompok (etnis, ras, agama) tertentu memberikan penegasan bahwa media memiliki kekuasaan untuk membingkai sebuah isu tertentu.

Nah, ketika media telah memberitakan kasus ISIS yang bercampur, berarti media telah melakukan trial by the press melalui ‘bingkai’ libeling (pemberian julukan buruk) bahwa agama Islam ataupun kaum Muslimin ‘bangga’ dengan terorisme dan kekerasan.

AS takut di-Yunani-kan

Peneliti kebijakan media, FP. Amalo (2014) menyatakan, jika wartawan televisi mainstream, memiliki ‘kecerdasan’ yang lebih baik, maka mereka akan dengan mudah melihat atau mengetahui siapa yang menjadi the invisible hand dalam setiap kasus terorisme yang melanda berbagai negara, khususnya Indonesia. Amalo (2014) yang penganut Kristiani, mencontohkan bagaimana CIA menjadi the invisible hand dalam kasus Bom Bali I (2002) dan Bom Bali II (2005). Dengan bertujuan mempertahankan hegemoni ekonomi politik AS di Indonesia, CIA mengorbankan citra Islam dengan ‘merekrut’ sejumlah orang Muslim lokal yang nggak pinter dalam memahami ajaran agamanya, untuk berbuat teror yang mengorbankan banyak jiwa.* (bersambung)

Penulis dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cover both sidesISISIslam KTPlabellingmedia sosialnetizenprejudicestereotypeterorismetrial by the press twartawan Indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengadilan Arbitrasi Perintahkan Iran Memberikan Turki Diskon Harga Gas
Tulisan selanjutnya bmkg hujan Menembus Hujan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?