Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Seandainya Saya Pimred METRO TV [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Januari 2016 09:20 9:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Januari 2016 14:10
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Muh. Nurhidayat

Beliau harus diberitahu, bahwa dengan mengikuti kemauannya menyalahgunakan televisi untuk memfitnah wahdah islamiyah demi menutupi kasus beliau, akan membuat saya berpeluang untuk tidak menerapkana asas berimbang dalam meliput Wahdah. Saya juga akan berpeluang untuk melakukan i’tikad buruk terhadap Wahdah.

Sekali lagi, saya perlu mengingatkan kepada pemilik media, bahwa saya secara pribadi tidak menghendaki jika beliau dikecam habis-habisan oleh masyarakat karena mereka menyalahgunakan media massa (televisi) yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi.

Televisi adalah media massa yang menggunakan spektrum gelombang udara agar siarannya dapat diterima masyarakat. Pakar Komunikasi Massa Universitas Diponegoro, Turnomo Rahardjo (2014) menyatakan bahwa spektrum gelombang radio dan televisi adalah ranah publik yang merupakan sumber daya alam (SDA) terbatas, sehingga harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi—pemilik media.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Jika bos saya legowo mengikuti curhatan saya, maka saya lakan menjalankan sebaik mungkin tugas-tugas saya sebagai pimred METRO TV. Saya akan mencontoh wartawan harian New York Times era Adolph Ochs, yang menghindari sikap partisan dalam berbagai hal, termasuk partisan di bidang politik. Kovach & Rosenstiel (2004 : 60) menceritakan, bahwa pada 1896, Ochs membeli harian New York Times yang sedang berada dalam kesulitan—keuangan. Ochs yakin, bahwa masyarakat menghendaki terbitnya media yang akurat, bermutu, dan tidak partisan. Di hari pertama penerbitan “gaya baru” koran berpengaruh di New York itu, Osch menulis tajuk rencana, dengan kalimat bahwa di bawah kepemilikannya, harian New York Times akan bersungguh-sungguh untuk: “Memberikan berita yang tidak berpihak, tanpa—menimbulkan—ketakutan atau miring sebelah (tidak cover both side), tanpa memandang partai, sekte, atau kepentingan lainnya.”

Saya akan memberikan kabar gembira kepada pemilik METRO TV, bahwa Osch berkeyakinan bahwa rencana bisnis (media) yang menempatkan audiens (publik) di atas kepentingan politik pribadi dan keuntungan finansial jangka pendek, adalah strategi (meraih keuntungan) keuangan jangka panjang terbaik (bagi media). (Kovach & Rosenstiel, 2004 : 61)

Saya berharap METRO TV akan mendapatkan seperti apa yang diyakini Osch.

Jika Kabar di Medsos itu Tidak Benar

Namun demikian, jika kabar yang beredar di media sosial itu tidak benar. Jika bos saya tidak terjerat kasus korupsi, atau jika beliau tidak pernah menyuruh saya membuat berita fitnahan atas Wahdah Islamiyah dan Dr. Zaitun. Maka tersiarnya berita awal tahun 2016 ini yang merusak nama baik Wahdah Islamiyah, akan saya anggap sebagai kelalaian saya. Sebagai pimred METRO TV, seharusnya saya terus mengamati wartawan-wartawan saya, agar tetap berada pada jalur profesionalisme jurnalistik. Saya harus tetap menekankan mutlaknya penerapan berbagai etika dan hukum komunikasi yang berlaku.

Maka saya akan meminta maaf kepada pemilik media. Sebab kelalaian ini menyebabkan METRO TV menuai kecaman warga, terutama warga Muslim yang bersimpati kepada Wahdah Islamiyah. Saya juga akan meminta maaf secara langsung kepada Wahdah Islamiyah dan Dr. Zaitun yang telah terganggu citranya. Saya akan beritahukan kepada mereka, bahwa hal ini adalah sebuah kekhilafan saya. Dan saya tidak bermaksud membuat fitnah, apalagi sampai melakukan character assassination kepada Wahdah dan Dr. Zaitun.

Sebagai pimred METRO TV, saya akan memimpin televisi ini untuk meminta maaf secara terbuka atas nama kelembagaan (keluarga besar METRO TV) kepada Wahdah Islamiyah dan Dr. Zaitun. Saya akan siarkan tayangan permohonan maaf itu sesuai dengan durasi dan jadwal yang telah diatur dalam regulasi penyiaraan di Indonesia.

Sebagai pimred METRO TV, saya akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Wahdah Islamiyah (secara kelembagaan) dan Dr. Zaitun Rasmin (secara personal), untuk menggunakan hak hukumnya terkait masalah ini, baik dalam bentuk hak jawab, hak somasi, bahkan hak untuk mengajukan saya maupun METRO TV secara hukum di pengadilan, sesuai dengan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran, serta segala regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, dewan pers, serta KPI.

Namun saya yakin, sebagai umat Muslim yang baik dan santun, para anggota Wahdah Islamiyah dan Dr. Muhammad Zaitun Rasmin sangat pemaaf. Saya yakin, mereka akan memaafkan saya dan seluruh kru METRO TV.

Dan setelah segala proses hukum ini selesai, dan setelah pihak Wahdah Islamiyah maupun Dr. Zaitun sudah merasa puas atas keputusan hukum yang telah ditetapkan pemerintah, maka dengan legowo saya siap mengundurkan diri dari jabatan sebagai pimred dan juga sebagai kawyawan METRO TV. Bagi sebagian orang, mundur dari jabatan bergengsi karena masalah kelalaian adalah hal yang sangat berat dan memalukan. Namun bagi saya, itu bukanlah aib.

Saya yakin keputusan saya justru akan menuai simpati warga. Seperti yang dialami Mat Storin, pemimpin redaksi harian Boston Globe beberapa tahun lalu. Kovach & Rosensteil (2004) menceritakan, saat itu, seorang wartawan Boston Globe bernama Patricia Smith membuat reportase bagus dan meraih penghargaan jurnalistik di AS. Namun kemudian Storin menemukan bukti, bahwa reportase yang dibuat Smith hanyalah cerita fiktif, bukan peristiwa nyata.

Maka memerintahkan Smith mengaku kepada publik tentang kecurangannya dalam melaporkan berita fiktif tersebut. Sebagai pimred, Storin juga meminta maaf kepada warga atas kelalaiannya. Dia pun rela mengundurkan diri dari jabatannya dan dari pekerjaannya di Boston Globe.

Mamang hal ini terasa pahit, orang lain yang melakukan kesalahan / kecurangan, tetapi kita yang ikut menanggung bebannya. Tapi itulah resiko seorang pemimpin. Dan, sikap ksatria Storin pun tidak sia-sia. Namanya tidak rusak, tetapi justru harum di kalangan praktisi maupun akademisi jurnalistik. Sikap ksatrianya menjadi standar etis bagaimana seorang pimred berprinsip, untuk selalu punya hati nurani dalam menolak kecurangan.

Salah satu tokoh jurnalisme yang memegang teguh prinsip Storin adalah Carol Marin, penyiar berita televisi ternama di AS. Dia menegaskan, “ Saya rasa seorang wartawan yang baik adalah seseorang yang meyakini sesuatu sehingga dia sanggup meninggalkan pekerjaan demi keyakinannya itu.” (Kovach & Rosenstiel, 2004).  Wallahua’alam.*

Penulis dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:mediametro TVMetro TV Dan Wahdah Islamiyahterorismewahdah islamiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ujian Bukti Cinta Allah (1)
Tulisan selanjutnya Ujian Bukti Cinta Allah (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Berita
5 Juni 2026 06:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?