Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Merdeka, Merdeka Apanya?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Agustus 2015 08:42 8:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Agustus 2015 08:42
Bagikan
Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), dalam aksi mereka di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya,
Bagikan

 

oleh: Muhammad Mu’alimin 

BAGI kaum ‘’pemuja’’ formalitas, pasti membenarkan  setiap 17 Agustus adalah hari kemerdekaan. Peringatan ini dirayakan di mana-mana. Dari gang, jalan, sekolah, kantor hingga istana.

Apakah kemerdekaan itu hanya sebatas ‘’badaniah – fisik’’ yang seolah terbebas dari jeratan rantai, padahal jiwa dan kebebasannya ‘’tercekik’’ tanpa mereka sadari? Sebenarnya siapa yang butuh perayaan atau upacara formalitas?

Tentu bukan itu yang diharap pendiri bangsa, Soekarno – Hatta!.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

70 tahun Indonesia merdeka, APBN untuk pendidikan minimal 20% dan didukung pendakwah dari 6 agama formal nyatanya belum mampu mendidik – membentuk anak bangsa menjadi manusia – manusia merdeka. Bukankah agama lahir untuk menyingkirkan belenggu kebodohan dan membentuk akhlak anti – penindasan?

Janganlah bangsa ini terus – menerus terjebak kenangan pahit yang memilukan hati. Indonesia harus move on. Kita harus mengutamakan rasionalitas, bukan emosional. Kalau di film ‘’Gie’’ simbol dan gerakan PKI boleh dipertunjukkan / diperagakan, kenapa untuk karnaval dan dalam rangka mendidik siswa sekolah tidak? Kenapa kalau di dunia film bisa? Ada apa sebenarnya ini?

Diakui atau tidak, faktanya PKI pernah mewarnai kenangan dalam sejarah negara ini, meskipun itu kenangan berdarah – darah.

Siapa yang membunuh – membantai paling banyak selain PKI?

PKI itu jahat. Tetapi ada lebih jahakat lagi,  penguasa yang berusaha ’mengkarungi’’ mahasiswa yang kritis.

PKI kita benci, tapi ada yang juga kita benci,  yaitu mereka yang “menjilat’’ kapitalis Amerika Serikat hingga negara ini menumpuk utang yang jumlahnya ribuan trilyun.

Ada faham yang lebih bahaya selain atheisme, yaitu polytheisme. Yaitu mereka yang katanya ‘bertuhan’’ tapi nyatanya menciptakan ‘’tuhan – tuhan’’ baru dalam dirinya alias bertuhan banyak. Tuhan tandingan itu berupa ketergantungan pada bangsa lain, elit pejabat yang sewenang – wenang, atau mereka yang menggantungkan hidupnya pada asing. (ini disitir quran dalam surat Al – Ikhlas).

Jangan kau gampang teriak merdeka. Karena bagaimana mungkin dikatakan merdeka jika dari presiden, gubernur, ustadz, petani, guru hingga tukang ojek atau hampir 80% rakyat dinegeri ini menggunakan mobil – motor buatan ‘’mantan’’ penjajah kita sendiri, Jepang.

Jika kemerdekaan berarti independen dalam mengusahakan diri bangsa ini atas kemauan sendiri, maka saat ini kita masih dalam kondisi ‘’keterjajahan’’.

Parahnya, penjajahan itu dilakukan oleh ‘’saudara’’ kita sendiri. Dan ‘’saudara’’ macam apa yang ‘’menjual’’ gunung emas – tembaga – uranium pada kapitalis Amerika seperti Freeport?

Jika hari ini kita berteriak merdeka, apa tidak malu? Bagaimana mungkin dalam kondisi stabil begini kurs Rupiah mendekati 1.4000 / dollar USA? Ini bukan masa kegentingan politik.

Jika Soeharto lengser karena rupiah anjlok dalam kisaran 16.000 / USD, dan mungkin sebentar lagi Rezim Jokowi mengulangi ‘’ketidakbecusan’’ menjaga kenaikan harga barang – barang pokok untuk perut rakyat.

Maka tidak ada kata yang lebih ‘’sopan’’ dari mulut rakyat kecuali turunkan orang yang bertanggungjawab atas kesengsaraan rakyat.

Merdeka.. Merdeka! Merdeka apanya? Kita lebih bangga makan KFC ketimbang Warteg bukan?

Masjid – masjidmu masih pakai karpet impor dari Turki. Pesawat kepresidenanmu saja buatan Boeing milik Amerika Serikat padahal kita punya pabrik pesawat di Bandung.

Jadi bagian mana yang kamu teriaki merdeka?

Dari celana dalam hingga BH-mu saja buatan China kok teriak merdeka, merdeka apanya?

Kita ini munafik atau bagaimana? Kalau mau merdeka ‘’buang’’ mental gengsi dan sok kaya yang ada dalam dirimu!

Kita ini sok – sokan teriak merdeka atau cuma ‘’merasa’’ merdeka?

Bangun pagi kau makan nasi berasnya impor dari Vietnam. Mandi pagi sabun kita buatan Unilever. Kita berangkat kerja naik bus buatan Jerman. Guru ngaji anak kita sholatnya pakai sajadah buatan Kashmir – Pakistan.

Sampai ana-anak yang jadi mahasiswa, yang menyebut dirinya aktivis kalau haus usai unjuk rasa minumnya Aqua, padahal ada merk lain yang rasanya sama dan harga lebih murah.

Di umur negara yang sudah memasuki 70 tahun ini bukan bicara lagi teriak ‘’Merdeka’’. Itu sangat kekanak – kanakan.

Detik ini mari kepalkan tangan dan ‘’sentil’’ kuping presiden dan para pejabat agar dia dengar suara teriakan perutmu yang lapar.

Pembangunan nasional tidak hanya diukur dari banyaknya anggaran dan tingkat pertumbuhan ekonomi, bahwa selain makan dan minum, rakyat butuh ‘’diajari’’ arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kemerdekaan tidak lahir dari formalitas atau kampanye ‘’sok merdeka’’. Kemerdekaan bukan diukur perginya tentara asing dari tanah pertiwi. Kemerdekaan tidak diukur dari meriahnya lomba – lomba atau karnaval tujuh belasan. Kemerdekaan tidak berupa ‘’taatnya’’ upacara bendera yang dilaksanakan dengan rapi dan disiplin, itu merdeka yang palsu!

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika Jokowi, Menteri dan Anggota DPR atau semua orang di negeri ini sadar, jika selama mata dan cara pandang kita masih terjebak pada apa – apa yang terlihat (matrealisme) atau seolah – olah sudah terasa merdeka, maka itu belum merdeka.

Jika fikiranmu masih ‘’terpasung’’ badaniah formalitas, maka kau tak pernah mampu mengerti arti kemerdekaan.

Kau tak mungkin merdeka jika lebih bangga bekerja keras menjadi Paskibraka demi ‘’pertunjukan’’ 90 menit didepan Presiden ketimbang memilih berkeringat membantu nenek – nenek nyebrang jalan.

Kita belum merdeka karena setiap orang masih dijajah oleh dirinya sendiri. Banyak dari kita merasa bangga jika berjalan pakai Pantovel mengkilat dan berteriak ‘’inilah aku Pejabat Terhormat’’ atau ‘’inilah aku Sang Direktur’’ sedangkan 2 meter disampingnya ada gembel sedang mengemis.

Kita tak mungkin merdeka jika kaum agamawan (Ustad, Pastur atau Pendakwah) dengan bangga turun – keluar dari tempat ibadah sembari berteriak ‘’inilah aku orang baik’’ padahal didepannya ada anak putus sekolah sibuk mengantongi botol Aqua sisa pengajian – jemaat.

Jika semua fakta itu masih ‘’tenang – tenang’’ saja berlangsung di depan mata kita,  maka jangan kita teriak ‘’merdeka’’, kecuai kita  seorang munafik.  Salam “kemerdekaan’’ omong – kosong!

Penulis Ketua DPC PERMAHI Jakarta Selatan – Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Al Azhar Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kemerdekaanmerdeka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jusuf Kalla: Insya Allah Umat Islam Tolikara Aman dan Nyaman Beribadah
Tulisan selanjutnya KPAI Gelar KPAI Award Sebagai Anugerah Pahlawan Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?