Oleh: Muhammad Hanif Alatas
AL -Imam ibnu Maajah ra dalam Sunannya meriwayatkan, Bahwa Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda :
إن أخوف ما أخاف على أمتي عمل قوم لوط
“Sesungguhnya termasuk yang paling aku khawatirkan atas ummatku adalah amal kaum Luth (Homoseks, dsb).”
Dalam hadits lain, al-Imam at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir, begitu pula al-Bazzaar meriwayatkan, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda :
أخوف ما أخاف على أمتي , كل منافق عليم اللسان
” Termasuk yang paling aku Khawatirkan atas ummatku adalah setiap MUNAFIQ yang pandai bersilat lidah ”
Shodaqollah wa Shodaqo Rosulullah Shallallah Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Shohbihi w Sallam. Miris dan tragis, apa yang dikhawatirkan oleh Rosul saw semenjak 14 abad silam, saat ini terlihat jelas di depan mata kita. LGBT (Lesbian, Gay/Homoseksual, Biseksual & Transgender) yang sudah jelas-jelas merupakan sebuah kelainan bahkan penyakit yang menggerogoti Mental, moral dan Fisik, didukung dan dikampanyekan secara besar-besaran.
Tidak tanggung-tanggung, dalam situs resminya, UNDP (United Nations Development Programme) yaitu Badan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Program Pembangunan, merilis bahwa Khusus untuk program LGBT Indonesia, UNDP di tahun ini menggelontorkan dana sebesar US $ 8 juta (kurang lebih Rp. 108 Milyar). Tidak sampai disitu, The Huffington Post memberitakan bahwasanya tidak kurang dari 379 (Tiga Ratus Tujuh Puluh Sembilan) perusahaan AS menjadi sponsor LGBT. (Lihat : http://m.huffpost.com/us/entry/marriage-equality-amicus_n_6808260.html).
Selain mendapat dukungan secara politik dan materil, LGBT juga didukung habis-habisan oleh kelompok kalangan liberal yang berlisan seolah baik, mengatasnamakan agama dengan jargon-jargon menarik, namun hatinya munafik. Tidak heran jika LGBT dan Liberal begitu sinergi, ternyata keduanya memiliki titik temu, yaitu sama-sama hal yang paling dikhawatirkan Rasulullah saw atas ummatnya. Naudzubillah Min Dzalik.
Liberal dan LGBT
Jauh sebelum isu LGBT mencuat seperti saat ini, pentolan JIL, Ulil Abshar Abdalla, menghadiri Konferensi Pers yang digelar PELANGI (Perhimpunan Lesbian dan Gay) di Kantor YLBHI Yogyakarta 2004, untuk menuntut pembuatan UU Perlindungan Lesbi dan Gay (homo).
Prof. Dr. Musdah Mulia, yang merupakan anggota Dewan Pakar Kementerian Agama RI dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Ciputat dalam wawancara dengan Jurnal Perempuan, menghalalkan PERKAWINAN SEJENIS, sehingga pada tanggal 7 Maret 2007 mendapat anugerah “Internastional Women of Courage Award” dari Amerika Serikat.
Upaya pengembangbiakkan LGBT terus berlanjut, tahun 2010 Komnas HAM dan LSM-LSM LIBERAL mencoba menggelar Konferensi Gay Internasional (ILGA) di Surabaya – Jatim, dan Kontes Waria di Depok – Jabar, tapi semuanya gagal karena dibubarkan oleh umat Islam setempat.
Hingga kini, di permulaan 2016, mereka tidak mundur satu langkahpun untuk membela LGBT. Tanpa ragu, secara terang-terangan Kaum liberal membela dan mengkampanyekan LGBT diberbagai media, terlebih media sosial.
Saat para tokoh dan pejabat berbicara tentang bahaya LGBT (Lihat : http://www.habibrizieq.com/2016/02/apa-kata-mereka-tentang-lgbt.html?m=1) seorang liberal Goenawan Muhammad, mengatakan dalam tweetnya ” orang pemerintah yang merasa tau bahwa LGBT tak sesuai dengan moralitas dan pandangan hidup bangsa Indonesia pasti tak baca serat chentini.”
Jangankan pejabat, saat al-Qur’an menceritakan adzab Allah bagi kaum Sodom akibat LGBT, Ulil sebagai dedengkot JIl, berani mempertanyakan Validitas dan Akurasi Kisah Kaum Sodom yang ada dalam Al-Qur’an;
“Kisah Sodom diadopsi oleh Quran dari kisah serupa dalam agama Yahudi. Kita juga tak tahu, kisah itu benar historis atau tidak,” tulisnya dalam laman twitter @ulil, 8/2/16.
Lebih dari itu, pembelaannya terhadap LGBT membuatnya nekat menantang Allah Subhanahu Wata’ala:
“Lihat saja apakah ada adzab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua. :),” tidak cukup dengan itu, Ulil “MENANTANG” Azab Allah dengan bahasa yang lebih frontal “Sekali lagi saya ulang: Jika benar Tuhan mengazab Sodom karena LGBT, kenapa Dia tak mengazab negeri2 yg menolerir LGBT sekarang? Kenapa” Demikian kicau Ulil di twitter, 8 Februari 2016.
Nastaghfirullaah…
Wa Natuubu Ilallaah…
La Haula wa la Quwwata Illa Billaah..
Kaum Liberal memiliki hati, namun sayang seribu sayang, hati yang Allah anugrahkan kepada mereka tidak dimanfaatkan untuk memahami, bahwa Informasi al-Qur’an tentang adzab bagi kaum Sodom adalah pelajaran bagi umat-umat setelahnya, bahwa LGBT merupakan maksiat besar yang mengundang Murka Allah. Justru sebaliknya, mereka menganggap kisah tersebut sebagai mitos, fiktif, dan tidak realistis, hanya karena membela LGBT!
Kaum liberal memiliki mata, namun sayang seribu sayang, mata yang mereka miliki tidak digunakan untuk melihat berbagai penyakit menjijikan yang timbul dari LGBT sebagai peringatan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Justru sebaliknya, dengan penuh kesombongan, mereka seolah “menantang” adzab Allah, hanya karena membela kaum LGBT!
Kaum liberal memiliki telinga, namun sayang seribu sayang, telinga yang mereka miliki tidak dimanfaatkan untuk mendengar, bahwa LGBT adalah virus yang menggerogoti moral, mental dan fisik anak cucu Adam. Justru sebaliknya, mereka menganggap LGBT sebagai hak asasi yang harus dihormati, kebebasan berekspresi yang patut diapresiasi, bahkan solusi efektif bagi pertumbuhan penduduk yang sulit diatasi. Semua ini disuarakan kaum liberal.
Keadaan seperti ini, membuat sikap, reaksi dan kondisi kaum liberal layaknya –maaf seperti binatang, bahkan lebih “binatang” dari binatang.
Allah berfirman;
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ( الأعراف : 179)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [QS : al-A’Rof 179 ]
Karena itu, sudah saatnya pemerintah harus bersikap tegas dan segera. Pemerintah harus bicara, tak bisa diam. Pemerintah harus merehabilitasi dan membina kaum LGBT, agar dikembalikan ke jalan yang benar, sesuai fitrahnya. Begitupula, sudah saatnya kaum liberal bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.*
Penulis adalah Waketum DPP FMI (Front Mahasiswa Islam)