oleh: Idham Oka
Suasana ramai dan berisik mulai menghampiri saat makan malam di Pesantren di daerah Jogja ini. Terlihaat puluhan santri berburu ke dapur tempat untuk mengambil hatah makan malam mereka.
Ada dari mereka yang membawa piring di tangan kanan dan gelas di tangan kirinya. Suasana yang akan jarang ditemukan di kehidupan lain, kecuali di Pondok Pesantren.
Perjugan untuk makanpun dimulai. Santri yang datang pertama kali mengambil jatah nasi yang pertama dan juga jatah lauk-pauk yang pertama.
Alhamdulillah lauk malam ini bisa dikatakan istimewa karena berbeda dari biasanya. Ayam adalah makanan yang ditunggu-tunggu para santri setiap minggunya. Makanan yang dianggap biasa namun sangat luar biasa bila disajikan di hadapan para santri.
Mereka nampak asyik dan senang dengan suasana mengantri, tidak ada yang ramai atau bertengkar gara-gara ingin mendapatkan jatah nasi atau ayam.
Walupaun ada saja satu-dua orang yang memaksa berjubel dan masuk barisan di depannya. Weeeee Tobuuurrrrr….., suara teriakan pendek menggema namun tidak sampai menimbulkan keributan.
Budaya Mengantri
Beginilah suasan pondok pesantren, sungguh berbeda jauh dengan situasi dan kondisi mereka yang belajar di luar. Tidak hanya mereka yang masih duduk di bangku sekolah, bahkan di kalangan orang dewasa budaya mengantri sudah cukup mengkhawatirkan.
Di Indonesia sudah banyak kisah dan berita mengenai korban tewas akibat mengantri jatah Beras Miskin (Raskin) atau bantuan dana dari pemerintah untuk fakir miskin. Mereka bahkan rela menjatuhkan bahkan mendorong orang yang lebih lemah dan tua agar segera mendapatkan jatahnya lebih dahulu.
Kenikmatan yang hanya dirasakan sekejap namun berujung pada kematian karena terlindas oleh orang banyak. Tak jarang ada juga yang karena kehabisan oksigen sehingga mereka susah untuk bernafas dan meninggal dunia.
Sudah saatnya kita miliki budaya tertib, termasuk sabar dalam urusan mengantri. Biasakan berserah diri dan sabar.
Sebab tertib untuk mengantri adalah simbol dari pada umat muslim yang taat akan nilai-nilai peraturan dan tatanan dalam berinteraksi dengan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.
Tidak penting mendapat sedikit ataupun banyak, yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan bersabar. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita.*
Pengajar di Pondok Pesantren Baitussalam Yogyakarta