Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Nativisasi dan Pengaburan Nilai-Nilai Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Januari 2017 15:01 3:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Januari 2017 15:00
Bagikan
Beggy Rizkiyansyah dari Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Bagikan

Hidayatullah.com— Kecenderungan mengembalikan masyarakat kepada nilai-nilai tradisi adalah buah dari gerakan sekularisai yang tujuaannya untuk mengerdilkan Islam.

“Nativisasi merupakan buah dari sekularisme sebagai cara untuk mengerdilkan peran Islam dengan cara menghidupkan kembali budaya pada zaman pra-Islam,” ujar Beggy Rizkiyansyah dari Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) saat membuka perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Rabu malam (18/01/2017) lalu.

Pertemuan ke-12 ini membahas tema “Nativisasi”. Dalam kajian ini, diulas bahwa salah satu sebab pemerintah kolonial dan misionaris berhasil menghilangkan identitas Islam di Nusantara ialah dengan cara mempelajari budaya Indonesia hingga pendidikan dan sosial-politiknya.

Nativisasi Cenderung Tonjolkan Nilai Tradisi dan Kesampingkan Nilai Agama

Pembicara yang enggan dipanggil ‘ustadz’ itu menjelaskan sejarah terjadinya nativisasi di Indonesia di lima daerah, yaitu Batak, tanah Sunda, Jawa, Bali dan Minahasa.

“Pemerintah kolonial dan misionaris sejak abad ke-17 saling membantu untuk menyebarkan paham nativisme dengan menghidup-hidupkan kebudayaan lama yang telah terkubur dan mati dalam masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Tokoh-tokoh nativisme yang namanya sering muncul dalam buku-buku sejarah antara lain Thomas Stanford Rafless dan Van Den Bosch.

Keduanya sangat berpengaruh dalam pengaburan nilai-nilai Islam di Indonesia. Kaum kolonialis dan misionaris memanfaat kaum priyayi sebagai alat untuk menguasai Indonesia. Tujuan yang digadangnya dikenal dengan sebutan “3G” (Gold, Glory, Gospel).

Untuk mencapai tujuan ‘gospel’ ini, misionaris mau melakukan segala cara.

Sekularisasi dan Deislamisasi merupakan Tantangan Pengajaran Sejarah di Indonesia

Banyak sekali efek yang masih terasa saat ini akibat dari gerakan nativisasi. Masyarakat masih menganggap bahwa nilai-nilai Islam bertentangan dengan budaya. Hal ini mendapat tanggapan khusus dari salah seorang peserta kursus singkat SPI Fatahillah.

“Sebagai kaum muslim muda, yang harus kita lakukan adalah melakukan gerakan-gerakan untuk mengislamisasikan budaya Indonesia. Kita harus memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa Islam adalah satu kesatuan dengan budaya Indonesia,” ungkap Tiara Yunanda Putri.*/kiriman Irma Oktiani

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BudayagospelmisionarisnativisasinativismePenjajah Belandatradisi lama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sebut ‘Aksi Bela Ulama’ Ribuan Orang Rela Berpanas-Panasan di Depan Polda
Tulisan selanjutnya Ruh Ulama dan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?