Oleh: Chusnatul Jannah
SALAH satu masalah krusial problem generasi muda saat ini problem identitas dan jati diri. Di saat teknologi informasi melewati batas-batas ruang, tidak sedikit generasi muda terombang-ambing dengan arus hedonis dan permisif.
Sudah banyak contoh pergaulan kekinian anak muda yang kebablasan. Mereka lebih bangga dengan idola kekinian seperti artis –artis sinetron. Pemuda tak lagi semangat, karena banyak dari mereka loyo dengan dunia kebaperannya.
Karena sedikitnya pemudia pembawa perubahan, kini justru muncul gelombang gerakan Barisan Emak-Emak Militan (BEM). Karena para Emak tak kuasa menaruh harapan di tangan mereka.
Pergaulan yang menyesatkan bukan sepenuhnya salah mereka. Kehidupan hedonis-permisif dan sekuleris inilah yang menjadi akar dari cabang-cabang permasalahan yang menimpa generasi muda kita. Bahkan pendidikan karakterpun tak mampu mengembalikan jati diri pemuda sebagai agent of change. Akibat kehidupan hedonis, pemuda hanya tahu apa dan bagaimana untuk bersenang-senang, tak peduli baik buruk, tak peduli halal haram.
Akibat kehidupan permisif, segala hal kekinian dan modern selalu jadi percontohan seolah itu hal wajib yang harus diikuti boleh dinikmati, dan boleh diapresiasi. Karena kehidupan sekuleris, identitas hakiki pemuda banyak tergadaikan dengan gempuran budaya Barat yang sudah menghancurkan anak negeri ini.
Yang Muda yang Didamba
Patut kita renungkan bagaimana contoh pemuda teladan di masa kejayaan Islam seperti Muhammad Al Fatih. Di usianya yang masih belia 14 tahun, beliau sudah hafal al-Qur’an dan menguasai 6 bahasa dunia.
Di usia 21 tahun beliau menggantikan ayahnya sebagai kepala negara di kesultanan Turki Ustmani. Selain itu beliau juga ahli taktik militer, rajin ibadah, bahkan tak pernah meninggalkan sholat malam dan rawatibnya.
Berkat prestasi itulah, Allah Subhanahu Wata’ala berikan kemenangan beliau dalam menaklukkan Konstantinopel yang kala itu bentengnya tidak bisa ditembus selama 750 tahun lamanya. Kekuasaan Byzantium yang adigdaya saat itu takluk di tangan seorang Muhammad Al Fatih.
Sebagai generasi muda Muslim, kewajiban kita untuk mengembalikan identitas hakiki anak-anak muda kita. Agar tidak menjadi generasi muda mudah terombang-ambing dengan arus budaya Barat dan pemikiran yang merusak jiwa raga, maka perlu sekiranya melakukan langkah berikut:
Pertama, memiliki visi yang jelas
Sebagai pemuda harus jelas jati dirinya. Kita sebagai apa dan harus bersikap bagaimana. Sehingga tujuan hidup dan cita-cita itu menjadi terang dan gamblang.
Sebagai pemuda muslim, tentu tidak akan lepas dari visi dasar kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu beribadah kepada Allah serta tunduk dan taat kepada Allah. “Sesungguhnya Allah tidakakanmengubahnasibsuatukaumkecualikaumitusendiri yang mengubahapaapa yang padadirimereka”(QS. Ar-ra’du: 11)
Kedua, peduli sesama
Pantang bagi seorang pemuda untuk bersikap apatis dan cuek dengan kondisi sekitarnya. Karena pemuda adalah agent of change, maka harus tertanam dalam kesadaran kita bahwa kita adalah agen perubahan. Mengubah kondisi yang buruk menjadi kondisi yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang yang lain“. (Hadits Muslim)
Ketiga, bekerjasama dalam Kebaikan
Mengubah kondisi perlu untuk bahu-membahu dan bersama-sama dalam memperjuangkan kebaikan. Sebagaiman sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam: “Mukmin dengan Mukmin yang lain itu seperti satu bangunan; satu sama lain SALING MENGUATKAN.” (Muttafaq ‘alaih).
Keempat, pembelajar
Sebagai pemuda, harus senantiasa menjadi pembelajar. Terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri, meningkatkan kualitas diri sebagai pemuda tentunya, dengan bekal ilmu yang mumpuni agar peran sebagai agent of change dapat terealisasi dengan baik.
Bukankah masa depan itu ada di tangan pemuda? Maka wajib bagi setiap pemuda muslim untuk mengkaji dan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, untuk diamalkan dalam kehidupan.
Kelima, sampaikan Kebenaran walau pahit
Pemuda adalah pribadi yang idealis, produktif, dan berani. Di sinilah cara untuk menghilangkan keloyoan pemuda dengan melantangkan setiap kedzaliman yang terjadi lalu menyampaikan kebenaran itu dengan berani, tidak takut dengan celaan orang yang mencelanya. “Oleh sebab itu, Sampaikan peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya” (QS al-A’la [87]: 9-11).
Masa depan ini Indonesia ini ada di pundak kita. Bangkitlah wahai pemuda Muslim untuk melawan setiap bentuk ketidakadilan dan kedzaliman yang terjadi di negeri ini.
Sudah saatnya pemuda ambil peran, jangan menjadi ‘sampah masyarakat’ sebagaimana ungkapan Arab mengatakan wujuduhu ka ‘adamihi (keberadaannya, sama dengan ketiadaannya). Sungguh sia-sia.
Yuk! Kita rebut Indonesia dengan prestasi dan karya-karya kita agar membawa Islam ke pentas dunia.*
Pembina IYCON (Islamic Youth Community) Pasuruan