Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Kemajuan Barat, Otentikkah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juni 2015 09:58 9:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juni 2015 09:58
Bagikan
Penghormatan penyandang cacat di Amerika: Kemajuan, kebersihan tak bisa jadi ukuran islami atau disebut beradab
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

SEBAGAIAN Muslim Indonesia yang pernah berkunjung, studi ataupun menetap di Barat (Eropa, Amerika dan Australia) cenderung kagum dan membanggakan negeri-negeri tersebut.

Kebersihannya, ketertiban, hingga kedisiplinan seringkali menjadi tolak ukur keberhasilan Barat. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Barat lebih Islami dari negeri-negeri berpenduduk Islam.

Sebagian lagi, tidak cukup bangga dan takjub (baca terkecoh) dengan penampilan fisik kota-kota di Barat, ada yang mengagumi pemikiran para pemikir Barat secara membabi buta. Sampai-sampai mereka lupa bahwa ulama dan pemikir Muslim jauh lebih unggul dari para pemikir Barat. Akibatnya pun jelas, ulama dihujat dan pemikir Barat selalu menjadi kiblat.

Dalam kasus Al-Qur’an misalnya, mereka yang berpikir seperti orientalis menilai bahwa tafsir ulama terdahulu sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman sekarang. Oleh karena itu diperlukan tafsir baru untuk mendekatkan Al-Qur’an dengan kebutuhan zaman. Hermeneutika pun menjadi pijakan mereka dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Ada sebuah pemahaman yang mengkristal menjadi keyakinan bahwa Barat maju karena mengedpankan rasionya. Dan, kalau Islam ingin maju, maka mesti mengikuti cara Barat dalam membangun kemajuannya. Akan tetapi, pikiran-pikiran seperti itu tidak lebih dari cara berpikir anak-anak yang melihat Barat secara tidak utuh, tidak kritis dan tentu saja tidak objektif.

Kebiadaban Barat

Sebagai bangsa Indonesia, kita tidak akan pernah lupa dan tidak boleh lupa bahwa bangsa ini sungguh sangat luar biasa peran dan kontribusinya bagi dunia, terkhususnya Belanda. Meskipun konteksnya kita terjajah. Namun, di saat yang sama, keterjajahan negeri ini adalah kontribusi Indonesia untuk keselamatan bangsa Belanda. Dengan mengambil kekayaan alam Indonesia, negeri cekung yang semestinya tenggelam itu berhasil diselamatkan, hingga hari ini.

“Kekayaan Indonesialah yang sebenarnya ‘mengapungkan’ Holland. Beratus tahun lamanya kekayaan alam Indonesia telah di boyong ke Negara Kincir Angin dan dijadikan ‘gabus alam,’ sehingga negeri yang cekung itu tidak tenggelam ke dasar samudra,” demikian tulis seorang pengisi rubrik Sela di Majalah Swa H.B. Supiyo di edisi XXXI/18-29 Juni 2015.

Belanda tak semata mampu membangun bendungan sepanjang 30 Km dari Provinsi Friesland ke Provinsi Holland Utara, tetapi juga surplus dari sisi pasokan pangan dengan diterapkannya politik tanam paksa. Dengan kata lain, 3,5 abad mereka ‘meminta’ makan ke Indonesia tidak saja membuat mereka bisa makan enak, tetapi juga bisa membangun negaranya dengan lebih baik.

Dan, sebagaimana jamak dipahami, penjajahan itu tidak mengenal nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan. Artinya, kemajuan Barat, atau spesifik dalam hal ini adalah Belanda merupakan hasil dari kerja kotor – kalau tidak dikatakan kejam dan beringas – dalam mengeksploitasi negeri jajahannya.

Tetapi, itu dulu, wilayah sejarah yang mungkin tidak banyak dipahami generasi muda masa kini. Lantas bagaimana dengan masa kini?

Opini Hikmahanto Juwana yang berjudul “Penghalauan Kapal dengan Uang” di Kompas edisi 23 Juni 3015 membuka fakta kebiadaban Barat, dalam hal ini adalah Australia. Pakar hukum internasional itu mencatat bahwa kebiadaban Australia, terutama dalam hal para pencari suaka telah terjadi berulang kali.

Pertama, munculnya berita tentang dugaan pemberian uang sebesar 5.000 dollar Amerika Serikat kepada nahkoda dan awak kapal warga Indonesia yang membawa pencari suaka dengan target kapal yan gmenuju Australia berbalik arah ke Indonesia.

Kedua, “Pada Januari 2014 kapal perang Angkatan Laut Australia saat menghalau kapal pencari suaka, memasuki wilayah kedaulatan Indonesia. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia. Insiden ini selesai dengan permintaan maaf Panglima Angkatan Perang Australia kepada Panglima TNI,” tulis Hikmahanto.

Ketiga, “Selanjutnya, pada Februari 2014 diduga dua kali Australia memasukkan para pencari suaka ke kapal sekoci berwarna oranye tanpa registrasi dan tanda kebangsaan. Sekoci ini kemudian didorong ke wilayah Indonesia.”

Kemudian, Hikmahanto pun menyimpulkan bahwa kebijakan menghalau para pencari suaka adalah pelanggaran HAM yang tidak bisa didiamkan. Berarti, tindakan Australia telah menyelisihi prinsip peri kemanusiaan, yang justru dijunjung tinggi dalam slogan HAM.

Fakta ini mestinya menjadi perhatian penting dan serius bangsa Indonesia. Bahwa kemajuan dari sisi teknologi, militer, ekonomi dan lain sebagainya sebenarnya tidak menjamin sebuah bangsa atau negara itu benar-benar maju, beradab atau berperikemanusiaan.

Dua fakta ini hanyalah sekelumit dari masa kelam Barat yang telah menciptakan lahirnya negara-negara berkembang yang sesungguhnya sampai kini masih terus dieksploitasi tanpa nurani. Wallahu a’lam.*

Penulis pembina Komunitas Muda – Depok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratekonomikemajuanKemanusiaanmilitermoralperadaban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslim Etnis China di Malaysia Ingin Pertahankan Tradisi
Tulisan selanjutnya Inilah 5 Unsur Tindakan Disebut Gerakan Genoside

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an

Berita
12 Juni 2026 21:40
Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Terbaru

  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?