Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menyingkap Teror Bom

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Oktober 2005 05:57 5:57 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Oktober 2005 05:57
Bagikan
Bagikan

Selasa, 18 Oktober 2005

Oleh Fauzan Al-Anshari

Teror bom di Indonesia nampaknya sudah menjadi semacam siklus musiman Yang rutin berputar setiap tahun, sejak Bom Bali I (12 Oktober 2002), Bom Marriott (5 Agustus 2003), Bom Kuningan (9 September 2004), dan Bom Bali II (1 Oktober 2005), s seolah-olah terus-menerus berurutan.

Bisakah kita menghentikan “musim bom” tersebut? Sangat bisa, karena “musim” tersebut bukan ciptaan Allah swt yang mengatur perjalanan alam ini, melainkan hanya rekayasa manusia-manusia yang tak berperikemanusiaan.

Cara membaca “musim” tersebut juga harus dilihat dari berbagai sudut dan didukung sejumlah referensi yang memadai, karena hal itu akan mempengaruhi perspektif seseorang; bagaimana menyikapinya dengan benar.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Cara berpikir stereotipe (baca: kacamata kuda) hanya akan menjerumuskan dirinya ke dalam analisa yang dangkal dan memunculkan sikap yang tidak arif serta merugikan umat Islam secara terus-menerus. Di bawah ini saya ingin menyoroti rentetan teror bom secara utuh, sehingga sikap yang kita ambil juga relatif lebih komprehensif, tidak sepotong-sepotong.

Teror bom di Indonesia sudah sering terjadi. Bahkan sebelum Bom Bali I. Misalnya, bom yang meledak di BEJ dan sejumlah gereja. Pelakunya beragam. Waktu itu tidak pernah muncul istilah Jamaah Islamiyah (JI) yang sekarang selalu dituduh berada di balik teror bom.

Padahal ada juga teror bom yang menimpa KPU, rumah Abu Jibril, dan Markas MMI ketika diresmikan. Lalu siapa pelakunya? Apakah juga JI juga?

Indikasi Rekayasa

Dalam buku “Di Balik Berita Bom Kedutaan Besar Australia & Skandal Terorisme”, ada ulasan menarik berjudul “Zionis Yahudi Meledakkan Nuklir di Kedutaan Besar Australia-Indonesia”.

Laporan itu ditulis oleh analis bom dari Australia Joe Vialls, disertai foto-foto dan hasil rekaman kamera yang tidak dapat berbohong. Misalnya analisa dari bentuk asap yang dihasilkan oleh bom yang meledak di depan Kedubes Australia-Jakarta berwarna putih dan membentuk mirip cendawan (jamur).

Warna dan bentuk asap seperti itu hanya bisa dihasilkan oleh sebuah ledakan nuklir, bukan oleh potassium chlorat atau TNT. Demikian pula bom yang meledak pada Bom Bali I.

Uji coba nuklir AS di gurun Nevada memberikan perbandingan yang nyata, bahwa bom yang meledak pada Bom Bali I dan Kedubes Australia-Indonesia adalah sejenis nuklir. Foto asap pada ledakan Bom Bali I dapat dilihat di majalah Sabili (20 Oktober 2005) yang berwarna oranye dan membentuk seperti jamur.

Selain bekas ledakannya membentuk semacam kawah (lebar 4m, panjang 7m, dan kedalaman 1,5m) dan korban terbakar di dalam kafe Sari Club seperti “bandeng presto”, tubuhnya utuh tapi tulangnya hancur sehingga tidak bisa diangkat kecuali dialasi kain di bawahnya. (Baca hasil temuan Tim Investigasi MUI dan keterangan alm. ZA Maulani).

Jika pelaku kedua bom tersebut adalah JI, maka pertanyaannya adalah, dari mana mereka mendapatkan akses bahan-bahan peledak tersebut. Sementara peran Amrozi yang membawa karbit (potassium chlorat) dari Lamongan ke Bali pada Bom Bali I dapat dideteksi aksesnya. Mengapa handak (bahan peledak) pada Bom Bali II yang sempat dipublikasi media berupa TNT tidak terdeteksi akses perolehannya?.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu langsung dengan Jendral Ryamizard Ryacudu. Saya langsung mendengarkan penjelasannya tentang ketidaksanggupan TNI membuat bom yang meledak di Sari Club itu yang pernah ia sampaikan ketika menjabat KSAD.

Benar, confirmed, TNI memang tidak sanggup membuatnya. Lalu siapa? Saya berseloroh, kalau benar Amrozi yang bikin, maka sebaiknya dia dijadikan penasihat Panglima TNI, Jendral pun tertawa!

Korban Fitnah

Dengarkan pengakuan Imam Samudera yang sempat disebut sebagai aktor intelektual (mastermind) peledakan Babi-1 dan kini sedang menanti eksekusi mati. Ia menulis buku Aku Melawan Teroris! Pada halaman menjelang akhir (269-270) dia menulis:

“Ali Ghufron, Amrozi, Hernianto dan aku sendiri menjalankan ‘rekonstruksi’ tersebut. Disadari atau tidak, pada saat itulah kami semua menjadi pengkhianat, yang mengkhianati diri sendiri, mengkhianati risalah jihad.

Ya, mereka bertiga telah berkhianat untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Dan aku sendiri berkhianat untuk secara tolol mengikuti pengkhianatan itu. Aku terjebak oleh argumentasi setan, “Ini versi Hernianto” yang dilontarkan oleh si “sakit gigi sepanjang hari”. Maka pengkhianatan kami seperti itulah yang disebut ‘fakta’ oleh gerombolan penyidik Bom Bali.

Mengapa hal memalukan itu sampai terjadi? Sebabnya, Hernianto telah ‘gembur’ dihajar polisi pada awal penangkapan. Ali Ghufron babak belur. Amrozi kena damprat. Aku tak berbeda. Kami semua under pressure! (Dalam kesaksiannya pada persidangan Ustad Abu di BMG Kemayoran, dia mengaku ditelanjangi dan disundut rokok oleh penyidik Bom Bali I).

Semoga generasi di belakang hari nanti tidak berbuat sebodoh dan selemah kami dalam menghadapi tipudaya dan tekanan thaghut (setan). Ingatlah bahwa, sesungguhnya tipu daya setan itu lemah! (QS. An-Nisa:76).”

Sekarang mari kita dengarkan bagaimana seorang ulama sepuh terus-menerus terzalimi karena harus menanggung beban fitnah yang tidak pernah dia lakukan. Ya, Ustad Abubakar Ba’asyir yang sangat saya kagumi dan banggakan dan saya bersumpah untuk membelanya sampai titik darah penghabisan.

Ia menulis Risalah Banding untuk mengharap keadilan Pengadilan Tinggi DKI yang dimuat dalam buku “Pengadilan Rekayasa Ustad Abubakar Ba’asyir” halaman 174:

“Saya adalah seorang muslim dan insya Allah beriman, saya berdakwah, mengajar di pondok, menasihati orang supaya berakhlak yang baik, berjuang menegakkan syariat Islam, karena tuntutan tanggung jawab di hadapan Allah nanti dan karena keinginan agar negeri ini menjadi baik, tidak mungkin kalau saya mengetahui suatu rencana seperti pengeboman di Bali itu, lalu saya setujui (seperti tuduhan JPU dan Majelis Hakim), setelah terjadi lalu saya mengecamnya. Itu adalah akhlak munafik, na’udzubillah karena perkara yang sudah saya setujui kemudian saya kecam.

Saya berlindung kepada Allah swt dari akhlak seburuk itu yang tidak bertanggung jawab. Maka saya yakin bahwa tuduhan JPU dalam hal ini yang disetujui oleh Majelis Hakim benar-benar dipaksakan, maka ini benar-benar merupakan fitnah jahat yang disengaja untuk tujuan tertentu.

Maka dengan ijin Allah swt saya berharap agar Majelis Hakim Tinggi dalam membahas dan meneliti keputusan ini hendaknya dengan kejujuran dan nurani bersih, jangan ada tujuan menutupi malu atau karena tekanan asing, sehingga dapat menemukan keputusan yang adil tanpa takut pada tekanan siapa pun, kecuali hanya takut kepada Allah swt. Semoga Allah swt memberi petunjuk kepada Majelis Hakim Tinggi menuju jalan-Nya yang lurus. Amin.”

Ternyata kemudian Hakim Tinggi, bahkan MA tidak mendapat petunjuk Allah swt sehingga mereka kembali menzalimi ustad dengan vonis penjara 2,5 tahun.

Apa balasan bagi orang-orang yang menzalimi ulama? Menurut Rasulullah saw, mereka akan ditimpa bencana yang sangat menyakitkan dan memalukan. Apakah bencana itu sudah mereka rasakan? Wallahu a’lam.

Pelaku Sebenarnya

Kalau sempat, bacalah buku-buku ini, “Terorisme Israel, Membedah Paradigma dan Strategi Terorisme Zionis” (COMES), “Fitnah Itu Akhirnya Terungkap, Investigasi Peristiwa 11-9 dan Perang Amerika Membasmi Terorisme”, karya Dr. Albert D. Pastore, PhD diterjemahkan oleh (alm) ZA Maulani, (9-11), “The Hard Evidence Exposed! The Real Truth” (Fakta Sebenarnya Tragedi 11 September), “American Shadow Government” (Pemerintah Bayangan Amerika), “Bayang-bayang Gurita”, (Mengungkap Pergerakan Freemason dan Organisasi Anti Islam Dunia) ketiganya karya Jerry D. Gray, “Palestina” (Sejarah, Perkembangan dan inspirasi) karya Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, “Perang Afghanistan”, karya ZA Maulani, dan “Perang Iraq-AS”, (COMES).

Juga lihatlah film-film dokumenter terbaik sebagai winner/best picture 2004 cannes film festival seperti “Fahrenheit 9/11”, “911 in Plane Site”, dan “911 Control Room.”

Film-film dokumenter ini langsung disutradarai oleh sineas AS terkenal seperti Michael Moore. Saya yakin kalau anda membaca buku-buku di atas dan melihat film-film tersebut, maka anda akan mempunyai perspektif yang benar terhadap isu terorisme yang diperdagangkan oleh Bush dan konco-konconya.

Jadi, siapa pelaku teror bom di Indonesia sejak BB1? Pelakunya adalah JI, tetapi bukan JI versi polisi, melainkan JI, Jewish Inteligent (Intelijen Yahudi). JI yang terakhir ini diorganisasikan oleh jaringan intelijen terkuat dan tersolid di dunia yakni MOSSAD yang memiliki jaringan kerjasama erat dengan CIA dan MI6.

Lalu bagaimana dengan orang-orang muslim yang menjadi tersangka teroris? Mereka bukan teroris! Bisa jadi, operasi pengeboman mereka di Indonesia –yang saya tolak dan kecam—justru di-dubbing oleh agen-agen Yahudi atau masuk dan terjebak dalam perangkap “tikus” mereka! Wallahu a’lam.

Penulis adalah Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bedah Tuntas ‘Paham Pluralisme Agama’
Tulisan selanjutnya Saddam Diadili Oleh Hakim Pilihan Amerika

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?