Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Islamisasi Pemikiran di Bulan Ramadhan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Juli 2015 08:58 8:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Juli 2015 08:57
Bagikan
Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

SALAH satu produk dari sekularisasi pemikiran adalah pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu pengetahuan tidak dikaitkan dengan agama. Agama tidak mendapatkan tempat dalam proses pengetahuan. Akibatnya adalah, agama tidak menjadi parameter untuk mengukur benar dan salahnya suatu pengetahuan. Inilah salah satu wujud liberalisasi pemikiran.

Liberalisasi pemikiran dan agama cenderung menggiring kepada penistaan dan desakralisasi agama. Sebab, sekularisasi membenci ajaran agama. Seseorang yang membenci agama hatinya terkotori oleh hawa nafsu dan jauh dari Allah. Bentuk-bentuk penghujatan itu bervariasi, mulai menghujat al-Qur’an hingga melegalkan perkawinan sejenis. Jika diamati, penistaan-penistaan terhadap ajaran Islam lebih terkesan emosional, mengumbar nafsu kebencian daripada kesan akademik dan intelek.

Banyak di antara hujatan aktivis liberal yang telah terekam media. Ada yang pernah mengatakan bahwa al-Qur’an telah mengalami copy-editing yang dilakukan sahabat. Wujud al-Qur’an bukan murni kalamullah. Seorang aktivis menulis bahwa Islam adalah ajaran oplosan, campuran berbagai ajaran agama-agama. Ada cendekiawan muda yang menista keagungan Allah sambil mengatakan “Memuja matahari itu jauh lebih penting dari memuja selainnya. Dia selalu memberi kita pagi yang indah ini”.

Jadi, Liberalisasi dan sekularisasi sesungguhnya tidak menididik intelektual kaum Muslim, tapi membuka kran pemikiran yang tidak bermoral. Problemnya kembali kepada hati dan pikiran yang tidak bersih dari konsep-konsep pemikiran asing. Karena mereka berdiri menentang hukum Allah. Kadangkala umat Islam tidak tersadar mendukung kampanye sekularisasi. Oleh sebab itu, hati dan pemikiran yang sekular harus diobati dengan membersihkan dari hawa nafsu, untuk lebih dekat kepada Allah.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Bulan suci Ramadlan merupakan momentum tepat untuk membersihkan virus-virus pemikiran. Ramadlan merupakan ‘madrasah’ untuk membersihkan hati manusia dan membakar (ramadl) kotoran dosa dan nafsu. Ia juga disebut bulan ilmu. Di bulan suci ini Allah subhanahu wa ta’ala  untuk pertama kali menyeru manusia untuk membaca (iqra’) melalui ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam. Pembersihan hati diproses melalui aktifitas keilmuan.

Bulan ini layaknya madrasah yang dipersiapkan untuk mencetak individu-individu beradab (insan adabi). Suasana bulan suci dengan semarah ibadah dan mengaji sangat mendukung untuk melakukan proses islamisasi pemikiran. Masyarakat muslim biasanya lebih taat ibadah pada bulan ini. Kemaksiatan juga relatif berkurang. Oleh karena itu, aktifitas ini melibatkan pemikiran sekaligus hati. Karena dalam Islam, ilmu harus dikaitkan dengan iman. Proses pembersihan ini dapat disebut ‘Islamisasi’. Islamisasi adalah pembebasan jiwa dan pikiran manusia dari unsur kebudayaan dan ajaran yang berlawanan dengan Islam.

Jiwa yang Islami menurut Syed Naquib al-Attas adalah jiwa yang akal dan bahasanya tidak terkungkung oleh mitos, animisme dan budaya sekularisme. Setelah dilakukan pembersihan terhadap unsur asing itu, maka jiwa dan pikiran dimasuki unsur-unsur Islam. Mengembalikan hati untuk kembali beriman, membersihkan pemikiran untuk patuh kepada syariat Allah. Di bulan Ramadlan, umat Islam dilatih melawan hafwa nafsu. Terutama nafsu yang menentang hukum Allah.

Islamisasi pemikiran berarti memperbaiki iman. Ilmu yang dimiliki seorang Muslim harus berdimensi iman. Mindset pemikiran harus ditimbang dengan keyakinan asas dalam Islam, seperti faham tentang Allah, konsep manusia, konsep hidup, konsep jiwa dan faham-faham kunci lainnya. Karena berdimensi iman, maka epistemologi Islam selalu bertaut dengan teologi secara dinamis.

Problem-problem pemikiran seperti maraknya ideologi pluralisme, feminisme, relativisme, sekularisme, dan lain-lain merupakan problem keyakinan. Keyakinan dan hati yang rusak tidak mampu mengontrol pemikiran dan prilakuknya untuk menentang hukum Allah.

Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Dengan demikian, langkah mengislamkan pemikiran yang pertama-tama perlu dilakukan adalah dengan mengikuti petunjuk riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu) seperti yang dijelaskan oleh imam al-Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin. Keyakinan-keyakinan materialistik dalam hati harus dibersihkan. Sebab, hati dan pikiran itu mengontrol dan membentuk perilaku. Beradab atau bi-adabnya perilaku dipengaruhi oleh bersih dan kotornya jiwa.

Jadi, Ramadlan adalah ‘madrasah’ untuk mengislamkan jiwa dan pikiran. Jiwa dan pikiran yang Islami,  yaitu yang bersih, selalu patuh dan tunduk kepada syariat Allah, beradab, bermoral dan terbebas dari kekuasaan nafsu untuk membenci agama. Jiwa dan pikiran yang patuh kepada-Nya terisi nilai-nilai suci, tiada nilai lain kecuali nilai Islam dan kebenaran.

Ramadlan sengaja menjadi tempat untuk mencetak jiwa-jiwa Islami, bukan jiwa yang sekular. Perbanyaklah ibadah, sering-seringlah mengikuti kajian ilmu. Sekali-kali jangan beri kesempatan nafsu untuk menguasai jiwa selama bulan puasa. Jika seusai Ramadlan jiwa kita tetap sekular, maka kita gagal beribadah puasa Ramadlan. Maka, siapkanlah diri sejak sekarang.*

Penulis adalah Pengurus MIUMI Jatim

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminismeideologiliberalismepemikiranpluralismerelativismesekularismeSePILIS
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Padang Kekeringan, Ratusan Warga Shalat Istisqa’
Tulisan selanjutnya Penghujung Ramadhan, Syabab Hidayatullah Serukan Doa untuk Persatuan Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?