Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ulah Makhluk Tanpa Nalar, Itu Buat Elektabilitas Anies Baswedan Meroket

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Juni 2021 06:12 6:12 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Juni 2021 05:45
Bagikan
Bagikan

oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | ADA yang diolok-olok dengan olokan tidak seberapa seseorang bisa tumbang. Namanya jadi tercemar, dan seolah tidak layak dibicarakan. Tumbangnya tentu karena olokan yang punya dasar, meski olok-olok itu tak layak diterimanya.

Tapi ada pula yang diolok-olok dengan kasar, diserang personalnya dan bahkan diperlakukan rasis, diluar batas kepatutan, tapi tidak juga tumbang. Sepertinya olok-olok rasisme yang menyasar personalnya itu tidak berpengaruh.

Rasisme itu mestinya tidak diberi tempat dan ruang, tidak boleh ada celah untuk dijadikan bahan menghabisi lawan. Namun jika yang disasar itu kokoh pribadinya, maka menumbangkan pihak yang disasarnya itu jadi sia-sia.

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, seperti dijadikan samsak hidup untuk digebuki dengan olok-olok, umpatan dan perlakuan rasis atasnya. Samsak hidup itu tidak tumbang meski digebuki dengan keras. Ia tetap berdiri kokoh, tidak berpengaruh. Justru para pihak yang menggebuk itu kelelahan hilang kesadaran.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Baca: Langkah Ganjar Terhenti, Tapi Tidak Langkah Anies

Maka muncul narasi tidak beradab dan fitnah keji, yang tetap Anies tak hiraukan. Anies pede dengan langkahnya, dan sadar tidak ada kesalahan dibuatnya. Jadi meskipun mendapat serangan bertubi-tubi di medsos, Anies tidak perlu repot-tepot merespons. Mungkin pikirnya, ia tak sudi turun kasta seperti mereka yang menghujat.

Dengan tidak direspons hujatan itu, mestinya wajar jika lalu hujatan-hujatan itu berhenti. Tidak efektif. Tapi yang ada justru mereka makin menjadi, seperti bensin tersambar api.

Bensin itu tentu makna metafora dari mereka yang memang bekerja untuk “menggarap” Anies. Mereka itu adalah makhluk berbayar, yang bisa diperintah bicara apa saja, biasa dijuluki dengan manusia tanpa nalar.

Lalu siapa yang membayar manusia tanpa nalar itu, pastilah mereka yang merasa gerah pada goodbener Anies Baswedan, karena langkahnya terhenti, tidak dapat melakukan kebebasan semaunya mengeruk keuntungan, meski dengan melanggar peraturan yang ada. Munculnya Anies menjadikan mereka tidak bisa sebebas dulu lagi.

Baca: Pilihan Anak Muda pada Anies Baswedan Sebagai Presiden, Tidaklah Mengejutkan

BuzzerRp Itu Mubazir

Tidak itu saja, tapi mereka yang merasa bahwa Anies Baswedan bisa jadi pesaing utama dalam Pilpres di 2024. Maka segala cara dilakukan agar Anies bisa tumbang. Maka memakai jasa makhluk upahan tanpa nalar, biasa juga disebut buzzerRp, itu jadi pilihan.

Meski tak tampak efektif kerja para buzzerRp itu, tetap saja dipakai untuk membuat ruang perbincangan jadi bising, penuh aroma tak sedap. Pikirnya, jika upaya terus-menerus disampaikan pada publik, meski itu fitnah, siapa tahu ada yang nyantol mempercayai.

Lagian uang untuk para buzzerRp yang disediakan itu dananya masih tersisa, itu memang proyek untuk menghabisi Anies. Maka jumlah buzzerRp tampak muncul beranak pinak. Meski ada sih satu dua orang yang memilih jalan tobat, tapi yang kelaparan dan memilih hidup tanpa nalar menjadi makin banyak.

Kemiskinan mampu buat manusia tanpa nalar makin banyak, layaknya ternak bebek. Urusan perut menyediakan mereka lapangan kerja, meski harus dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu bukannya tidak mereka sadari. Pada saatnya mereka itu akan bercerita sendiri penuh penyesalan.

Baca: Anies Lepas Saham Perusahaan Bir, Itu Bukan Kaleng-kaleng

Kenapa Anies Baswedan tidak tumbang meski dikeroyok ramai-ramai, itu pertanyaan yang sering tidak terjawab. Meski ada yang menjawab dengan jawaban yang bisa dikata mendekati benar. Bahwa ia tidak melakukan kesalahan dalam tugas-tugasnya. Ia on the track. Bisa juga karena kualitas emosinya yang terjaga dengan baik.

Maka serangan-serangan padanya tidak mampu menumbangkannya. Bahkan serangan-serangan itu terkesan mengada-ada dan dinarasikan berulang-ulang, seperti tak mampu menemukan narasi lainnya. Menggelikan.

Menyerang Anies dengan narasi jahat terbukti tidak menumbangkannya. Justru yang terjadi sebaliknya, elektabilitas Anies makin moncer. Anies Baswedan dalam hampir semua lembaga survei selalu ada di posisi 2 dan 3. Bahkan beberapa lembaga survei menempatkannya di posisi 1.

Artinya, memakai jasa buzzerRp itu cara mubazir. Tidak ada hasil dari pekerjaannya. Hanya buat bising saja, lain tidak. Malah justru Anies Baswedan yang dapat berkahnya. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anies BaswedanBuzzeRpElektabilitas Anies BaswedanGubernur DKI Jakarta
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pembatalan haji Soal Pembatalan Haji, Anggota DPR: Sayangkan Keputusan Pemerintah yang Tergesa-gesa
Tulisan selanjutnya Pemprov NTB Sumbang Palestina Rp 456 Juta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?