Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Abdel Bari Atwan
Problem Barat adalah ketika mereka berpihak kepada rezim-rezim Arab yang bobrok yang selama ini menyengsarakan rakyatnya, demi kepentingan Barat. Kepentingan-kepentingan pragmatis Barat ini tidak lain adalah berupa bisnis senjata, kerja sama intelijen dalam melawan rakyat sendiri, dimana secara riil dapat kita lihat kasusnya di Libya, Suriah, Iraq, dan terakhir Yaman, sebagai bukti.
Cara-cara penyesatan, tipu-tipu dan bohong-bohongan yang dahulu pernah mereka terapkan di Timur-Tengah setelah perang dunia pertama oleh Barat nampaknya sudah tidak bisa lagi diterapkan setelah 100 tahun “Perjanjian Sykes-Picot” berlalu. Timur-Tengah sekarang bukan lagi kawasan Badui nomaden yang mayoritas penduduknya buta huruf dan dapat ditundukkan atau diotak-atik dengan gampang sesuai hawa nafsu sersan Inggris atau sersan Prancis.
Sebagaimana media dan perangkat yang digunakan untuk melakukan penolakan dan perlawanan juga sudah berubah. Pesawat tempur modern super canggih sekarang tidak lagi mampu mengakhiri perang dalam hitungan jam atau hitungan hari seperti di film-film perang Hollywood dulu.
Buktinya, serangan-serangan udara yang dilakukan oleh Amerika terhadap ISIS sudah berjalan selama satu tahun setengah tanpa hasil.
Buktinya, Koalisi Syiah Hautsi (Syiah al Houthi) Yaman dan Ali Abdullah Soleh sampai sekarang belum juga melambaikan bendera putih pertanda menyerah.
Libya masih saja menjadi duri yang membentang di halaman depan Eropa meskipun semua pesawat-pesawat militer NATO sudah mengantor di sana sejak lima tahun yang lalu.
Proses pengamanan yang dilakukan Barat dalam rangka menjaga airport-airport mereka dan berbagai fasilitas umumnya itu, perlu dan sah-sah saja, dan malah wajib dalam rangka menjaga nyawa rakyatnya, namun itu sifatnya hanya sementara dan tidak tepat untuk menjadi solusi keamanan jangka panjang. Sebab, ada puluhan juta warga Muslim yang hidup di Eropa, dan mereka tidak lain adalah perpanjangan atau bagian yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara mereka dan darah daging mereka yang hidup di Timur-Tengah yang setiap harinya dihujani serangan pesawat tempur salibis Eropa, sehingga sudah amat tepat jika kita simpulkam bahwa kelahiran ISIS adalah salah satu dari akibat yang ditimbulkan oleh intervensi Eropa dan Amerika sendiri.
Cobalah jawab dengan jujur, sudah berapa jumlah nyawa tidak berdosa yang gugur diakibatkan oleh pesawat-pesawat tempur koalisi Amerika-Eropa di Reqqah, Dair Al-Zour, Mosul, dan daerah-daerah lainnya?
Kami tau bahwa Anda tidak mau atau memerlukan jawaban. Biar kami jelas kan. Jika ada 10 ribu serangan udara yang kalian lancarkan terhadap kota-kota Muslim tersebut diatas, dan setiap satu serangan merenggut hanya 1 nyawa saja dari warga sipil yang tidak berdosa dan tidak ada hubungannya dengan ISIS dan bahkan benci sekali dengan ISIS; berarti sudah ada 10 ribu nyawa yang melayang tanpa tau apa salahnya.
Bagaimana, kalau setiap kali serangan udara memakan korban 10 nyawa, 25 nyawa, 115 nyawa? Silahkan hitung sendiri.
Kita bukannya tidak ikut berduka dan berbelasungkawa pada korban-korban ledakan Brussels, kerena semua korbannya adalah rakyat sipil yang tidak berdosa. Kami juga ikut mengecam semua serangan yang menargetkan manusia-manusia tidak berdosa, terlepas dari manapun mereka berasal dan terlepas siapa saja yang menjadi aktor di belakangnya.
Namun Jangan lupa, jumlah korban manusia tidak berdosa yang gugur di pihak kami oleh ulah kalian jauh lebih besar dari yang gugur di Paris dan Brussels, sehingga sudah sangat tepat jika kami terlebih dahulu bersimpati pada korban-korban yang gugur dari keluarga kami di kawasan, sebagaimana kami juga meminta Anda semua untuk memberikan simpati kepada korban sipil yang gugur di berbagai kota di Timur-Tengah. Karena mereka juga manusia biasa yang terbuat dari daging dan darah, bukan robot. Mereka juga punya keluarga, orang tua, anak-anak dan istri.
Ledakan Brussels dan ledakan Paris harusnya sudah bisa dijadikan semacam muqaddimah untuk mengevaluasi dan meninjau kembali berbagai siasat dan kebijakan Eropa dan Amerika yang sifatnya jangka pendek yang diskenarikan oleh orang-orang yang menginginkan Barat dan ketangguhan militernya sebagai alat untuk kepentingan sebuah negara yang bernama Israel, baik secara langsung atau tidak langsung, sehingga Barat senantiasa diprovokasi untuk merusak perdamaian.
Selama Barat dan Amerika tidak merubah gaya politiknya maka ledakan-ledakan balasan akan terus berdentuman di jantung-jantung kota di Eropa dan lambat laun akan berdentum pula di Amerika, meskipun pemeriksaan keamanan dibuat super ketat. Semoga pertemuan dan wawancara Obama dengan majalah Atlantic bisa menjadi awal yang baik terkait evaluasi politik yang tadi kami sampaikan.
Ledakan-ledakan ini dan para pelakunya ingin menyampaikan pesan berdarah kepada Eropa dan Amerika dengan bahasa yang sangat jelas, bahwa: “Senjata Kalian Akan Kami Tusukkan ke Jantung Kalian Sendiri! Berhati-Hatilah!”
Abdel Bari Atwan adalah pemimpin redaksi Rai al-Youm, situs berita dan opini berbahasa Arab. Artikel diambil dari Rai al-Youm, diterjemahkan Syafruddin Ramly