Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kuatkan Ukhuwah, Kuatkan Persatuan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Mei 2017 16:13 4:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Mei 2017 16:13
Bagikan
Bagikan

Oleh: Suhari Rofaul Haq

 

UMAT Islam harus menyadari bahwa dalam Islam memelihara ukhuwah islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim. Karena itu, lalai atau bahkan merusak jalinan ukhuwah islamiyah adalah dosa, sebagaimana meninggalkan bentuk kewajiban-kewajiban yang lain. Setiap Muslim dan setiap komponen umat Islam sudah sepantasnya melakukan ta’âruf (saling mengenal), ta’âluf (saling merekatkan), tafâhum (saling memahami), tafâqud (saling respek/peduli) dan ta’âwun (saling menolong).Semua itu akan menjadi kunci pembuka hati persaudaraan, menambah kedekatan, menciptakan kesepahaman dan sikap toleran sekaligus menghilangkan sikap iri dan dengki.

Fakta Empiris

Sejarah mencatat bahwa umat ini pernah menyandang predikat menjadi umat terbaik selama belasan abad. Gelar tersebut diraih ketika umat berpegang teguh pada ajaran islam. Yakni, penerapan Islam  sebagai sebuah sistem dalam bingkai Khilafah Ar Rosyidah. Namun kondisi memilukan mulai terjadi lantaran benteng islam tersebut diruntuhkan kaum kafir.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Setelah keruntuhan Khilafah, kaum kafir penjajah secara terus menerus tetap  melakukan upaya penghancuran sampai hari ini. Mereka melemahkan umat dengan membagi wilayah  menjadi puluhan negara-bangsa.

Untuk melanggengkan jajahan mereka menempatkan para penguasa  yang setia melayaninya. Kapitalisme-sekularisme -demokrasi menjadi ajaran yang wajib diterapkan para penguasa jika ingin tetap duduk dikursi kekuasaan. Jadilah umat ini tercerai berai yang menjadikan kepentingan dan manfaat belaka sebagai ikatannya,bukan islam lagi.

Baca: Inilah 5 Keutamaan Manisnya Ukhuwah Islamiyah

Usaha untuk mengembalikan kejayaan islam telah dilakukan banyak jamaah pergerakan.  Jamaah tersebut ada untuk memenuhi seruan Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah Ali Imran ayat 104. Allah Subhanahu Wata’ala meminta agar  ada di antara umat Islam kelompok yang bekerja untuk menyerukan Islam dan melakukan amar makruf  nahi mungkar. Bertahun tahun sudah jamaah berusaha sekuat tenaga  untuk mengembalikan benteng perisai umat. Usaha tersebut belum mengantarkan pada tujuan utama , meski umat mulai sadar akan kewajibannya.

Semua jamaah  harus menyadari,  bahwa kegagalan mereka  karena ada musuh yang selalu berusaha menghalangi perjuangan. Musuh sebenarnya adalah kapitalis yang dipimpin negara adidaya Amerika serikat.

Ya,kumpulan negara-negara penjajah. Yang semua insfrastruktur mereka miliki., Mulai dari kekayaan melimpah hasil jarahan,media pembentuk opini-penebar fitnah,tehnologi canggih, jumlah pasukan yang tak terhingga bahkan para penguasa boneka yang siap mengabdikan dirinya 24 jam penuh tanpa syarat. Semua musuh miliki,yang tidak ada hanya satu yakni ridha pencipta.

Ukhuwah islamiyah adalah rantai ikatan suci yang tak kenal batas wilayah.Tidak seperti nasionalisme. Di Indonesia, nasionalisme hanya ada dari Sabang sampai Merauke. Melewati garis batas negara, nasionalsme pun hilang.Makanya wajar-wajar saja, Indonesia (walaupun berpenduduk Muslim terbesar dunia), tidak galau waktu Afganistan, juga Palestina, dibombardir Israel.Tidak perlu dipikirkan mereka nun jauh di sana. Pikirkan saja negeri sendiri. Begitu kata para nasionalis. Ungkapan seperti ini tidak akan muncul jika ukhuwah islamiyah yang dijadikan pemersatu. Seharusnya sakit Palestina adalah juga derita Indonesia. Air mata Afganistan juga sedih Indonesia. Alasannya sederhana, kita sama-sama Muslim. Kaum muslim ini ibarat satu tubuh, kata Rasulullah saw., bila satu sakit maka sakit pulalah bagian yang lain. Ukhuwah islamiyah satu-satunya ikatan yang mampu menembus garis batas negara, garis imajinatif yang sengaja dibuat kaum kafir untuk memecah belah umat.

Baca: Ingin Satukan Ormas Islam, MUI Susun Panduan Ukhuwah

Kalau di al-Quds, kita punya Salahuddin al-Ayubi. Di Indonesia, ada Pangeran Diponegoro. Dua pahlawan Islam ini punya kesamaan, sama-sama menentang dominasi kafir penjajah.Diponegoro berjuang atas dasar cinta kepada Allah dan jihad. Ini terbukti dalam surat seruan jihad yang dikirimkan Diponegoro untuk masyarakat Kedu. Ada isinya yang begitu menggetarkan jiwa, “Jikalau sudah sampai surat undangan kami ini, segera sediakan senjata, rebutlah negeri dan ‘bentuklah agama Rasul’.Kalau saja ada yang berani tidak percaya dengan bunyi surat saya ini, maka akan saya penggal lehernya.” Apakah ini kalimat dari seorang nasionalis? Bukan.Ini kalimat yang kental dengan seruan keimanan dari seorang jihadis.

Ini baru Diponegoro.Belum lagi kita bicara tentang Imam Bonjol dengan Perang Paderi-nya.Tengok pula Kapitan Pattimura yang bernama asli Ahmad Lusy, seorang pejuang Islam asal negeri Ambon Manise.Sejarah telah “mengkristenkan” dan menghilangkan identitas mujahidnya.Mari kembali membaca sejarah.Kemerdekaan Indonsia tidak lahir dari semangat nasionalisme, tetapi muncul dari semangat jihad dengan dorongan keimanan semata.

Begitu rindu kita pada suasana sejarah pada tahun 1566. Waktu itu Sultan Alaiddin Riayat Syah, penguasa negeri Aceh Darussalam, mengirimkan surat kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni. Suratnya berisi sebuah pengaduan bahwa armada laut Portugis sering menganggu pedagang Muslim yang sedang berlayar; juga kerap lancang menghadang jama’ah haji di Selat Malaka, yang hendak menuju Makkah.Aduan ini direspon Sultan dengan mengutus bala tentara bantuan.Dikirim secara bergelombang.Yang dikirim pun bukan tentara sembarangan, namun 500 tentara yang ahli seni bela diri, juga lihai mempergunakan senjata.

Baca:  Dialog Ukhuwah NU, Muhammadiyah dan Persis Mesir: Tak Perlu Perbesar Furu’

Inilah indahnya ukhuwah islamiyah. Aceh Darussalam tak merasa sendiri saat itu.Mereka percaya, punya saudara seiman yang siap membantu, juga saudaranya yang ada di pusat Kekhilafahan.Khilafah menganggap Nusantara adalah bagian darinya.Tak ada alasan untuk menolak permohonan bantuan dari sesama Muslim walau membentang jarak yang begitu jauh. Nasionalisme, tidak akan bisa begitu. Ikatan dan kepeduliaannya hanya sebatas wilayah negara.Sekarang Mujahidin Suriah memanggil-manggil dunia Islam untuk membantu. Namun, semua diam. Lagi-lagi, logika nasionalisme yang dipakai: Itu urusan luar negeri, tak perlu terlalu dirisaukan.

Untuk membendung arus kebangkitan Islam, Barat bisa kompak dan bersatu padu  dalam memaksakan penerapan demokrasi-sekularisme pada negeri-negeri muslim. Justru yang mengherankan,  persatuan belum bisa terwujud pada jamaah islam. Jamaah masih sibuk dan merasa cukup dengan agenda masing-masing. Padahal persatuan adalah ajaran islam dan  kunci kekuatan umat, Persatuan Allah Subhanahu Wata’ala wajibkan dengan  ukhuwah islamiyah yang mendasarinya.  Disinilah pentingnya seluruh jamaah islam harus menjadikan penerapan sistem islam  sebagai  agenda utama umat,  Jangan pernah tergoda lagi dengan sistem musuh yang sengaja  mereka siapkan. “Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”.(Qs Al-An’am : 153). 

Satukan Langkah

Saat ini umat sedang dalam genggaman musuh. Umat menjadi pesakitan,tertuduh dan selalu dihinakan karena lemahnya ukhuwah islamiyyah, ” Aku (Allah Subhanahu Wata’ala) tidak akan menjadikan umatmu dikuasai oleh musuh dari luar mereka yang melucuti pelindung kepala mereka, meskipun mereka diserang dari berbagai penjuru, kecuali jika sesama umatmu saling menghancurkan dan saling menawan (HR. Muslim).  Perselisihan yang sedang  menimpa umat bisa berakibat  kebinasaan , “Janganlah kalian berselisih, Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah berselisih lalu mereka binasa.” (HR. Bukhari).

Umat Islam terutama jamaah dakwah hendaknya menjadi sponsor dan menjadi jembatan terwujudnya ukhuwah islamiyah. Hingga umat menjadi  kuat dan musuh berfikir ulang jika ingin berbuat negatif. Fakta telah membuktikan hebatnya ukhwah islamiyah, dunia terkejut dengan gagalnya calon gubernur non-muslim dalam pilgub DKI 2017 setelah umat menunjukkan persatuanya dalam membela agama yang dinista.

Baca: “Pesan Ukhuwah” Guru Sidogiri Menjadi Viral di Media Sosial

Cara efektif menuju persatuan tersebut adalah kembali pada aturan Allah swt. Imam Al Qurthubi mengatakan, “Maka Allah Subhanahu Wata’ala mewajibkan kita berpegang kepada kitabNya dan Sunnah NabiNya, serta -ketika berselisih- kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan.Hal itu merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya mashlahat-mashlahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab”.(Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/164).Dengan persatuan kita buat Allah Subhanahu Wata’ala senang meski kafir munafiq tidak tenang.

Saat HTI mengalami ujian. Ancamam pembubaran sedang ditebar. Sebagai saudara seakidah kita wajib membelan haknya untuk berserikat. “Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apa yang sedang menimpa HTI kemungkinan besar juga akan menimpa jamaah lainya. Maka semua jamaah pergerakan wajib merapatkan barisan, bahu membahu melawan musuh sebagai konsekwensi keimanan didada.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim). Apa yang sedang dirasakan HTI bisa jadi suatu saat akan menimpa kita semua. Saatnya jalin ukhuwah islamiyah demi persatuan umat. Kalau tidak sekarang kapanlagi , dan kalau tidak kita  lantas siapa lagi? Wallahu a’lam bish showab.*

Direktur PSAC (Political and Strategic Analysis Centre)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:barisan islampersatuanpersatuan umatUkhuwahukhuwah Islamiyahumatummat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Imbauan MUI Soal Homoseksual: Tokoh Agama Gencarkan Pencerahan, Penegak Hukum Bertindak Tegas
Tulisan selanjutnya Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat

Berita
12 Juli 2026 17:41
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?