Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

What’s Next, Setelah Lebaran Usai?

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 5 Juni 2020 19:28 7:28 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 5 Juni 2020 19:23
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

 

Hidayatullah.com | LEBARARAN kali ini memang terasa berbeda. Banyak ke-khas-an yang sudah mentradisi di tanah air yang kali ini mesti rela terlalui.

Mudik kini dilarang, sungkeman kepada orang tua di kampung juga terhalang, halal bi halal dengan kerabat secara fisik tidak bisa karena kampung-kampung diberi portal yang menghadang, bahkan sholat Ied di beberapa wilayah pun ada yang dilarang.  Semua karena alasan pandemi Covid 19 yang masih mewabah di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Namun di balik bencana, pasti Allah selipkan hikmah yang menyertainya. Ramadhan yang sepi tahun ini nampak hendak mengingatkan kita bahwa Allah Swt bisa tetap “ditemui” meski dalam sunyi.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Di zaman yang mana manusianya serba berburu viral ini kita hampir terlupa bahwa manusia sesekali juga membutuhkan “kesunyian” di dalam hidupnya. Bahkan para salaf saleh menjadikan beberapa bagian waktu dalam kesehariannya untuk “menyepikan diri”

Biasanya di sebagian malam para salaf saleh memiliki waktu khusus untuk menyepikan diri dari hiruk pikuk dunia. Mereka berkhalwat dengan TuhanNya dalam sepinya itu.

Rabiah Al Adawiyah bahkan selalu bersedih manakala waktu pagi telah datang.  Menurutnya, di sepanjang malam hari dia bisa “bermesraan ria” berdua saja dengan Allah Swt, seakan-akan Allah Swt adalah miliknya pribadi.

Dan bagi para solihin, waktu malam terutama di sepertiga akhir memang merupakan “hari raya”.

Sebab ada hadis yang menyatakan,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun (turunnya cahaya kasih sayang; lihat : Fath al-Bâry, juz III, halaman 31) pada setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni.” (HR: Bukhari-Muslim).

Para Solihin merasa “memiliki” Allah seutuhnya di waktu sunyi malam di saat jutaan manusia lainnya terlelap. Sedangkan di pagi hari di saat semua manusia terjaga, Allah menurut Rabiah Al Adawiyah sudah kembali menjadi milik semua manusia alias tidak khusus miliknya dan para solihin saja.

Di sinilah makna kesunyian yang bisa kita ambil hikmahnya. Bahwasannya terkadang hiruk pikuk duniawi ini telah melalaikan kita dari mengingat Allah Swt.

Sehingga kemesraan antara kita dan Allah Swt makin lama makin pudar. Nah, momen wabah yang mensunyikan Ramadhan dan lebaran kali ini bisa jadi salah satu bentuk cinta Allah agar kita menguatkan kembali kemesraan kita denganNya yang mulai merenggang itu.

Hakikat Idul Fitri

Dikisahkan bahwasannya Amirul Mukminin Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kwh pernah suatu hari di hari lebaran didatangi beberapa orang. Orang-orang tersebut terkaget manakala mendapati di hari lebaran ternyata di rumah Sayyidina Ali hanya tersaji makanan berupa roti kering kualitas rendah yang merupakan konsumsi kalangan jelata.

Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau berkata bahwa Idul Fitri bagi beliau bukanlah perkara baju baru atau makanan enak. Bagi sang Pintu Ilmu itu, tiap hari adalah Idul Fitri selama beliau tidak melakukan maksiat kepada Allah Swt dan ketakwaan beliau selalu meningkat kepada Allah Swt.

قال أمير المؤمنين الامام علي كرم ﷲ وجهه: ليس العيد لمن لبس الجديد، وإنما العيد لمن أمن الوعيد

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kwh berkata, “Bukanlah hari raya idul fitri itu bagi orang yang berbaju serba baru, idul fitri hanyalah bagi orang yang percaya kepada hari pembalasan.”

Senada dengan Sayyidina Ali, Imam Hasan Al Bashri sang pemimpin kaum soleh di zamannya juga berkata,

قال الحسن البصري: كل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد

Berkata Imam Hasan Al Bashri, “Setiap hari yang mana Allah tidak didurhakai adalah merupakan hari raya.” (Latho’iful Ma’arif halaman 278).

Ada pula maqolah masyhur yang menyebutkan,

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعاته تزيد

“Bukanlah lebaran itu bagi orang yang berbaju baru akan tetapi idul fitri adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

ليس العيد لمن تزين باالملبوس والمركوب ولكن العيد لمن غفر له الذنوب

“Bukanlah idul fitri itu bagi orang yang menghias dirinya dengan pakaian dan kendaraan baru. Akan tetapi Idul Fitri adalah bagi orang yang diampuni dosanya.”

Inilah sebenarnya hakikat lebaran yang kini mulai tersamar dari pandangan kaum Muslimin. Karena diakui atau tidak hari ini umat Islam telah diperdaya sedemikian rupa oleh para musuh Islam.

Nilai sakral ritualitas ibadah mereka kian dibajak menjadi seremonial belaka. Ramadhan yang penuh berkah mereka bajak menjadi “festival” untuk menjajakan produk mereka.

Diskon belanja baju, makanan, tempat wisata yang dilabeli berkah Ramadhan laris manis diburu umat Islam.  Sedangkan esensi Ramadhan yang hendak menjadikan kita kembali ke fitrah kian lama kian buram.

Maka wajar jika kini lebih banyak penikmat suasana Ramadhan daripada pelaku ibadah di bulan Ramadhan. Lebih banyak pemburu diskon belanja daripada pengejar obral pahala di bulan Ramadhan.

Dan ketika digaung-gaungkan slogan kembali ke fitrah di hari kemenangan, maka kita bisa bertanya kepada diri sendiri, kembali ke fitrah yang mana dan menang dari siapa? Wallahu A’lam Bis Showab.*.

Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KemenanganRamadhanusai Ramadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Musyawarah dan Kebijakan
Tulisan selanjutnya Penduduk Libya Rayakan Pembebasan Tripoli dari Milisi Haftar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Berita
29 Agustus 2026 14:04
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
“Saya Menyebarkan Berita Palsu,” aku Pejabat Komunikasi ‘Israel’
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Terbaru

  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
  • Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
  • Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?