Oleh: Abu Muhammad Waskito
Catatan 13
ULAMA-ULAMA kontemporer yang disebutkan itu tidak akan bisa menutupi pandangan Imam Ahmad bin Hanbal tentang Syiah Rafidhah. Berkata Al Khilal, mengabarkan kepadaku Abdul Malik bin Abdul Hamid, dia berkata: aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata: “Siapa yang mencaci (Sahabat) aku takut dia akan menjadi kufur seperti Rafidhah.” Kemudian beliau berkata: “Siapa yang mencaci Sahabat Nabi n, kami tidak merasa aman bahwa dia akan melesat keluar dari agama ini.” [As Sunnah lil Khilal, juz 2, hlm. 557-558]. Sebagian perkataan ulama ini kami ambil dari situs Khayma.com, dalam artikel berjudul: Ar-Rafidah as Syi’ah: Min Aqa’idi Rafidhah, Hiqdihim ‘ala Ahlis Sunnah, At-Taqiyyah, Ghadrihum, Bara’atu Ahlil Bait Minhum, Aqwalil Ulama. Sebagian lain kami himpun sendiri, bi idznillahil ‘Azhim].
Namun, yang tak kalah pentingnya, semua pernyataan bijak di atas tidak akan banyak manfaatnya, kecuali jika para pengikut mazhab-mazhab dalam Islam benar-benar dapat bersikap dan membawa diri sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan Islam.
Termasuk di dalamnya sikap menghormati keyakinan mazhab yang berbeda, mendahulukan persangkaan baik (husnuzh-zhan), juga kesediaan melakukan verifikasi (tabayun) dalam hal adanya tuduhan-tuduhan terhadap mazhab tertentu.
Catatan 14
Justru kata-kata seperti ini lebih tepat diarahkan ke kaum Syiah sendiri. Seperti disebut oleh Ustadz Adian Husaini dalam Solusi Damai Sunnah-Syiah, yang dimuat di jurnal Islamia, Republika, “Jika kaum Syiah mengakui bahwa kaum Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogianya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Islam Sunni. Hasrat mensyiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri ini. …itulah jalan damai untuk Muslim Sunni dan kelompok Syiah.” (Jurnal Islamia Republika, 19 Januari 2012, hlm. 23). Fakta berbicara, dari tahun ke tahun, pemeluk Syiah semakin bertambah. Jika demikian, lalu siapa sebenarnya yang lebih agressif dan merasa paling benar sendiri?].
Yang terpenting di antaranya adalah tidak merasa benar sendiri dan menganggap keyakinan mazhab lain sebagai salah, apalagi kemudian merasa perlu mendakwahan mazhabnya serta berupaya mengubah keyakinan para pengikut mazhab lainnya.
Catatan 15:
Lebih penting lagi ialah hidup di atas kejujuran dan tidak menjadikan kedustaan sebagai agama. Termasuk tidak bermain-main data dan retorika, untuk mengelabuhi orang-orang awam dari kalangan Ahlus Sunnah. Harus dipahami dengan jelas, bahwa di kalangan Syiah, sudah dimaklumi bahwa mereka mengkafirkan kalangan Ahlus Sunnah, menghalalkan harta, kehormatan, dan darah Ahlus Sunnah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, juz 28, hlm. 261-262 menjelaskan, “Mereka (Rafidhah –pen.) mengkafirkan seluruh umat Muhammad, mulai dari yang awal hingga akhir. Mereka mengkafirkan semua orang yang meyakini kelurusan Abu Bakar, Umar, kaum Muhajirin, dan kaum Anshar. Mereka juga mengkafirkan orang yang meridhai hal itu, atau orang yang memohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah, sebagaimana yang Allah perintahkan. Karena itulah mereka mengkafirkan tokoh-tokoh umat Islam seperti Said bin Musayyib, Abu Muslim Al-Khaulani, Uwais Al-Qarni, Atha’ bin Abi Rabbah, dan Ibrahim An Nakh’i. Begitu juga dengan Malik, Al Auza’i, Abu Hanifah, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ats-Tsauri, As-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyadh, Abu Sulaiman Ad-Darani, Ma’ruf Al-Kurkhi, Al Junaid bin Muhammad, Sahl bin Abdullah At-Tasatturi, dan tokoh-tokoh lainnya. Kaum Syiah Rafidhah berkeyakinan bahwa kekafiran mereka yang disebutkan tadi itu, jauh lebih berat dibandingkan kekafiran Yahudi dan Kristen. Sebab kaum Yahudi dan Kristen itu –menurut mereka- kafir asli atau sejak awal. Sedangkan mereka adalah kafir karena murtad. Kekafiran karena murtad jauh lebih berat dibandingkan kafir asli, menurut kesepakatan ulama. Sampai-sampai mereka berpendapat bahwa Abu Bakar, Umar, mayoritas kaum Muhajirin dan Anshar, para istri Rasulullah, seperti Aisyah, Hafshah, para pemimpin dan umat Islam secara umum, tidaklah beriman kepada Allah sama sekali. Pasalnya, keimanan yang diikuti dengan kekufuran, tidaklah diterima dan tidak sah.” (Khawarij dan Syiah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, hlm. 178-179).
Sekarang masalahnya, kita lebih percaya kepada Ibnu Taimiyah atau kepada pengurus YMIB itu?].
Akhirnya, marilah kita tutup seruan kerukunan umat ini dengan mendengar peringatan dari 2 tokoh besar dalam kedua mazhab Islam ini.
Ustad Anwar Jundi dan kitabnya Al-Islam wa Harikah al-Tarikh berkata: “Sejarah Islam penuh dengan pertentangan dan perseteruan pikiran serta pertikaian politik antara Ahli Sunnah dan Syiah. Para agressor asing sejak Perang Salib sampai sekarang selalu berusaha memanfaatkan pertentangan ini dan memperdalam pengaruhnya agar persatuan dunia Islam tidak terwujud.”
Sementara itu, Imam Khomeini dalam salah satu khutbahnya menyatakan: “Tangan-tangan kotor yang telah menciptakan pertentangan di dunia Islam antara Sunni dan Syiah… Mereka adalah perpanjangan tangan imperialis yang ingin berkuasa di negara-negara Islam. Mereka adalah pemerintahan-pemerintahan yang ingin merampok kekayaan rakyat kita dengan berbagai tipuan dan alat dan menciptakan pertentangan [dengan nama Syiah dan Sunni.”
Catatan 16
Sebenarnya, kalau kaum Muslimin jeli membaca sejarah, mereka akan tahu, siapa yang sangat beringas dalam sejarah Islam? Siapa yang membuka pintu bagi Tartar untuk menghancur-leburkan Dinasti Abbassiyah di Baghdad? Siapa yang membangun Dinasti Shafawid dan Fathimiyah, yang selalu memusuhi Ahlus Sunnah (Abbassiyah, Saljuqiyah, Ayyubiyah)? Siapa yang dibersihkan oleh Shalahuddin Al Ayyubi dari barisannya? Siapa yang beraliansi dengan Portugis dan Inggris dalam rangka memerangi Dinasti Turki Utsmani? Semua itu dilakukan oleh Syiah Rafidhah yang meyakini kekufuran Ahlus Sunnah.
Bukan hanya di masa lalu, di era modern makar Syiah juga terus-menerus menimpa Ahlus Sunnah. Syiah Rafidhah telah menindas kaum Ahlus Sunnah di Iran dan membunuhi ulama-ulamanya. Mereka kini menguasai Libanon dan menyingkirkan pengaruh Ahlus Sunnah di sana. Mereka menjerumuskan para pejuang Palestina (Hamas) dalam aliansi yang sangat merugikan. Mereka selalu memicu kerusuhan di Karachi Pakistan. Aliansi Syiah di bawah Jendral Rasyid Dustum, memerangi pemerintahan Burhanuddin Rabbani dan Thaliban, di Afghanistan. Syiah di Iraq menindas kaum Ahlus Sunnah dan berambisi menjadikan Iraq sebagai basis Syiah murni (pasca kekuasaan Saddam Husain). Syiah Nushairiyah di Suriah sejak era Hafezh Assad sampai Bashar Assad, telah membantai ratusan ribu kaum Muslimin, dan hendak menjadikan umat Islam sebagai orang-orang musyrik yang menyembah Bashar Assad. Wal ‘iyadzu billah. Syiah Houti di Yaman menyerang markas Muslim Sunni di Dammaj, Yaman. Syiah selalu membuat manuver di Bahrain, Saudi Timur, juga di Mesir, untuk melakukan destabilisasi.
Tokoh Syiah mengklaim, bahwa tidak mungkin Amerika akan bisa masuk ke Afghanistan dan Irak, tanpa bantuan mereka. Singkat kata, tidak ada sejarah perdamaian, kerukunan, atau persatuan di antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Mayoritas sejarahnya berisi permusuhan, perang, dan penindasan terhadap Ahlus Sunnah. Kaum Syiah adalah manusia-manusia yang sangat bahaya.
Ibnu Taimiyah; berkata tentang Syiah, “Mereka adalah yang paling jahat dari umumnya pengikut hawa nafsu, dan lebih berhak diperangi daripada Khawarij.” (Majmu’ Al-Fatawa, juz 28, hlm. 482). Abu Hamid Muhammad Al Maqdisi t berkata, “Tidak tersembunyi bagi siapa saja yang memiliki ilmu dan pemahaman dari kalangan Muslimin, bahwa banyak yang mendahului kami dalam bab ini, seputar akidah-akidah kelompok Rafidhah ini yang menyelisihi tulisan-tulisannya (ulama Salaf –pen.) ia kafir secara jelas, yang menentang karena jahil dihukumi keji, tidak berhenti ulama mengkafirkan mereka dan menghukumi mereka telah melesat keluar dari agama Islam.” (Risalah fir Raddi ‘alar Rafidhah, hlm. 200)].
Inilah juga pesan Risalah Amman: “…kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.” Semoga Allah. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada umat Islam di seluruh dunia.
Catatan 17
Sebuah hakikat yang harus dipahami oleh kaum Muslimin. Pertama, dalam pertemuan Rabithah Ulama Muslimin di Istanbul Turki, 27-28 Rabi’ul Awwal 1432 H (pertengahan Maret 2011; Risalah Amman keluar pada 4-6 Juli 2005), mereka mengingatkan bahaya aliansi strategis antara pemerintah Iran, Hizbulah Libanon, pemerintah Suriah, dan Syiah Irak. Kalau direnungkan, aliansi ini seperti “benteng negara-negara” yang melingkar untuk mengamankan posisi Israel dari jangkauan para pejuang Ahlus Sunnah. Cermati itu!!!
Kedua, penyebaran ajaran Syiah Rafidhah di negeri-negeri Ahlus Sunnah akan menghasilkan manusia-manusia yang toleran terhadap missi Zionis dan penjajahan Yahudi. Tidak berlebihan jika gerakan semacam itu didukung oleh negara-negara Barat. Dan selamanya, Amerika tidak akan pernah menyerang Iran, karena mereka satu kepentingan, dalam mengamankan posisi Israel. Fa’tabiru ya ulil abshar!!!].
Beretorika
Sejak awal kaum Syiah pandai dalam retorika. Mereka lihai dalam mengelabui umat Islam dengan retorika-retorika memukau. Jalaluddin Rahmat sendiri dikenal sebagai sosok pakar komunikasi. Dalam publikasi yang disiarkan oleh YMIB lewat Republika itu judulnya sangat menohok: “Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Umat”. Seolah, kaum Syiah sangat pro persatuan umat dan mereka mengingatkan kaum Muslimin agar tidak mudah diadu-domba.
Masalahnya, secara keyakinan, konsep ideologi, simbol-simbol sosial, fakta sejarah masa lalu dan sejarah kontemporer; justru kaum Syiah selalu membuat onar di Dunia Islam.
Di manapun mereka mendapati eksistensi Ahlus Sunnah, mereka akan mencurahkan segala energi dendam dan kedengkiannya. Hanya saja, semua itu dibalut retorika-retorika manis misalnya: persatuan umat, ukhuwwah Islamiyyah, pendekatan madzhab, dll. Mereka selalu dan selalu menyembunyikan bara dendam dan permusuhannya, di balik penampilan indah dan ramah.
Kami tidak henti-henti mengingatkan kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Nusantara, agar mereka istiqamah, sadar diri, dan selalu waspada menghadapi kaum Rafidhah ini. Dimanapun Rafidhah memiliki kekuatan kecil, mereka akan berlindung di balik ukhuwwah, persatuan, dan pendekatan madzhab. Namun bila mereka telah memiliki kekuatan, kehidupan Ahlus Sunnah tidak akan mereka biarkan tenang, damai, dan selamat. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa li sa’iril Muslimin, zhahira wa bathina, fid dini wad dunya wal akhirah. Allahumma amin ya Hafizh.
Berbagai prahara kehidupan yang telah menimpa kaum Ahlus Sunnah di Suriah, Iraq, Afghanistan, Libanon, Yaman, Pakistan, dan lainnya, hendaknya semua itu menjadi pelajaran besar yang tidak diremehkan. Kita jangan terpengaruh oleh perkataan para tokoh pro-liberal maupun pro-Syiah yang meremehkan tantangan kaum Syiah Rafidhah ini.
Cukuplah peristiwa Sampang Madura dan pembacokan ustadz NU di Puger Jember, menjadi warning bagi kita semua, bahwa Syiah Rafidhah selalu menyimpan dendam membara terhadap Ahlus Sunnah. Jika terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan lainnya , mereka berani mencaci-maki, menghujat, dan melaknat; apalagi terhadap kita yang tidak memiliki apa-apa dibandingkan para Sahabat dan ulama-ulama mulia itu?
Ibnu Taimiyah berkata, “Hendaklah setiap orang yang berakal, menyaksikan apa yang terjadi pada masanya. Hampir pada setiap masa, ketika terjadi huru-hara, keburukan, dan kerusakan dalam Islam, kebanyakan berasal dari Rafidhah. Anda pasti bisa melihat, bahwa mereka adalah orang yang paling banyak melakukan huru-hara dan keburukan. Mereka tidak akan tinggal diam, selama mereka masih mampu berbuat huru-hara, kekejian, serta menebarkan kerusakan di antara umat.” [Khawarij dan Syiah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, hlm. 463. Dikutip oleh penulisnya, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, dari Minhajus Sunnah, juz 3, hlm. 243].
Wahai Rabb kami, janganlah Engkau gelincirkan hati-hati kami (kepada kesesatan), setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami. Anugerahkan kepada kami dari sisi-Mu berupa rahmat, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). [Surat Ali Imran, ayat 8]. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang berlebihan dalam urusan kami. Teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir. [Surat Ali Imran, ayat 147]. Amin Allahumma amin.* [Habis]
Baca juga:
Propaganda Syiah dan “Risalah Amman” [2]
Propaganda Syiah dan “Risalah Amman” [1]
Dikutip dari buku terbaru saya berjudul, “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara: Mencari Titik Kesepakatan antara Asy’ariyah dan Wahabiyah”. Karya Abu Muhammad Waskito. Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar Jakarta, bulan Oktober 2012. Dilakukan adaptasi ke dalam format tulisan online.