Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

‘Pelacur Intelektual’ dan ‘Anjing Penjilat’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Juni 2017 11:12 11:12 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Juni 2017 11:12
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Saad

 

SANGAT menarik ketika membaca buku  Qosim Nurseha Dzulhadi “Membongkar Kedok Liberalisme Di Indonesia“. Dalam sub bab buku tersebut yang berjudul “Bal’am Kontemporer Prototype Penghancuran Islam“,  dijelaskan bahwa seorang ‘Pelacur Intelektual’ yaitu orang-orang yanng diberi ilmu agama  namun disalahgunakan ilmu tersebut demi kepentingan pribadi. Maka orang demikian diibaratkan seperti “anjing”.

Permisalan “anjing” kepada pelacur intelektual tidak sekonyong-konyong dari pemikiran gegabah sang penulis, namun beliau merujuk dalam QS  al-A’raf : 175-176;

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” [QS  al-A’raf : 175-176].

Sifat anjing adalah penjilat, dia rela berkorban apapun meskipun nyawa menjadi taruhanya kepada sang majikan demi seonggok daging. Dia akan setia kepada majikan selama dia mendapatkan “jatah”. Namun loyalitas itu bisa berubah sewaktu-waktu, jika “jatah” sudah tidak lagi bicara.

Begitu pula para pelacur intelektual, mereka tidak berbeda dengan “anjing-anjing penjilat”.  Mereka hafal berbagai dalil, sampai-sampai ketika menyampaikan orasi atau debat, mulutnya berbusa. Namun sayangnya apa yang mereka sampaikan bukan untuk mengekkan kebenaran agama, namun hanya kepentingan segelintir orang dan ironisnya lagi kepentingan itu adalah merusak kebenaran agama.

Baca: Pluralisme Menggerogoti Akidah umat Islam Tanpa Sadar

Sebelum ini ada pernyataan tokoh yang mengatakan, “Menonton YouTube tentang pornografi lebih ringan daripada terorisme. Terorisme itu lebih bahaya daripada gambar perempuan telanjang”.

Lalu sang tokoh bercanda dan mengatakan, “Karena ketika nonton video porno sambil beristighfar.” Adalah contoh “gonggongan” yang tidak layak dari orang yang disebut intelektual.

Coba bayangkan jika ucapan ini “dikonsumsi” oleh orang awam. Maka antusias masyarakat terhadap porno akan meningkat signifikan. Dan yang paling ironis adalah, mereka menikmati tontonan tersebut dengan tanpa beban dosa, sebab ada seorang tokoh yanng diulama’kan siap  yang meringankan dosa mereka tersebab fatwa tersebut sebut.

Padahal pada hakikatnya, dosa kecil jika diremehkan akan menjadi dosa besar. Hal ini sebagaimana penjelasan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:

“Di antara sebab dosa kecil menjadi besar adalah seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak bersedih karena dosa (yang pernah dia lakukan).” (Al-Arba’in fii Ushuulid Diin, hal. 226)

Baca: Hasyim Muzadi: Penyakit Seorang Intelektual Silau dengan Barat

Lebih jelasnya Imam Al-Ghazali  mengatakan, ”Sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala. Ketika dia menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang besar, hal itu berasal dari larinya hatinya dari dosa tersebut dan kebencian hatinya terhadap dosa. Semua itu menyebabkan tercegahnya seorang hamba dari konsekuensi perbuatan dosa. Adapun ketika dia menganggap remeh perbuatan dosa, hal itu bersumber dari kegemarannya berbuat dosa. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati.” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 4/32).

Paham pluralisme agama bahkan sudah jelas haram dan berbahaya bagi aqidah. Namun dimulut para ‘pelacur intelektual, paham pluralisme agama menjadi sah dan halal untuk “dikonsumsi” umat.

Jika diteliti, pluralisme agama tidak memiliki pijakan dasar dalam Islam. Islam adalah agama inklusif (Innaddina inddallah Al-Islam). Sejarah membuktikan melalui Surat ajakan Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam masuk Islam kepada Heraclius (Kaisar Romawi), Raja Negus (penguasa  Ethiopia), dan Khusrau (penguasa Persia). Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tahu resiko yang akan diterima jika beliau menyampaikan surat tersebut. Namun beliau (Rasulullah) tetap mengutus delegasi untuk menyampaikan risalah tersebut. Ini  adalah bukti bahwa Islam Agama yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam adalah agama paling benar dan inklusif.

Baca: Pluralisme Agama adalah Pemaksaan Terhadap Agama Itu Sendiri

Lalu jika demikian, kenapa ada orang-orang yang berilmu, mengklaim dirinya Pewaris Nabi, namun kemudian mengajarkan semua agama adalah benar? Tidak heran, sebab semua ini adalah “pesanan”. Semua tahu pluralisme adalah lahir dari Barat, pluralisme bagian dari peradaban Barat. Sedangkan hari ini Barat menguasai peradaban dunia. Karena Barat takut peradabannya dijatuhkan, maka dia menacpkan hegemoninya. Salah satunya ialah memaksakan negara lain menikmati ideologi mereka. Caranya ialah dengan membeli orang-orang dalam yang pintar, kemudian dijadikan agen untuk menyampaikan ideologinya.

Jadi, pernyataan seorang intelektual bahwa pluralisme adalah sebuah keniscayaan yang harus diterima adalah tidak lain “gonggongan anjing penjilat” pesanan dari “Sang Majikan“.

Wal iyyadzu Billah. Semoga kita dilindungi dan dijauhkan oleh Allah dari orang yang demikian. Sebab, prototype demikian (masih mengutip buku Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia)  dikatakan oleh Sayyidina Umar sebagai manusia munafiq. Sedangkan orang munafiq tempatnya adalah kerak Neraka (fiddarki al-asfal min Nar). Wallahu al-Musta’an.*

Penulis adalah Alumni PP. Aqdamul Ulama’ Pasuruan, Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Uluwiyyah Mojokerto

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anjingAnjing PenjilatbaratImam Al GhazaliIntelektualislamliberalismePelacur IntelektualPluralisme agama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia Disebut Ibarat Asbak Rokok Raksasa
Tulisan selanjutnya Resmi Jadi Terpidana, Ahok Dinilai Semestinya Ditahan Kembali di Lapas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Berita
13 Juni 2026 14:36
Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?