“I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge…” (Prof. Dr. SMN al-Attas)
Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi
Hidayatullah.com | DALAM tulisan terdahulu penulis telah menyinggung, walaupun sepintas, tentang masalah umat yang disampaikan oleh Prof. SMN al-Attas. Yakni, fenomena masalah ilmu yang sekular, fenomena loss of adab dan masalah content atau kandungan pendidikan Islam.
Dalam tulisan ini penulis coba fokus pada problem keilmuan yang sudah puluhan tahun disampaikan oleh Prof. al-Attas. Karena tantangan terbesar menurutnya adalah ‘tantangan ilmu pengetahuan’ (the challenge of knowledge). Dan menurut Prof. Wan, buah fikiran Prof. al-Attas yang telah menyumbang besar kepada revolusi pemikiran dan perkembangan institusi pendidikan tinggi umat Islam sejak pertengahan tahun 1970-an adalah mengenai ilmu yang bersifat tidak neutral, bahwa ilmu-ilmu masa kini telah diserapi oleh unsur-unsur pandangan alam Barat sekular. (Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, “Pengantar Islam dan Sekularisme: Suatu Karya Agung Kulli”, dalam Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam dan Sekularisme, Terj. Dr. Khalif Muammar (Bandung: PIMPIN bekerjasama dengan CASIS, 2011), xviii-xix).
Konsep Ilmu dalam Islam
Apa yang disinggung Prof. Wan adalah benar. Mendudukkan kembali konsepsi ilmu menurut pandangam alam Islam adalah salah satu sumbangsih terbesar Prof. al-Attas. Ilmu menurut faham Islam, kata Prof. al-Attas, adalah suatu kesatuan yang mempunyai dua wajah yang dapat dibahagikan kepada dua perkara yang jelas; yang satu merujuk kepada pengenalan dan yang satu lagi kepada pengetahuan.
Yang melengkap-sempurnakan ilmu, dengan memperkenalkan kepada diri batas kegunaan serta had ma‘nawi pengetahuan serta pengenalan diri terhadap sesuatu perkara atau hal yang diketahui dan dikenali olehnya, adalah hikmah. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang-Malaysia: Penerbit Universiti Sains Malaysia, 2007), 13).
Ilmu dalam Islam harus membuahkan hikmah: sikap dan kemampuan dalam meletakkan sesuatu pada tempat dan martabatnya yang sesuai. Dari sini menjadi terang bahwa ilmu dalam Islam tak sekadar hasil olah-nalar. Tapi, ia juga harus membuahkan hikmah yang sumber mutlaknya adalah Wahyu, dari Allah (Qs. 2:269).
Hal penting yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah bahwa ilmu menurut Prof. al-Attas sebenarnya tidak neutral. Karena antara Islam dan kebudayaan Barat modern terdapat faham berbeda mengenai ilmu dan tujuan menuntutnya yang demikian serta mutlak. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 14).
Ilmu itu bukan semata-mata suatu sifat yang dimiliki oleh akal insani belaka. Karena ilmu butuh kepada bimbingan bagi mentahkikkan kebenaran dan kesahihannya dari kenyataan-kenyataan dan kesimpulan-kesimpulan umum dan khusus yang terdapat dalam Kebenaran yang ditanzilkan. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 15).
Ini maknanya bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah. Karena semua ilmu sumbernya adalah Dia (“All knowledge comes from God”). (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 144).
Karena memang ada ilmu yang langsung diberikan oleh Allah kepada manusia melalui Wahyu, yakni Al-Quran. Karena Al-Quran adalah Wahyu yang sempurna dan final. Bahkan, Al-Quran adalah the knowledge par excellence, tegas Prof. al-Attas. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 144-145).
Dari sini saja sudah tampak jelas perbedaan antara Islam dan Barat dalam memandang dan memaknai ilmu. Sumber ilmu dalam Islam yang paling asasi dan utama adalah wahyu, yakni Al-Quran, berikutnya adalah Sunnah, dan hasil atau perolehan nalar (akal manusia) di bawah sinaran wahyu. (Lihat, Prof. Dr. Yūsuf al-Qaradhāwī, as-Sunnah Mashdaran li al-Ma‘rifah wa al-Hadhārah (Kairo: Dār as-Syurūq, cet. III, 1423/2002).
Berbeda dengan Islam, Barat memandang bahwa dugaan dan rekaan pun dianggap sebagai ilmu. Karena dalam pandangan Barat ilmu diistilahkan dengan epistemē; yang bercampur dengan dugaan atau zhann dan lain-lain seperti hawā dan mirā. Padahal, Al-Quran berkali-kali menegaskan perbedaan antara ilmu (al-‘ilm) dan dugaan (zhann) atau tanggapan, dan pendapat atau rekaan sendiri (hawā) dan hasil pendapat-pendapat yang cuba untuk menafikan kebenaran sesuatu sehingga menimbulkan syakk (mirā’). (Prof. Dr. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), 50).
Jika dalam Islam membawa orang yang memilikinya ke tingkat yakin, di Barat justru ilmu mengantarkan pemiliknya kepada syakk (keraguan). Ini karena ada perbedaan mendasar mengenai asas atau sumber ilmu itu sendiri.
Tujuan Mencari Ilmu
Konsekuensi logis dari perbedaan sumber ilmu, seperti dijelaskan di atas adalah lahirnya perbedaan dalam tujuan mencari ilmu. Maka, sangat wajar jika kemudian tujuan dari mencari ilmu dalam Islam dan kebudayaan Barat juga sangat bertolak-belakang.
Dalam Risalah untuk Kaum Muslimin, Prof. al-Attas menyatakan bahwa dalam Islam semua ilmu harus memimpin dan memandu ke arah keinsafan hakikat Ketuhanan-Nya yang Tunggal dan keyakinan terhadap-Nya serta kerelaan beramal-ibadat untuk-Nya. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Risalah untuk Muslimin, 57-58).
Itulah kaitan erat antara ilmu, iman dan amal. Semuanya bertumpu kepada Wahyu. Berbeda dengan Barat, kata Prof. al-Attas, dimana mereka tiada menjelaskan perkaitan antara ilmu, diri, agama, hikmah dan keadilan, akhlak dan budi pekerti. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 59).
Kecuali itu, tujuan menuntut ilmu adalah untuk menghadirkan khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Karena ilmu dalam Islam bukan hanya teori tapi juga praktik. Tanpa praktik maka ilmu tidak ada gunanya sama sekali. (Lihat, Imam Abū Hāmid al-Ghazālī, Ayyuha al-Walad (Lebanon-Beirut: Dār al-Minhāj, 1435/2014), 38-40).
Karena itu, dalam Islam and Secularism-nya Prof. al-Attas menegaskan bahwa tujuan dari penanaman kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai manusia dan diri-pribadi, dan bukannya sekadar manusia sebagai warga negara atau bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 148).
Maknanya adalah bahwa ilmu, iman dan amal tidak boleh dipisahkan.
Tantangan Ilmu Pengetahuan
Tantangan terbesar di zaman kita ini adalah tantangan ilmu pengetahuan (the challenge of knowledge). Tantangan ilmu pengetahuan ini berasal dari peradaban atau Kebudayaan Barat yang sekular.
Dalam peradaban Barat ilmu menjadi kehilangan tujuan dan fungsi utamanya, karena ia dipahami secara tidak adil. Akhirnya, ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan malah melahirkan kekacauan, kekeliruan dan skeptisisme. Karena skeptik, maka ‘keraguan dan dugaan’ diangkat derajatnya ke level ‘ilmiah’ dan menganggap keraguan sebagai sarana epistemologis yang paling tepat untuk mencapai kebenaran.
Lebih hebat lagi, ilmu di tangan Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam: hewan, tanaman, dan bahan galian (mineral). Itu sebabnya Prof. al-Attas kembali menekankan:
“It seems to me important to emphasize that knowledge is not neutral, and can indeed be infused with a nature and content wich masquerades as knowledge.”
Jadi, karena dipandang oleh Barat ilmu itu netral, maka ia bisa dirasuki apa saja yang “menyamar” (masquerades) sebagai ilmu.
Namun, lanjut Prof. al-Attas, jika diamati secara keseluruhan, ia bukanlah ilmu yang benar, namun hanya merupakan tafsiran-tafsiran melalui prisma worldview (pandangan alam) suatu pandangan intelektual dan persepsi psikologis dari peradaban yang memainkan peran kunci dalam perumusan dan penyebarannya saat ini. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 133-134). Itulah yang diperankan oleh peradaban Barat saat ini.
Bahayanya, kekacauan dan kerancuan ilmu di tangan Barat itu akan membawa kepada kehancuran. Karena asas peradaban Barat itu sendiri tidak tunggal.
Peradaban Barat adalah, dalam bahasa Prof. al-Attas, hasil “adonan” dari berbagai kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi kuno; kemudian disatukan oleh ajaran Yahudi dan Kristen; lalu pembentukan dan perkembangannya lebih jauh dilakukan oleh orang-orang Latin, Germanik, Celtik dan Nordik. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 134).
Kecuali itu, Islam justru telah memberikan sumbangan besar kepada peradaban Barat dalam menanamkan spirit rasional dan saintifik. Tetapi, “… but the knowledge and the rational and scientific spirit have been recast and remoulded to fit the crucible of Western culture so that they have become fused and amalgamated with all the other elements that form the character and personality of Western civilization.” (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 134).
Jadi, sumbangan rasional dan spirit saintifik (ilmiah) itu “ditata-ulang” dan “disusun-kembali” oleh Barat agar sesuai dengan watak dan kepribadian peradaban Barat.
Namun, upaya mereka ini justru menyeret mereka semakin dalam ke dalam jurang “dualisme”. Pandangan Barat akhirnya dualistik dalam melihat realitas dan kebenaran.
Akhirnya, terjadi pertempuran yang menghancurkan harapan. Karena dualisme itu telah menguasai semua aspek kehidupan dan filsafat Barat; yang spekulatif, sosial, politik, maupun kebudayaan. Dan telah menyusup ke dalam agama Barat.
Hal ini terjadi karena Barat merumuskan pandangannya terhadap kebenaran (truth) dan realitas (reality) bukan berdasarkan Wahyu dan dasar keyakinan agama, tetapi pada tradisi kebudayaan yang dikuatkan oleh dasar-dasar filosofis. Celakanya, dasar-dasar filosfis ini berangkat dari ‘dugaan’ (speculations) yang berpusat pada kehidupan sekular yang porosnya adalah manusia sebagai diri jasmani dan hewan rasional… (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 135).
Karena demikian itu, kata Prof. al-Attas:
“There can be no certainty in philosophical speculations in the sense of religious certainty based on revealed knowledge understood and experienced in Islam; and because of this the knowledge and values that project the worldview and direct the life of such a civilization are subject to constant review and change.” (Prof. Dr. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 135).
Itulah bahayanya ‘spekulasi-filosofis’ yang ada di tubuh peradaban Barat. Mereka tidak akan pernah merasakan kepastian dan keyakinan dalam beragama, seperti yang ada dalam Islam. Karena pandangan alam Islam dasarnya adalah Wahyu sehingga ilmu dan nilai-nilai yang ada di dalamnya tidak akan berubah sehingga harus ditinjau ulang.
Karena agama Islam sejak awal-mulanya, pada masa ia diterbitkan, sudah menyadari akan ma‘na-dirinya sendiri. Apabila ia muncul ke atas pentas sejarah dunia ia sudah ‘dewasa’, tiada memerlukan gerak-daya ‘menumbuh menjadi besar’ untuk mencapai kedewasaan. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 22-23). Itu karena Islam berikut ajarannya berdasarkan Wahyu yang ditanzilkan oleh Allah sejak semula kehadirannya.
Itulah tantangan ilmu pengetahuan dari Barat yang disampaikan oleh Prof. SMN al-Attas. Disebut tantangan karena di tangan peradaban Barat ilmu menjadi sekular, destruktif, dan membawa kepada kehancuran karena dipandang ‘bebas nilai’ alias neutral. Hal ini karena dasarnya bukan Wahyu, melainkan spekulasi-filosofis yang kapan saja dapat ditinjau ulang sesuai dengan watak dan kepribadian peradabannya. Wallāhu a‘lamu bis-shawāb.[] (Senin, 06 Shafar 1443/13 September 2021)*
Pengasuh di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia”