Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kasus Penyerbuan Pengungsi Rohingya Bukti Banyak Netizen Mudah Termakan Isu

Ahmad
Terakhir diupdate: 30 Desember 2023 17:50 5:50 pm
Ahmad
Dipublikasikan 30 Desember 2023 17:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Perkembangan isu Rohingya beberapa waktu belakangan ini membongkar lemahnya tradisi intelektual umat Muslim di Tanah Air. Hal itu disampaikan oleh Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Akmal Sjafril, dalam paparannya untuk Kajian Ba’da Subuh di Masjid Raya Rahmatan Lil Alamin, Tangerang, Sabtu (30/12/2023) dini hari.

“Orang-orang Rohingya sudah mengungsi ke Indonesia sejak beberapa tahun sebelum pandemi. Tiba-tiba saja, sekitar bulan November lalu, jadi bahan pembicaraan lagi, dan semua beritanya negatif,” ujar lelaki yang sedang menempuh pendidikan doktoral Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia (UI) ini.

Dalam paparannya, Akmal menyayangkan banyaknya netizen dari kalangan anak muda yang begitu mudah termakan isu. Apalagi sebelum adanya aksi penyerbuan, jagad maya banyak narasi menyudutkan warga tertindas dari akun-akun anonim.

“Dari sudut pandang sejarah, sesuatu yang tiba-tiba itu selalu mencurigakan. Sebab tak pernah ada hal yang tidak berproses di dunia ini. Kalau prosesnya tidak kelihatan, itu indikasi bahwa ada permainan di belakang layar,” ungkapnya lagi.

Sebagai pembicara yang sudah sering mengupas permasalahan Rohingya dalam kajian-kajiannya sejak sebelum pandemi, Akmal mengaku heran menyaksikan betapa mudahnya netizen menerima narasi-narasi yang ditemukannya di dunia maya tanpa merasa perlu melakukan cek dan ricek.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

“Beberapa narasi yang saya jumpai sudah jelas keliru. Misalnya ada yang mengatakan bahwa orang-orang Rohingya itu bukan asli Myanmar, itu jelas menyesatkan. Justru narasi itulah yang digunakan oleh junta militer Myanmar untuk membenarkan genosida terhadap mereka,” ujar Akmal.

Yang lebih menggelikan lagi, menurut Akmal, adalah anggapan bahwa orang-orang Rohingya akan bersikap sama seperti imigran Yahudi yang datang ke Palestina sebagai pengungsi kemudian lambat laun populasinya bertambah hingga bisa balik menjajah pribumi.

“Prasangka semacam itu benar-benar tidak masuk akal. Pengungsi Yahudi di Palestina bukan hanya bertambah, tapi juga didukung oleh propaganda dan senjata oleh Inggris dan negara-negara lainnya. Orang-orang Rohingya ini datang tanpa harta benda, apalagi senjata. Negara mana yang mendukung mereka seperti dulu Inggris mendukung imigran Yahudi untuk mendirikan Israel? Kondisinya jauh berbeda,” tandas penulis buku Islam Liberal 101 ini.

Provokasi yang terjadi sekarang, menurut Akmal lagi, benar-benar telah menelanjangi kenyataan bahwa umat Muslim di Indonesia belum terbiasa menegakkan tradisi intelektual dengan benar.

“Dalam Surat Al-Hujurat, Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun manakala menerima berita penting dari orang-orang fasiq. Mengidentifikasi fasiq-tidaknya sumber berita adalah dasar dari pertimbangan perlu-tidaknya tabayyun. Jadi kalau menerima berita dari akun-akun tak dikenal di media sosial, maka adab yang benar adalah melakukan cek dan ricek terlebih dahulu, bukan memviralkannya begitu saja,” ujar Akmal.

Akmal juga mengingatkan bahwa para ulama senantiasa mendahulukan adab daripada ilmu. “Jika belum berilmu, maka adab yang benar adalah bertanya kepada ahlinya, bukan malah menebar fatwa. Apalagi kalau fatwanya bisa mengakibatkan konsekuensi yang fatal kepada sesama Muslim,” pungkas aktivis berdarah Minang ini.

Melalui akun-akun media sosialnya, Akmal kerap menyuarakan pembelaan terhadap orang-orang Rohingya dan menanggapi berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Postingan terbarunya di Instagram yang membahas isu Rohingya sudah dua kali menghilang, meski akhirnya berhasil dikembalikan lagi.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akmal SjafrilnetizenPengungsi RohingyaSekolah Pemikiran IslamSPI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesawat Air India Tersangkut di Bawah Jalan Layang [Video]
Tulisan selanjutnya KAMMI Turki Mendirikan Komisariat Pertama di Luar Negeri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?