Hidayatullah.com– Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah) bekerja sama dengan Majelis Taklim Telkomsel (MTT) menggelar acara kursus video bagi generasi Islam ‘Video Course for Islamic Generation’ (Vision) khusus Muslimah. Acara dilaksanakan di Aula Halal Mart Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/07/2018).
‘Jago Bikin Film dalam 5 menit’, jargon yang diusung dalam acara ini. Dihadiri oleh sekitar tujuh puluh Muslimah dari Jabodetabek. Vision ini diinisiasi oleh MTT bekerja sama dengan Yayasan Dinamika Jakarta.
Dalam sambutannya, Iin Indarwati selaku Ketua Departemen Humas PP Salimah menyampaikan terima kasih kepada kedua insititusi itu yang memfasilitasi kegiatan ini.
Baca: Nur Asia Uno: Pengusaha Muslimah Berperan Besar Bangun Ekonomi
“Saat ini video sedang tren, dengan sarana sederhana, terfokus pada konten. Jadi jangan sampai kita ketinggalan turut serta terutama untuk bisa memperlihatkan keindahan Islam melalui berbagai macam aktivitas,” ujarnya.
Materi pertama disampaikan oleh Dedi Supriadi, seorang konsultan public relation. Dengan tema penyampaian ‘Video sebagai Sarana Dakwah di Era Digital’.
“Bagaimana kita sebagai Muslimah, bisa menjadi humas. Di acara ini kita bukan belajar ‘nge-vlog’, tapi belajar bagaimana membuat video yang lengkap. Dimulai dari membuat skenario, mengambil video, memproses hingga menghasilkan satu film pendek,” jelasnya.
Baca: Gelar Rakernas, Muslimat Hidayatullah Optimalkan Peran Dakwah
Pemateri kedua, seorang jurnalis televisi, Viandi, berbagi pengalaman mengenai proses membuat sebuah karya video.
Dia memberikan gambaran bagaimana video yang kemudian disebarkan di media sosial, bisa menjadi trending, menjadi contoh, menjadi teladan. Seperti apapun konten itu. Apakah memiliki dampak negatif maupun positif.
“Kalau kita tidak turut serta memberikan konten-konten video yang memberi contoh dan teladan yang baik untuk generasi muda, maka kita tidak bisa menjamin kualitas generasi akan datang,” katanya dalam pengantar materi mengenai dunia videografi.
Viandi juga memberikan gambaran revolusi kamera video. Bagaimana dulu harus menggotong kamera seberat 13 kg seharga Rp 300 juta untuk sebuah liputan yang membutuhkan gerak yang cepat. Saat ini, kita bisa membuat video, film hanya dengan menggunakan smartphone.
Setelah itu, materi ketiga ‘Pemanfaatan Aplikasi, Teknik Editing, dan Mixing’ yang disampaikan oleh Youtuber video Trainer, Andi Abidin.
Usai itu peserta langsung praktik. Empat orang dalam satu kelompok, mereka membuat skenario film yang akan mereka buat. Tiap dua kelompok mendapat satu orang pendamping, sehingga semua peserta benar-benar bisa melakukan proses penggalian ide, pengambilan gambar, dan editing.
Akhir sesi, semua hasil film pendek dipresentasikan dan diberikan masukan, dipandu oleh Firtra Ratory seorang jurnalis video. Diharapkan agar ke depannya dapat menghasilkan karya lebih baik lagi, sesuai dengan kaidah jurnalistik.
Baca: Prof Huzaemah Imbau Umat Islam Pakai Medsos untuk Dakwah
Mulyaningsih, salah seorang peserta dari Depok menyatakan, “Acara ini bagus banget. Semoga bisa diadakan lagi. Saya merasakan manfaatnya. Saya mau buat video untuk bisnis online saya”.
Dwi, salah satu peserta dari Kota Bekasi, Jawa Barat, memberikan kesannya terhadap acara ini.
“Alhamdulillah acaranya sangat bermanfaat. Senang bisa ikutan acara. Semoga ke depan tambah sering Humas Salimah ngadain workshop,” ujarnya.* Kiriman PP Salimah