Hidayatullah.com—Berita duka kembali berhembus dari Keluarga Besar Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Kamis sore (01/09/2022) Nyai Hj. Heni Maryam Syafa’atin, istri tercinta dari Almarhum Kiai Maimun Zubair, berpulang menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.
“Iya, beliau wafat jam 4 tadi,” kata Putra Kiai Maimeon Zubair, KH Taj Yasin Maimoen membenarkan kabar duka melalui pesan singkat.
Ucapan bela sungkawa terus bertebaran di media masa. Mulai dari perorangan dan instansi, serta berbagai pondok pesantren yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Tak terkecuali yang di luar negeri, PCINU Mesir pun segera mengumumkan pelaksaan sholat ghaib berjamaah, dimotori segenap mahasiswa Al-Azhar asal Indonesia yang digelar di Aula KH. Hasyim Asy’ari PCINU yang berada di Distrik Darbul Ahmar Cairo of Egypt.
Sementara terkait pemakaman dari permusyawarahan keluarga disepakati disemayamkan di samping pusara Gus Robah Ubab Maimun, cucu Mbah Maimun yang wafat pada Ahad, 12 Juli 2020. “InsyaAllah dipun sareaken dalu niki, teng Maqbarah Pohama Al Anwar 2, sami kale Gus Robah”, dalam status WhatsApp Gus Ghofur Maimun Zubair.
Kisah perpiasan dengan sang suami
Bu Nyai Heni Maryam merupakan sosok perempuan bersahaja kelahiran 1958 asal Kudus. Ia telah mengabdiankan diri sebagai istri dengan penuh kasih sayang.
Terbukti selalu ikut serta mendampingi Mbah Maimun Zubair saat bepergian. Beliau juga yang mendampingi dalam kunjungan ke Mesir saat Mbah Maimun masih sehat.
Bahkan dalam pemberangkatan naik hajinya Mbah Maimun menjelang wafat. Bu Nyai dengan setia mendampingi Sang Kiai.
Ketika kita mereview kembali kenangan detik detik meninggalnya Mbah Maimun dalam pelaksaan Haji pada tanggal 5 Dzul Hijjah 1440 H yang bertepatan tanggal 6 Agustus 2019 yang lalu. Diceritakan Bu Nyai Heni Maryam, hanya mampu memandang ribuan pelayat yang menghantar kepergian sosok suami yang dikenal dengan panggilan akrab Mbah Mun itu dari balik pagar pemakaman Ma’la, Makkah.
Sesekali, dengan ujung jilbabnya ia tampak mengusap matanya. Mungkin titik air mata tak kuasa ia tahan untuk keluar dari sepasang mata yang tersembunyi di balik kacamata hitam.
“Bu Nyai mendampingi almarhum sejak jam 03.00 pagi tadi, waktu Kiai dibawa ke RS,” ujar dokter yang selalu berada di samping Bu Nyai. Karena memang Mbah Mun Wafat menjelang beliau hendak melaksanakan sholat tahajud.
“Jam 04.00 pagi, saat kami menunggu di luar ruang rawat almarhum, tiba-tiba hujan di Kota Makkah. Kami semua gak tahu kok ya menangis semua. Bu Nyai juga. Mbah Kiai kepundut pukul 04.17,” imbuhnya.
Jadi tak heran bila Bu Nyai pun ingin melihat di mana terakhir kali belahan hatinya terakhir disemayamkan. Maka, di sinilah kami. Berada di bawah langit Makkah, di balik pagar pemakaman Ma’la.
Waktu terus bergulir makin siang. Beberapa kerabat mulai membujuk Bu Nyai untuk beranjak dari tempatnya.
“Sudah bisa pulang bu? Istirahat yuk di apartemen?,” bujuk salah satu kerabat.
“Sebentar, saya belum lihat,” tuturnya lirih.
Bu Nyai ternyata ingin melihat pusara Sang Kiai. Pandangannya terhalang oleh kerumunan orang yang masih memadati areal pemakaman.
“Bapak-bapak tolong minggir-minggir… Bu Nyai ada di sini, Bu Nyai ingin melihat. Tolong minggir,” teriak salah seorang santri yang juga berada di luar pagar Ma’la.
Kerumunan itu pun mulai bergeser. Tak lama, tampak sebidang tanah datar dengan dua batu sebagai penanda.
Di sana jasad Sang Kiai besar disemayamkan terakhir kali. Ya, kuburan di tanah Arab memang tak seperti di tanah air yang berupa gundukan disertai papan nisan saja.
Melihat itu airmata Bu Nyai makin deras. Tangannya kembali menengadah, lantunan doa makin keras ia ucapkan. Allahummaghfirlahu…
Bu Nyai berulang kali memohon ampunan bagi sang kekasih hati. Kini perpisahan yang membelenggu rindu, terbayar sudah.
Seraya kembali pada pangkuan Sang Maha Esa, berharap dipertemukan kembali dengan Sang Kiai, kekasih hati. Tersebab cinta yang diikat dengan pernikahan yang suci.
Semoga esok akan dipersatukan kembali mendampingi Sang Suami, menjadi Ratu Bidadari.*/kiriman Kurdi Arifin, mahasiswa Al-Azhar, Mesir