Hidayatullah.com– Suasana di Dusun Boneana, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlihat lebih ramai dari biasanya, Selasa, 9 Ramadhan 1437 (14/06/2016) siang.
Di Wisma Haji Mabrur, untuk kesekian kalinya digelar prosesi pengucapan dua kalimat syahadat.
Warga tampak ramai menyaksikan prosesi itu. Tidak hanya Muslim. Beberapa warga beragama Katolik ikut menyaksikan masuk Islamnya 6 orang pemuda di wisma tersebut.
Keenamnya terdiri dari tiga putra; Mateus Alves, Jose Menezes, dan Alberto Ximenes, serta tiga putri; Elia Ximenes, Rosa Lia Dosantos, dan Riana Aggraini Bessi.
Di hadapan 40 warga yang hadir, mereka mengucapkan syahadatain di bawah bimbingan ustadz setempat, Mustaqim Dalang.
Rela Tanpa Paksaan
Sebelum prosesi dimulai, Mustaqim mengajukan pertanyaan terlebih dahulu soal kerelaan keempat pemuda itu untuk berpindah agama.
“Apakah ada pemaksaan kepada ade-ade dalam memasuki agama Islam ini?” tanya Mustaqim.
Langsung dijawab secara bersamaan bahwa mereka masuk Islam atas kerelaan sendiri. “Tidak ada paksaan,” ungkap para remaja belasan tahun itu.
Di ruang yang tampak sesak karena ramainya warga, pengucapan syahadat berlangsung dua sesi. Pertama dilakukan oleh tiga remaja putri, kedua oleh remaja putra.
Kesemuanya melakukan syahadat dengan lancar disambut takbir dan senyuman bahagia para warga. Usai bersyahadat, keenam mualaf itu langsung diberikan tambahan nama Islam.
Masing-masing yaitu Nurdin Mateus Alves, Usman Jose Menezes, Mustaqim Alberto Ximenes, Inaya Elia Ximenes, Nur Vadila (awalnya Rosa Lia Dosantos), dan Nur Aggraini Bessi. Mereka pun mengakui kerelaannya atas nama baru itu.
Menariknya, dalam prosesi tersebut, hadir pula orangtua dan saudara-saudara Katolik dari para mualaf.
Inaya Elia, misalnya, ia diantar langsung oleh bapak-ibunya; Alfredo Ximenes dan Sisilda Aparisio. Alfredo mengatakan, Inaya Elia tertarik masuk Islam atas kehendak sang anak sendiri.
Inaya Elia, kata Alfredo, mengungkapkan bahwa ia tertarik dengan Islam karena melihat kakaknya yang sudah lebih dahulu masuk Islam.
“Sekarang (kakaknya) sedang melanjutkan sekolah di Bandung. Dan (Inaya Elia) membujuk saya untuk segera mengucapkan syahadat,” jelas Alfredo.
Usai pemberian nama Islam, acara dilanjutkan dengan pencerahan keagamaan oleh Mustaqim. Ia pun mengajak para mualaf segera mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Serta mengatur pola hidup mereka, seperti tata cara makan-minum, sesuai Islam.
“Setelah kita masuk Islam, maka hal yang harus kita perhatikan adalah bagaimana Islam mengatur tata cara dalam beribadah. Dan semua itu harus kita pelajari dengan sungguh-sungguh,” jelas Mustaqim.
Ia menambahkan, aturan dalam Islam itu demi memberi kemudahan bagi Muslimin di dunia dan akhirat.
Proses pengucapan syahadat itu dilakukan secara terbuka, diakhiri dengan penandatanganan surat pernyataan bersyahadat masing-masing mualaf.
Turut hadir dalam acara ini H. Sampurno, Zainudin Halim (tokoh Muslim eks Timor-Timur), Nurdin Potok (Pengurus DPW NTT), dan Rasman (Kepala BMH Perwakilan NTT).
Diberitakan hidayatullah.com, awal Mei lalu di tempat yang sama, seorang remaja Katolik masuk Islam atas kesadaran sendiri. [Baca: Kisah Dosantos, Pergi Bersyahadat Diantar Keluarga Katoliknya]* Kiriman Muhammad Adianto, pegiat komunitas PENA NTT