Hidayatullah.com– Ekonomi di dalam kehidupan merupakan salah satu bagian penting bagi manusia. Karena itu tidak heran jika masalah ekonomi menjadi bahasan utama dan arus utama kehidupan umat manusia.
Meski demikian, ekonomi tidak mesti seperti yang dipandang oleh para ekonom konvensional yang melepaskan nilai-nilai religiusitas dalam konsep dan praktiknya.
“Kita perlu memahami bahwa ekonomi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia, yang karena itu Islam mengaturnya dengan apa yang kita sebut ekonomi syariah,” terang Analis Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Dr Prayudhi Azwar MEc dalam paparannya sebagai narasumber pada Studium Generale STIE Hidayatullah Depok di Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Sabtu (11/08/2018).
Lebih jauh, Azwar menegaskan bahwa ekonomi syariah dibutuhkan, karena dalam ekonomi syariah terkandung prinsip keseimbangan (tawazun).
“Ekonomi syariah itu ekonomi yang tawazun (seimbang). Ada hak individu, ada hak kolektif yang harus ditunaikan melalui zakat, infaq, sedekah atau pun wakaf. Dan, itulah mengapa Islam melarang riba, karena riba membunuh rakyat menengah ke bawah dan menghambat pergerakan ekonomi,” jelasnya.
Keseimbangan di dalam ekonomi Islam tidak lebih dari representasi ajaran Islam yang selalu memilih jalan tengah, keseimbangan.
“Kenapa ekonomi syariah ekonomi yang tawazun (seimbang) tidak lain karena ajaran Islam sendiri selalu seimbang. Coba perhatikan di dalam Al-Fatihah. Tiga ayat untuk Allah, tiga ayat untuk hamba, pertengahannya untuk Allah dan untuk hamba. Demikian pula kalau kita mau mengkaji ayat-ayat lainnya, semua pasti seimbang,” ulasnya.
Selain perihal keseimbangan, sisi yang sangat ditekankan oleh Azwar adalah perihal perlunya umat Islam memandang kehidupan ini dengan cara pandang Islam, termasuk dalam hal ekonomi.
“Jangan takut, kita tidak akan pernah kekurangan. Allah telah menciptakan kehidupan ini dengan kadar yang cukup. Tidak ada itu sumber daya alam terbatas, kebutuhan manusia tidak terbatas. Allah akan cukupi. Bukankah ikan di laut setiap hari diambil dan dikonsumsi, apakah ikan habis. Bukankah ayam dipotong setiap hari, apakah ayam habis, tidak,” ucapnya dengan gaya khasnya.
Studium Generale STIE Hidayatullah Depok menghadirkan Keynote Speaker Dr Abdul Mannan MM selalu Konsultan Pendiri STIE Hidayatullah Depok, dengan dua narasumber, yakni Dr Prayudhi Azwar MEc, kemudian Dr (Cand) Agus Suprayogi yang dimoderatori oleh praktisi ekonomi informasi dan teknologi, Asih Subagyo.*