Munculnya sikap anti-AS ini menguat lebih karena tindakan dan keputusan Presiden Bush yang kurang tepat. Seperti misalnya invasi AS ke Iraq setelah peristiwa 11 September 2001, penanganan tahanan Iraq yang penuh kekerasan di penjara Abu Ghraib, dan kebijakan AS di Timur Tengah. Akibatnya, keberadaan AS menjadi semakin kurang populer.
Demikian dikemukakan Profesor Meredith Woo-Cumings dari Universitas Michigan, AS, setelah menyajikan makalah berjudul “Unilaterialisme dan Rasa Ketidakpuasan: Sikap Anti-Amerika di Asia”, Selasa (22/6), di Jakarta.
Kurang populernya AS ini ditunjukkan oleh Woo-Cumings dalam makalahnya yang menyebutkan sebuah jajak pendapat yang diadakah di 42 negara oleh the Pew Research Center pada tahun 2002. Hasilnya menunjukkan, 44 persen warga Korea Selatan (Korsel) mengaku antipati dengan AS. Sebanyak 34 persen warga Perancis juga anti-AS, begitu pula dengan Jerman yang angkanya mencapai 35 persen.
“Itu ketika tahun 2002. Saya yakin saat ini angka-angka itu telah meningkat,” ujarnya.
Sikap anti-AS ini bisa muncul dalam bentuk protes dalam aksi unjuk rasa seperti yang terjadi, misalnya, di Indonesia, setelah peristiwa 11 September 2001 terjadi.
Pasalnya, komentar Presiden Bush ketika itu dinilai Woo-Cumings kurang hati- hati dan justru melukai perasaan kelompok agama tertentu.
“Muncul kebencian yang amat sangat terhadap AS karena kemudian banyak orang yang ditangkap dengan tuduhan melakukan aksi terorisme,” kata Woo- Cumings. (kcm)