Hidayatullah.com–Mantan wakil perdana menteri Malaysia Anwar Ibrahim Senin (1/11) mengingatkan peristiwa tewasnya 84 orang pemuda Muslim di Thailand Selatan minggu lalu dalam bentrok dengan militer akan menjad awal penyulut kekerasan di wilayah Asia.
Setelah heboh mengenai aksi pembantaian para pemuda Islam itu, Raja Thai Bhumipol Adulyadej mendesak suatu ‘pendekatan persuasif dan hati-hati untuk mengakhiri kerusuhan di Thailand Selatan.’ Titah Raja Adulyadej itu diungkapkan sendiri oleh PM Thai Thaksin Shinawathra Senin.
“Jika (aksi kekerasan) itu tidak diantisipasi dan anda menyakinkan pada pasukan tempur untuk mengamankan situasi, tentunya ini akan menjadi dasar bagi gerakan kekerasan,” kata Anwar kepada The Associated Press. “Latihan mengantisipasi aksi kekerasan tentunya bukan seperti sebuah penggusuran lingkungan,” tambah dia.
Lebih dari 400 warga Muslim tewas dalam tahun ini yang terjadi di tiga provinsi selatan dari Narathiwat, Yala dan Pattani yang didominasi penduduk Budha.
Pasukan pengamanan menangkap para demontran muslim di negeri sebelah selatan itu pada 25 Oktober 2004, yang berakhir dengan tewasnya 84 orang, termasuk 78 orang menderita luka setelah mereka ditumpukkan dalam satu truk yang penuh sesak manusia untuk dipindahkan ke pusat latihan militer.
Anwar mengatakan dia percaya pemerintahan PM Thailand Thaksin Shinawatra tidak menginginkan adanya kematian, tetapi pasukan tentara sendiri yang tidak mampu mengantisipasi aksi yang berujung kekerasan. Peristiwa berdarah itu bagi dunia Islam menimbulkan aksi perlawanan terhadap pemerintah Thaksin.
Insiden itu telah menimbulkan pembicaraan terbesar di Malaysia, di mana mereka bertetangga dengan Thailand Selatan. Penduduk di kedua negara itu memiliki suku dan bahasa yang sama, dan umumnya pemimpin Malaysia kuatir aksi kerusuhan bakal terimbas pada negara mereka. Anwar menolak penjelasan Thaksin yang mengatakan dalang kerusuhan itu dari kelompok organisasi Islam
Menurut Anwar, jika mereka merupakan komite OKI untuk bertarung dengan Islam aliran keras dan teroris, kemudian mereka bersahabat dengan Malaysia, dan dia tidak melihat kedekatan tersebut sebagai satu sekutu. Dia mengatakan bukan waktu yang tepat membicarakan hal di luar dari provinsi Thailand selatan, sebagaimana disarankan minggu lalu oleh mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad.
Thaksin menggambarkan komentar Mahathir Senin tidak bersifat membangun dan bersahabat. “Begitupun dia (Mahathir) bukan perpanjangan tangan dari pemerintah Malaysia,” kata Thaksin kepada wartawan. “Hubungan pemerintah antar pemerintah masih baik. Tetapi orang di luar pemerintahan telah membuat hubungan dengan orang Thailand menjadi buruk,” ujar Thaksin.
Petisi Perwakilan 15 organisasi Islam dari lima provinsi mayoritas berpenduduk Muslim di Thailand Selatan menyampaikan petisi delapan poin kepada PM Thaksin Shinawatra. Petisi yang disampaikan Minggu itu terkait tragedi tewasnya 85 warga Muslim di Provinsi Narathiwat pekan lalu, setelah terjadi protes di kantor polisi Tak Bai, Narathiwat, oleh sekitar 1.500 Muslim setempat.
Inti terpokok dalam petisi yang disampaikan perwakilan dari sekitar 4,0 juta Muslim Thailand itu ialah kecaman terhadap militer sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya tragedi itu. Islam agama terbesar setelah Buddha di negara berpenduduk total 65 juta ini.
Belasan organisasi Islam Thailand selatan itu menyerukan semua pihak agar menggunakan kesabaran serta cara-cara damai untuk menyelesaikan masalah ketegangan di selatan. Perwakilan-perwakilan Muslim ini berhimpun di markas Komando “Pembinaan Perdamaian” di Provinsi Yala.
Tuntutan kaum Muslim yang bernaung di bawah kelompok “Jaringan Organisasi Muslim Selatan untuk Perdamaian itu” disampaikan kepada PM Thaksin secara tertulis lewat panglima unit khusus tersebut, Jenderal Sirichai Tanyasiri.
Mengatur langkah
2 bulan setelah dibebaskan dari penjara, Anwar Ibrahim, kini sedang mengatur langkah masa depannya, bukan hanya di Malaysia melainkan juga di mancanegara.
Setelah berobat ke Jerman, Anwar kini telah mudik ke Kuala Lumpur dan akan segera umrah di Tanah Suci.
Kendati tidak diperbolehkan melakukan kegiatan politik atau niaga sampai tahun 2008, namun Anwar Ibrahim kini mempertimbangkan peran untuk mempersempit jurang antara Islam dan negara-negara Barat.
Dikatakan, ia telah membahas kemungkinan ini dengan berbagai pemuka umat Islam di Dunia Arab, Pakistan dan Indonesia, dan mereka sangat menganjurkannya agar ia melakukan kegiatan seperti itu. (ap/wpd/abcn/cha)