Hidayatullah.com– Pernyataan Walikota London ini disampaikan dalam suatu ulasan yang kritis terhadap berbagai kebijakan Israel yang diterbitkan di suratkabar Inggeris The Guardian Jumat (4/3). Livingstone juga menolak tuduhan bahwa dirinya anti-Semitisme, dan menyampingkan seruan baru dalam artikelnya untuk meminta maaf atas berbagai komentar bulan lalu yang membandingkan seorang wartawan Yahudi dengan seorang penjaga kamp konsentrasi.
"Sharon adalah seorang penjahat perang yang seharusnya berada di penjara, bukan di kantor PM," tulisnya dalam ulasan itu, dengan menambahkan, bahkan satu komisi Israel pun telah menyalahkan PM Israel itu melakukan pembantaian di kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon.
Walikota London tersebut juga mengecam "pembersihan etnis" terhadap warga Palestina selama ekspansi negara Israel, proses pemukiman warga Yahudi Israel di wilayah-wilayah pendudukannya, dan penolakan terhadap hak Palestina untuk pulang ke negerinya.
"Sharon terus melakukan teror," ujarnya, dengan menyebutkan ketidakseimbangan dalam jumlah warga Palestina yang tewas dibanding dengan korban Israel selama berlangsungnya Intifada, atau pergolakan Palestina. Livingstone berpendapat perlu untuk untuk memisahkan kecaman terhadap kebijakan Israel dari anti-Semitisme, dengan menyatakan pemerintah Israel dengan sengaja berusaha mempersamakan arti kedua istilah itu.
Pemerintah Israel selama 20 tahun terakhir ini "berusaha menggiring opini masyarakat dengan menyatakan bahwa siapa pun yang mengecam kebijakan Israel adalah orang yang juga anti-Semit. Namun kenyataannya adalah sebaliknya: seluruh umat manusia yang sederajat menyatakan bahwa Holocaust sebagai suatu kejahatan rasis terbesar abad ke-20 yang juga wajib dikecam keras seperti juga kebijakan pemerintah Israel secara berturut-turut," tulisnya.
Komentar Livingstone itu dikeluarkan sebagai suatu tanggapan atas kecaman yang dicetak sehari sebelumnya di The Guardian oleh kepala Dewan Perwakilan Yahudi Inggeris Henry Grunwald. Grunwald mengatakan Walikota London itu telah meremehkan jabatannya sendiri dan harus meminta maaf atas komentarnya yang dikeluarkan terhadap Oliver Finegold, seorang wartawan Evening Standard, satu surat kabar yang dianggap Livingstone terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bernada memusuhinya itu.
Bulan lalu, Livingstone membandingkan Finegold dengan seorang penjaga kamp konsentrasi karena ia "hanya melakukan sesuatu hal karena dibayar" — suatu rujukan bagi pekerjaannya di surat kabar Standard. Namun walikota dari partai Buruh itu membela kebijakannya atas perang melawan anti-Semitisme dan rasisme, serta menolak suatu seruan baru dari seorang pemimpin masyarakat Yahudi untuk meminta maaf atas pernyataan-pernyataannya yang telah dikeluarkan itu.
"Tidak ada komentator yang serius menyanggah komentar-komentar saya … yang dianggap berbau anti-Semitis," tulis Livingstone di The Guardian. Pemerintahnya telah memerangi anti-Semitisme secara seksama, dan ia juga terus "mendeteksi rasisme", tambahnya.
Livingstone saat ini tengah diselidiki oleh oleh Standards Board for England, badan pengawas lokal pemerintah, atas masalah apakah ia telah melanggar kode etik bagi Otorita London Raya dengan pernyataannya atas Finegold. Jika dia terbukti telah melanggar kode etik pemerintah kotapraja, Walikota itu akan diberhentikan dari jabatannya hingga lima tahun. (ant/wpd/cha)