Hidayatullah.com— Radovan Karadzic adalah penjahat perang Bosnia. Bersama kepala angkatan bersenjatanya Jenderal Mladic, dia ditetapkan sebagai buronan internasional dengan tuduhan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Karadzic dianggap telah memerintahkan genosida atau pemusnahan etnis pada masa perang Serbia-Bosnia. Mereka dianggap bertanggungjawab atas pembantaian sekitar 8.000 etnis Muslim Bosnia selama perang di Bosnia dari tahun 1992 sampai 1995.
Selama hampir 13 tahun lebih Mantan presiden Serbia-Bosnia kelahiran 1945 itu terus bersembunyi dari kejaran polisi internasional (Interpol). Kantor Interpol di Bosnia-Herzegovina pernah menawarkan hadiah 2,5 juta ponsterling (sekitar Rp 35 miliar) bagi siapapun yang bisa menemukan atau memberi informasi keberadaan tokoh dibalik pembantaian kaum Muslim Bosnia ini.
Sudah beberapa kali Mahkamah internasional gagal menangkap Karadzic, bahkan menyatakan akan mengakhiri kasus ini pada tahun 2010 mendatang.
Juru bicara Carla Del Ponte, Kepala Jaksa Penuntut di Mahkamah Kejahatan Perang bulan Juni lalu mengecam kegagalan Mahkamah Internasional menangkap Karadzic dan menyebutnya sebagai "noda hitam yang tak akan pernah hilang" bagi Mahkamah Internasional.
Tidak hanya itu, pemerintah AS menyediakan hadiah sebesar US$ 5 juta untuk penangkapan Karadzic.
Penangkapan ini disambut baik oleh jaksa penuntut di Den Haaq sebagai "sebuah terobosan besar."
"Saya mendapatkan informasi dari kolega kami di Beograd mengenai suksesnya operasi yang berakhir dengan ditangkapnya Radovan Karadzic," kata Serge Brammertz, Kepala Jaksa Penuntut Mahkamah Kejahatan Perang untuk bekas Yugoslavia.
"Ini merupakan hari yang penting bagi korban yang telah menunggu begitu lama atas penahanan tersebut."
"Ini juga merupakan hari penting bagi keadilan internasional, karena ini menunjukkan bahwa tidak seorangpun yang berada di luar jangkauan hukum, “ tambahnya.
Sang Provokator
Karadzic, putra seorang tukang sepatu Montenegro, menekuni banyak pekerjaan, dari peternak ayam sampai psikiater yaitu dokter jiwa. Ia juga seorang yang licik, yang semasa komunisme di Yugoslavia, bisa mendatangkan keuntungan tapi juga resiko. Untuk itu, pada tahun 1985, Radovan Karadzic sempat dipenjara selama setahun.
Tak lama setelah bebas, Karadzic memperoleh pekerjaan baru, ia tampil sebagai politikus. Menyusul pemilu bebas pertama tahun 1990, Karadzic bisa menyebut diri pemimpin Serbia-Bosnia.
Mengikuti jejak Slobodan Milosevic yang memegang tampuk kekuasaan di Beograd, Radovan Karadzic ikut menyulut pertentangan etnik di Bosnia. Berulangkali ia “memprovokasi” warga Serbia adanya rencana kaum Muslim Bosnia untuk melakukan jihad atau perang suci. Di depan parlemen Bosnia secara terbuka ia bahkan pernah mengancam kalangan Muslim telah melakukan penghasutan.
Sementara itu, dengan bantuan tentara Yugoslavia Karadzic mempersiapkan pengepungan Sarajevo. Menurutnya, proklamasi kemerdekaan Bosnia di tahun 1992 oleh Presiden Muslim, Alija Izetbegovic, adalah tanda mulainya jihad. Dan karena itu juga tanda bagi Serbia untuk membela diri. [cha, berbagai sumber/hidayatullah.com]