Hidayatullah.com —Yakin operasi militer besar-besaran AS yang dinamai American Dagger tidak bergigi, Taliban menyiapkan operasi balasannya yang dinamai Iron Net.
“Kami telah merancang strategi untuk melawan serangan ofensif marinir AS terbaru di propinsi Helmand, Uruzgan, dan Kandahar. Dan insya Allah tentara asing itu akan mengakui kekalahannya,” kata Yousaf Ahmedi, komandan senior Taliban kepada IOL melalui telepon satelit dari lokasi yang tidak diketahui di wilayah selatan Afganistan.
“Kami telah memberi nama operasi balasan kami dengan kode Iron Net. Dan itu akan benar-benar menjadi jaring besi untuk marinir AS dan sekutu-sekutunya.”
Sejumlah 4.000 marinir AS dan 650 tentara Afganistan, didukung 50 jet AS, mengambil bagian dalam operasi militer ofensif terbesar di Afganistan sejak tergulingnya Taliban dari kekuasaan di tahun 2001.
Operasi yang diberi nama dengan kode Khanjar, yang artinya belati dalam bahasa Dari dan Pashtu, bertujuan untuk membersihkan wilayah propinsi-propinsi di selatan yang dikuasai Taliban, dan guna memuluskan jalan bagi pemilu presiden yang akan berlangsung di negeri yang senantisa diliputi perang itu.
Target utama operasi adalah propinsi Uruzgan, kampung halaman Pemimpin Tertinggi Taliban Mullah Umar, dan Helmand, kampung halaman Presiden Hamid Karzai, yang juga merupakan ladang opium terbesar di dunia.
Sebagian wilayah propinsi-propinsi tersebut, utamanya di daerah pedesaan dan pelosok, sebenarnya dikuasai oleh Taliban, yang di sana secara de-facto mempunyai pemerintahan dan sistem peradilan.
Ahmedi mengatakan, mereka tidak akan berhadapan langsung dengan pasukan Amerika. “Kami akan terus menggebuk pasukan yang menyerang, dengan menggunakan ranjau darat, pemboman jarak jauh, dan serangan gerilya, yang selalu berhasil dalam menghadapi musuh yang lebih besar,” katanya.
“Kami bisa mengepung tentara musuh, tapi hal itu tidak akan berhasil karena mereka memiliki pasukan yang menyerang lewat udara. Itu mengapa kami lebih menyukai strategi hit and run.”
Seorang serdadu Inggris tewas dalam sebuah ledakan pada operasi di selatan propinsi Helmand hari Selasa, menjadi prajurit ketujuh yang tewas dalam satu pekan terakhir.
Sementara dua tentara AS terbunuh terkena ledakan di selatan Afganistan hari Senin. Ahmedi mengklaim bahwa Taliban menembak jatuh sebuah helikopter milik NATO di wilayah selatan propinsi Zabul pada hari Senin yang menewaskan beberapa prajurit asing.
Sementara ISFA ngotot mengatakan bahwa helikopter itu jatuh karena masalah teknis dan menewaskan dua orang Kanada dan Inggris.
Komandan Taliban itu mengatakan bahwa operasi mereka tidak terbatas pada wilayah selatan saja. “Kami telah memperluas gerakan ke wilayah timur laut, barat, dan utara Afganistan, guna menghadapi tentara musuh dan mencegah adanya bantuan tentara musuh kepada rekannya di wilayah selatan ini, jika terjadi pertempuran yang berkepanjangan.”
Kekerasan terjadi di penjuru Afganistan sejak marinir AS melancarkan serangan ofensifnya yang terbaru. Delapan polisi tewas dalam pertempuran sengit dengan gerilyawan yang menyerang gedung-gedung pemerintah di wilayah timur propinsi Nuristan Selasa lalu.
Delapan lainnya diculik selama pertempuran yang berlangsung beberapa jam itu. Empat serdadu AS tewas dalam sebuah serangan bom jarak jauh di bagian utara propinsi Kunduz pada Senin, 6 Juli.
Ahmedi mengatakan, Hizbul Islam yang dulu dipimpin Gulbuddin Hekmatyar membantu mereka di propinsi-propinsi sebelah timur laut, yang dianggap sebagai basis kekuatannya.
Para pakar masalah keamanan yakin, jika marinir Amerika akan menghadapi pertempuran yang sulit di wilayah selatan Afganistan. “Serangan ofensif terakhir ini tidak lebih dari sekedar pertaruhan, terutama di daerah Helmand, wilayah yang menjadi benteng kuat Taliban dan wilayah pertempuran yang paling sulit bagi tentara sekutu,” kata Noor Zaman Achakzai, jurnalis yang berbasis di Kandahar kepada IOL.
“Itu bukan pekerjaan mudah.” Ia mencatat, Helmand tetap menjadi benteng Taliban meskipun 8.000 tentara Inggris telah dikerahkan sejak invasi tahun 2001.
“Mampu bertahan dari serangan pasukan Inggris selama 8 tahun terakhir, bagi saya sangat tidak masuk akal jika 4.000 pasukan bisa menyingkirkan Taliban dalam waktu 1 bulan.”
Paling sedikit 176 pasukan Inggris tewas dalam pertempuran melawan Taliban di Helmand dalam tahun-tahun terakhir. Termasuk yang tewas di antaranya adalah Letnan Kolonel Rupert Thornole, Komandan Batalion Pertama Welsh Guards, yang menjadi perwira paling senior dari tentara Inggris yang tewas dalam pertempuran sejak perang Falklands.
Achazai menegaskan, secara historis Helmand tidak pernah ditaklukkan. Ia mencatat, di sana ada kuburan serdadu-serdadu Inggris yang datang untuk menaklukkan Helmand satu abad lalu, tempatnya di Spin Bouldak, sebuah kota perbatasan antara Pakistan dan Afganistan.
“Waktu berbulan-bulan tidak cukup untuk membersihkan wilayah itu dari pejuang Taliban, karena lokasinya. Tentara-tentara asing itu harus menghancurkan ribuan gua di pegunungan Helmand, yang memerlukan waktu tahunan, bukan bulanan,” katanya.
“Gua-gua itu adalah perlindungan alami bagi gerilyawan yang bisa tinggal di sana selama bertahun-tahun.” [di/iol/hidayatullah.com]