Hidayatullah.com–Julukan Belanda sebagai surga kebebasan bagi semua hal, rupanya patut dipertanyakan. Baru-baru ini, salah satu universitas bereputasi internasional di negeri oranye itu memecat dan mengusir salah seorang guru besar yang juga cendikiawan Muslim terkemuka, Tariq Ramadhan.
Ramadhan, profesor bidang ilmu kalam (theology) di Universitas Erasmus, Rotterdam, dipecat dari universitas tersebut di kota Rotterdam, Belanda, hanya gara-gara tampil mengisi sebuah program acara mingguan Islam and Life (al-Islam wa al-Hayat) pada stasiun televisi internasional Press TV milik Iran.
Selain diturunkan dari kursi profesor di Universitas Erasmus, cucu pendiri gerakan Islam al-Ikhwan al-Muslimun Hassan al-Banna (dari pihak ibu) itu juga dipecat dari jabatannya di kantor Walikota Rotterdam, Belanda. Di kota tersebut, Ramadhan memiliki reputasi bergengsi, yaitu penasihat Walikota di bidang politik multikultural imigran (siyasah damj al-muhajirin).
Pihak universitas maupun Walikota beralasan, dengan mengisi acara di stasiun milik Iran itu, Ramadhan dipandang telah mencederai amanat yang telah diberikan oleh Belanda kepadanya. Ramadhan dipandang menyokong sistem pemerintahan Iran yang menjadi musuh bebuyutan negara-negara Barat, salah satunya Belanda.
Atas keputusan kedua institusi tersebut, Ramadhan mengaku sangat kecewa dan tersinggung. Ia pun berencana akan menggugat keduanya karena dipandang telah menjatuhkan keputusan yang tidak fair. Terlebih lagi statemen yang menyatakan dirinya mendukung sistem pemerintahan Iran yang otoriter dengan mengisi acara di salah satu stasiun televisi negeri Mullah itu.
Sejawatnya, Profesor Van Bruinessen, kecewa dengan sikap pemerintah kota Rotterdam. Menurutnya, seharusnya pemerintah tidak perlu bereaksi terlalu kaget terhadap pekerjaan sampingan Ramadhan.
“Saya kira ia dulu terpilih justru karena ia mempunyai hubungan baik dengan berbagai instansi dan organisasi di kalangan umat Islam di Eropa, dan juga di dunia Islam.”
Ramadhan merupakan sosok cendikiawan Muslim yang memiliki reputasi cemerlang di dunia keislaman internasional, utamanya di Eropa. Ia dikenal dengan pemikiran keislamannya yang moderat, elegan, cerdas, dan berkeadaban.
Ramadhan juga pernah berkesempatan mengunjungi Indonesia beberapa tahun lalu. Sayangnya, di negeri berpenduduk Muslim terbanyak itu, Ramadhan mendapatkan kesan yang kurang baik: ia dicopet dan harus kehilangan dompet berisi uang dan dokumen berharga lainnya. [atj/rnwl/alarabiya/hidayatullah.com]