Hidayatullah.com–Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman menginginkan agar perbatasan antara Israel dan Palestina digambar ulang, tujuannya adalah untuk mengeluarkan orang-orang Palestina.
Berbicara pada rapat mingguan kabinet, Liebereman mengajukan usulan perubahan dasar perundingan damai dengan Palestina, yang mana katanya “haruslah bukan tanah untuk perdamaian, tapi pertukaran antara tanah dengan orang,” kutip AP (19/9).
Lieberman menjelaskan, perbatasan harus digambar ulang sehingga warga Israel keturunan Arab, yang jumlahnya mencapai 20% dari total warga Israel, akan berada di bagian Palestina, sementara para pemukim Yahudi berada di wilayah bagian Israel.
Menurutnya, kewarganegaraan harus menjadi isu utama dalam perundingan damai, “mengingat Palestina menolak mengakui Israel sebagai sebuah negara Yahudi,” kata Lieberman sebagaimana dilansir Haaretz.
Pihak perunding Palestina kabarnya telah mengakui hak keberadaan Israel, tapi bukan sebagai sebuah negara Yahudi, karena jika demikian maka hak para pengungsi untuk kembali akan terhalangi dan melanggar hak-hak penduduk Israel non-Yahudi.
Pemimpin Palestinian National Initiative (PNI) Mustafa Barghouti mengatakan, permintaan agar Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi merupakan upaya untuk melegitimasi pembersihan etnis tahun 1948 oleh Yahudi atas bangsa Palestina. Dia menyebut usulan Lieberman itu sebagai usulan rasis yang merupakan “sebuah bentuk lain dari pembersihan etnis.”
Lebih lanjut Barghouti menegaskan, pernyataan Lieberman merupakan bagian dari upaya memprovokasi Palestina. Beberapa pejabat tinggi Israel telah berulang kali mengeluarkan pernyataan guna mengacaukan perundingan, yang sengaja dilakukan sehingga mereka memiliki alasan untuk menyalahkan Palestina karena perundingan tidak berjalan mulus.
Usulan Lieberman itu pertamakali diungkapkan beberapa tahun lalu, pada saat perundingan berada dalam titik rawan, di mana Netanyahu menolak untuk menghentikan pembangunan pemukiman di atas tanah bangsa Palestina yang mereka duduki meskipun dikecam masyarakat internasional.
“Tidak ada loyalitas, tidak ada kewarganegaraan” adalah slogan kampanye partai sayap kanan Lieberman, Yisrael Beitenu. Menlu Israel kelahiran Soviet itu berulang kali mengajukan usulan peraturan terkait loyalitas untuk menggusur warga keturunan bangsa Palestina. [di/maan/ap/hidayatullah.com]