Hidayatullah.com–Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menekankan agar NATO memegang kontrol tunggal atas operasi militer di Libya dan menyatakan kecurigaannya atas motif beberapa negara Barat yang mengincar sumber daya alam Libya.
Berbicara dalam sebuah pertemuan tentang persamaan gender di Istanbul, Kamis (24/3), Erdogan mengatakan bahwa Turki tidak ingin apa yang terjadi di Iraq juga terjadi di Libya.
“Kami ingin setiap orang melihat Libya dari sudut pandang hati nurani, bukan dari perspektif minyak dan kita berupaya keras untuk mencapai itu,” kata Erdogan.
Menurut Erdogan, orang yang enggan menerima Turki sebagai anggota Uni Eropa sekarang bicara tentang “Perang Salib” atas Libya.
Menteri Dalam Negeri Prancis Claude Gueant pada hari Senin (21/3) lalu mengatakan bahwa Presiden Sarkozy telah “mengambil kepemimpinan Perang Salib dengan memobilisasi Dewan Keamanan PBB, Liga Arab dan Uni Afrika guna mencegah pembantaian di Libya.”
Sebagaimana diketahui, pesawat Prancis adalah yang pertama kali melancarkan serangan udara atas target-target di Libya, hanya beberapa jam setelah Presiden Nicolas Sarkozy mengumumkan operasi militer atas Libya.
Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe mencoba membela pernyataan Gueant dengan menyebutnya sebagai “salah ucap”. Namun pada hari Kamis dia mengatakan bahwa pemakaian istilah “Perang Salib” — yang aslinya adalah istilah dari abad pertengahan di mana umat Kristen Eropa melakukan invasi dan membunuhi kaum Muslim di negara-negara Islam — harus dihindari.
Turki mendukung zona larangan terbang atas Turki sepanjang ditujukan untuk melindungi warga sipil dan misi itu hanya dilakukan oleh NATO sendiri, tanpa keikutsertaan pasukan koalisi.
“Pesawat-pesawat Turki dan pasukan Turki tidak akan pernah membom Libya dan menembakkan peluru ke arah saudara-saudara kami di Libya,” tegas Erdogan.
“Saya harap, mereka yang hanya melihat minyak, tambang emas dan kekayaan terpendam saat melihat ke arah sana (Libya), mulai saat ini akan melihat wilayah itu melalui kacamata hati nurani,” ucap Erdogan.
Penjarahan Libya
Berbicara kepada para wartawan yang menemaninya melakukan perjalanan ke Afrika Barat, Presiden Turki Abdullah Gul hari Rabu (23/3) mengutarakan kecurigaannya akan aganda tersembunyi beberapa negara koalisi. Libya, kata Gul, bisa jadi akan dijarah seperti halnya Iraq.
“Kenapa? Karena tujuan (pasukan koalisi) bukan pembebasan rakyat Libya. Ada agenda-agenda tersembunyi dan kepentingan yang beragam,” kata Gul.*