Hidayatullah.com–Parlemen Pakistan hari Sabtu (14/5) mengecam penyerbuan pasukan khusus AS yang membunuh Usamah bin Ladin di kota Abottabad 2 Mei lalu, dan mengancam akan memutus jalur suplai tentara AS ke Afghanistan jika terjadi lagi penyerbuan serupa.
“Parlemen mengecam tindakan sepihak di Abottabad yang merupakan pelanggaran kedaulatan Pakistan,” bunyi pernyataan parlemen, yang dikeluarkan setelah mendengar keterangan para pejabat keamanan.
Parlemen juga menuntut pembentukan komisi independen untuk menyelidiki peristiwa itu, tapi bukan komisi yang dipimpin oleh angkatan bersenjata sebagaimana yang diusulkan Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani.
Kepala inteljen Pakistan Letjen Ahmed Shuja Pasha dihadapan para anggota parlemen, menjelaskan panjang lebar tentang hasil kerja militer Pakistan yang berupaya melawan serangan dari kelompok-kelompok perlawanan di Pakistan.
Pasha mengakui lalai mengawasi Usamah bin Ladin, tetapi ia membela diri dengan mengatakan bahwa Pakistan telah bekerjasama dengan Amerika Serikat untuk membunuh atau menangkapi para pendukung Bin Ladin.
Sementara itu Menteri Informasi Federal Firdous Ashiq Awan mengatakan bahwa kepala intelijen Pakistan pernah mengatakan jika Bin Ladin seperti “orang mati meskipun hidup.”
Menurut Awan, seorang pejabat angkatan udara mengatakan bahwa militer tahu “pesawat-pesawat Amerika membawa bom” dan berada di wilayah udara Afghanistan, siap untuk menembak jika pesawat Pakistan mengejar pasukan Amerika yang selesai melakukan operasi militer membunuh Bin Ladin.
Amerika Serikat sendiri mengatakan menyiapkan pesawat cadangan di wilayah udara Pakistan untuk mengawal pasukan Navy SEAL yang bertugas membunuh Bin Ladin.
Kata Awan, para pejabat militer meyakinkan anggota parlemen bahwa fasilitas nuklir Pakistan aman dan berjanji akan meningkatkan kemampuan angkatan udara mereka.
Pakistan menjadi sekutu Amerika Serikat dalam mengejar kelompok-kelompok Islam setelah peristiwa 9/11 dan mendapat kucuran dana yang tidak sedikit dari Washington sebagai balasannya.*