Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pak Samad: Marahpun Tetap Puitis!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Oktober 2011 09:12
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Usianya 76 tahun, namun semangat perjuangannya seperti mengalahkan orang muda. Ia masih bisa berdiri di pentas dalam waktu lama untuk menyampaikan bait-bait puisi yang mengetarkan jiwa pendengar dan pecinta dunia seni dan sastra.

Kadang, ceramahnya memukau. Ayat-ayat yang digunakan saat menyampaikan pidayo sukar untuk dibedakan. Apakah ia sedang berpuisi atau berceramah, karena bahasa yang digunakan juga bait-bait puisi. Hal demikian disebabkan ia sangat dewasa dalam berbahasa. Ia menganggap, makan minumnya adalah bahasa, tidur berbaringnya adalah bahasa, berjalan dan berdirinya juga bahasa, apalagi disaat di pentas di depan khalayak- pastinya persoalan bahasa yang ditekankan.

Pendek kata, ia telah meniti kehidupannya dari usia dari muda sehingga sekarang dengan kecintaan pada bahasa Melayu. Beliau tak lain adalah Dato’ A Samad Said atau akrab dipanggil Pak Samad.

Dalam pentas di Balai Islam, Kota Bharu, Kelantan, kemarin, tiga kali dia berkesempatan berbicara. Pertama membacakan puisi berjudul “Dari Dinding Dewan” dan kedua, “Dari Dinding Madarasah”. Di sela-sela keduannya, ia diberikan kesempatan sesi tanya-jawab. Menariknya, semua jawaban disampaikan secara puitis, bahkan sesekali humoris.

Dalam pidato puitisnya, Pak Samad terlihat sedikit marah. Ia marah kepada pemimpin UMNO/ BN, partai berpengaruh di Malaysia. Namun karena amarahnya disampaikan dengan bahasa puitis, sehingga ungkapan marahnya tidak nampak layaknya bahasa para politis.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Yang menggusarkan saya bila melihat pemimpin Malaysia selama lima dekade dikuasai kaum bangsawan, tak ada dari kaum bawahsawan. Mereka itu saat berkumpul untuk sarapan pagi berbicara orang putih. Tak pernah merasai kesusahan seperti dirasai rakyat.

Kalau nampak susah pun, itu pura-pura. Mengayuh basikal (bycicle) dan naik bas (bus). Semua itu hanya akting,” Kata Pak Samad.

Selanjutnya Pak Samad mengulang sepintas tentang sejarah kemerdekaan. “Tunku Abdul Rahman Putera bukan seorang pejuang kemerdekaan, sebaliknya seorang penyambut kemerdekaan. Pejuang kemerdekaan sebenarnya adalah Dr. Burhanuddin Al- Helmi, Ahmad Bostaman, Mat Indera dan lain-lain, tapi oleh karena tokoh-tokoh itu tak disenangi Inggris ditangkap dan akhirnya yang menyanjung Inggeris dan dijadikan sebagai bapak kemerdekaan.”

Rupanya bahasa puitis punya kekuatan tersendiri bila sang bicaranya memiliki kekuatan rohani yang kental, biarpun fisiknya tampak sedikit berkurang lantaran usia. Sasterawan Negara itu tetap mampu memukau khalayak lewat pesan yang jelas yang disampaikan.

“Sewaktu dalam ASAS 50 bersama teman-teman seperti Allahyarham Osman Awang, Allahyarham Kris Mas, Mashuri SN, saat itu usia saya baru belasan tahun atau duapuluhan tahun. Saya mengidamkan dunia yang cantik. Saya khayalkan dunia ini seperti itu, tapi sampai usia saya mencapai 76 tahun hari ini, dunia bukan semakin cantik sebaliknya semakin bodoh dan bodoh,” ujarnya.

Meski pentas Pak Samad berbarengan dengan pertandingan sepakbola antara Kelantan- Terengganu di Stadium Sultan Muhamad Ke IV, Kota Bharu yang jaraknya kurang lebih satu kilometer, aksi santranya tak menggeser kursi penonton.

Meski keputusan terakhir pertandingan kedua pihak malam itu seri 2:2. Namun khalayak di dalam dewan kesenian itu seolah tak begitu mempedulikan hasil pertandingan. Mayoritas penononton lebih terfokus kepada pesan puisi Pak Samad.

Selain Dato’ A. Samad Said, hadir juga dalam acara itu Exco Kanan Kerajaan Kelantan, YB Haji Husan Musa dan puteri Datuk Seri Anwar Ibrahim, anggota dewan Lembah Pantai, YB Nurul Izah Anwar.*/Rossem

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dr. Syamsul: Waspadai Paham Liberal Masuk Kabinet
Tulisan selanjutnya Isu Koptik Upaya Menggagalkan Revolusi Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?