Oleh: Musthafa Luthfi
MESKIPUN upaya serius memecahbelah persaudaraan sebangsa antara Muslim dan Kristen Koptik (Qibti, red) sebenarnya sudah dimunculkan sejak masa imprialisme Barat, namun persaudaraan tersebut tetap kokoh. Tentunya bagi kaum Muslimin selain diwajibkan mengikat tali persaudaraan sesama akidah juga wajib bagi mereka untuk menjaga persaudaraan satu bangsa meskipun beda keyakinan.
Doktrin tersebut benar-benar dihayati dan dilaksanakan oleh kaum Muslimin Mesir sehingga tetap akan ditulis oleh tinta emas sejarah kemanusiaan sepanjang zaman.
Kehidupan mesra antara Muslim dan Koptik di Mesir akan benar-benar dirasakan bagi siapa saja yang pernah tinggal lama di negeri itu seperti yang penulis alami ketika sempat mukim di negeri Al-Azhar tersebut selama kurang lebih tujuh tahun.
Dalam pergaulan keseharian, kadang-kadang sulit membedakan mana Muslim dan mana Koptik kecuali setelah melihat mereka pergi ke tempat ibadah masing-masing. Banyak pula yang namanya sama sebut saja misalnya Ibrahim bisa Muslim bisa pula Koptik, juga bisa berseragam dengan nama-nama lain semisal Yusuf, Ishaq, Ya`qub dan nama-nama Nabi lainnya sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alihi Wasallam serta nama-nama khas Mesir lainnya.
Bila pernah terjadi semacam perselisihan antara kedua belah pihak, umumnya hampir tidak pernah disebabkan masalah-masalah yang berbau SARA, akan tetapi lebih disebabkan tindak kriminal biasa walupun sebagian pihak baik di dalam maupun luar negeri mencoba memanfaatkannya dengan menonjolkan unsur SARA. Dalam dua tahun belakangan ini, memang sering dilaporkan adanya bentrokan antara dua pihak termasuk penyerangan tempat ibadah yang sejatinya didalangi oleh oknum dan pihak tertentu.
Sebagai contoh, setelah revolusi berhasil melengserkan Presiden Husni Mubarak, dikabarkan aparat keamanan rezim ikut terlibat dalam serangkaian penyerangan tempat ibadah Koptik terutama di kota Iskandariyah sekitar setahun lalu. Kota indah di bibir pantai Laut Tengah itu sebenarnya termasuk potret abadi contoh kerukunan antar umat beragama yang coba dikotori oleh oknum tertentu untuk kepentingan tertentu.
Tidak bisa dipungkiri pula bahwa sejak lama, banyak LSM manca negara yang menjadi kaki tangan zionisme internasional juga ikut kasak-kusuk memunculkan isu Koptik di negeri Piramida itu sebagai bentuk konspirasi memecahbelah persaudaraan sebangsa antara Muslim-Koptik terutama dengan mengangkat isu HAM. Namun sebagian besar upaya tersebut tidak berhasil mengendorkan persaudaraan sebangsa yang memang telah terbina dan tertanam kuat sejak masuknya Islam ke negeri Nil itu.
Usaha konspirasi serupa tampaknya tidak pernah berhenti bahkan berusaha memanfaatkan keberhasilan revolusi damai menjatuhkan rezim untuk mengangkan lagi isu SARA. Karena itu, sebelum bentrokan berdarah terakhir di dekat gedung TV Mesir yang dikenal dengan nama Maspero itu, telah terjadi beberapa kali bentrokan serupa yang selalu dapat diatasi dengan kepala dingin terutama atas andil para pemuka kedua agama yang bijak.
Namun bentrokan besar antara pendemo Koptik dengan aparat keamanan Mesir pada Ahad (9/10/2011), sempat menimbulkan was-was akan kemungkinan meluasnya bentrokan berbau SARA di negeri Lembah Nil tersebut. Sedikitnya 25 orang tewas termasuk dari kalangan aparat dan lebih dari 325 orang cedera di Kairo, ketika unjuk rasa warga Kristen Koptik atas pembakaran sebuah gereja baru-baru ini yang meningkat menjadi kerusuhan melawan pemerintahan militer.
Demonstrasi berdarah itu dilaporkan menggunakan bom-bom bensin untuk membakar kendaraan-kendaraan militer dan bentrok dengan pasukan keamanan dalam kerusuhan paling buruk sejak unjukrasa bulan Februari yang menggulingkan mantan presiden Hosni Mubarak. Sebagian pengunjukrasa juga dikabarkan merebut senapan milik aparat yang digunakan untuk menyerang balik polisi.
Melihat bentrokan tersebut, kita teringat dengan unjukrasa serupa dari kubu pemuda revolusi di tempat yang sama menjelang kejatuhan rezim Mubarak, yang saat itu menyatu antara kaula muda Muslim dan Koptik sebagai motor penggerak revolusi damai. Karena itu sangat ironis, bentrokan berdarah seperti ini terjadi setelah keberhasilan mereka melengserkan rezim penguasa.
Untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk, Penguasa militer Mesir akhirnya kembali menerapkan “jam malam” di Maidan Tahrir (Tahrir Square) Kairo dan tempat ramai lainnya di pusat ibu kota Kairo yang berlangsung dari pukul 2 dini hari hingga pukul 7 pagi waktu setempat. Kabinet Sementara Mesir juga telah melakukan sidang darurat untuk secara khusus membahas situasi akibat bentrokan yang mengejutkan itu.
Diantara keputusan penting kabinet tersebut adalah ditetapkannya undang-undang tentang penertiban tempat-tempat ibadah yang nantinya menjadi acuan pendirian tempat-tempat ibadah agar tidak terulang lagi bentrokan berdarah seperti yang terjadi beberapa kali dalam sebulan belakangan ini.
Berkepentingan
Terkait kerusuhan berdarah di Maspero itu, ada dua hal yang perlu dicermati lagi bahwa pertama, kejadian tersebut tidak bisa dikaitkan dengan masalah SARA karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada masalah mengenai kerukunan antara Muslim dan Koptik sepanjang sejarah meskipun berbagai upaya konspirasi dari Barat dan zionis internasional. Kedua sangat sulit dipercaya bila kejadian itu berlangsung spontanitas karena dipastikan ada tangan-tangan di dalam dan luar negeri yang menggerakkannya untuk kepentingan tertentu.
Pihak-pihak dari dalam terutama sisa-sisa rezim yang masih belum menyerah dan pihak luar tampaknya ingin menciptakan kekacauan hanya beberapa minggu sebelum pelaksanaan pemilihan legislatif pertama sejak kejatuhan rezim lama. Pemilu ini adalah salah satu agenda penting dan menentukan yang menjadi tuntutan kubu pemuda revolusi dan kekuatan-kekuatan politik lainnya guna menghadang upaya sebagian pihak (di dalam dan luar Mesir) yang ingin tetap melihat masa transisi tanpa batas waktu.
Salah satu cara bagi pihak-pihak yang berkepantingan agar pemilu urung dilaksanakan atau menggagalkan pemilu tersebut adalah dengan memunculkan isu SARA dalam hal ini pemanfaatan minoritas Koptik yang konon sempat diperlakukan diskriminatif selama masa rezim lama. Meskipun pada kenyataannya, tokoh-tokoh Muslim pun yang tidak sehaluan dengan rezim lama, banyak pula yang ditindas.
Mereka yang tidak menginginkan pemilu segera dilaksanakan, memandang bahwa sukses pemilu di negeri Nil itu berarti masa perwalian dan intervensi asing atas masalah dalam negeri Mesir dan Arab umumnya akan segera berakhir. Bila pemilu sukses, hampir mustahil Israel akan mampu menekan negeri ini agar dapat membeli gas dengan harga super murah dan juga tidak mungkin seenaknya menentukan jumlah pasukan Mesir yang ditempatkan di Semenanjung Sinai seperti yang dilakukan selama masa rezim lama.
Keberhasilan pemilu juga berarti bahwa Tel Aviv tidak bisa lagi menekan Mesir agar menutup rapat pintu perbatasan di Rafah untuk memenjarakan dan melaparkan lebih dari 1,5 juta warga Palestina di Gaza. Akhirnya keberhasilan pemilu berarti kemandirian Mesir menentukan strategi yang mengusung kepentingan nasional dan regional Arab sehingga tidak bisa lagi AS, Inggris dan Israel seenaknya mendektenya seperti yang dilakukan selama ini.
“Yang jelas konspirasi atas golongan Nasrani timur (Arab) selama ini sumbernya dari Barat dan Israel. Konspirasi ini telah lama berlangsung dan peristiwa berdarah di Mesir beberapa hari lalu menunjukkan bahwa konspirasi mereka telah mencapa fase yang sangat maju,” papar Zahir Majid, seorang analis Arab dalam salah satu tulisannya, Selasa (11/10/2011).
Menciptakan kekacauan atas dasar SARA adalah cara paling ampuh untuk menghancurkan suatu bangsa sehingga peringatan yang disampaikan oleh salah satu analis Arab di atas benar adanya. Kita teringat Libanon, sebuah negeri kecil di Arab yang pernah hancur lebur akibat perang antar golongan selama lebih dari 16 tahun dan butuh waktu minimal 10 tahun setelah perang berhasil dipadamkan, untuk memulihkan situasi di negeri itu.
Tentunya akibat yang ditimbulkan akan lebih dahsyat bila masalah seperti Libanon itu menimpa Mesir mengingat luas negeri dan penduduknya yang merupakan terbesar di dunia Arab. Karena itu, tidak aneh bila musuh-musuh revolusi (baca: perubahan) baik dari dalam maupun luar negeri berusaha menohok negeri Piramida itu dengan menyulut api SARA.
Dalam kondisi perekonomian yang sangat sulit di Mesir, tentunya menyulut kekacauan dengan mengatasnamakan SARA sangat sulit diatasi bila para bijak baik dari kaum Muslimin dan Koptik tidak berhasil menghalau konspirasi tersebut. Para bijak dari Koptik lebih diutamakan untuk segera ikut campur mengatasi situasi agar tidak meluas ke seantero negeri.
Di lain pihak, Dewan Militer sebagai penguasa sementara hingga pemilu berlangsung, juga perlu membuka dada selebar-lebarnya guna memahami tuntutan golongan Koptik yang sempat terpinggirkan pada masa rezim lama. Saling mengalah dalam situasi sulit masa peralihan saat ini sangat penting untuk dikedepankan demi kepentingan bangsa dan menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Usul dari mantan Mufti Mesir, Dr. Nasser Faried Washil tentang pengeluaran undang-undang khusus bagi warga Koptik misalnya, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi agar masalah SARA tersebut tidak dimanfaatkan terutama dari pihak luar untuk melemahkan Mesir selaku negara Arab terbesar dan salah satu pemain utama di kawasan. Undang-undang yang diusulkan itu diantaranya menyangkut penjelasan tentang berbagai hak warga Koptik yang sebelumnya masih menimbulkan multi tafsir.
Peran Al-Azhar dan Gereja
Menghadapi situasi sulit tersebut, peran lembaga Al-Azhar sebagai rujukan utama kaum Muslim Mesir dan lembaga gereja bagi warga Koptik sangat penting. Yang menggembirakan bagi bangsa Mesir dan bahkan umat Islam seluruh dunia lainnya adalah terbentuknya wadah khusus yang terdiri dari para pemuka agama Islam dan Koptik yang dinamakan Beit el-A`ilah (rumah satu keluarga) yang dipimpin secara bergiliran antara Sheikh Al-Azhar dan Baba Senoda III (pemimpin tertinggi Koptik Mesir).
Wadah yang berkantor di kantor Sheikh Al-Azhar dibentuk lewat keputusan PM Mesir bertujuan untuk memelihara kekokohan struktur sosial di negeri Lembah Nil tersebut. Bila kedua lembaga (Azhar-Gereja) bersatu tentunya dapat menenangkan semua pihak sekaligus sebagai upaya paling ampuh menggagalkan setiap upaya konspirasi terhadap negeri ini yang mengatasnamakan SARA.
Sehari setelah peristiwa berdarah di Maspero itu, Sheikh Al-Azhar, Dr. Ahmad Al-Tayyib selaku ketua badan yang baru dibentuk itu telah mengajak para pemuka kedua agama melangsungkan pertemuan darurat guna membahas berbagai dampak yang mungkin terjadi pasca kerusuhan berdarah tersebut. para ulama kedua belah pihak sepakat tentang pentingnya upaya bersama untuk menenangkan suasana (calm down).
Dalam pernyataannya pasca kejadian Maspero itu, Al-Azhar juga menegaskan bahwa para pemuka Muslim dan Koptik akan melakukan upaya-upaya nyata dengan segera guna menghindari dampak yang dapat membahayakan keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa Mesir.
“Saudara-saudara kita dari Koptik telah berperan besar bersama saudara-daudara kaum Muslimin sejak revolusi 1919 hingga revolusi 25 Januari lalu,“ antara lain bunyi pernyataan tersebut.
Dengan respon yang demikian cepat dari kedua lembaga agama yang paling dihormati di Mesir itu, besar kemungkinan upaya-upaya memundurkan jarum jam (menggagalkan revolusi) dengan menyulut api SARA tidak akan berhasil. Akhirnya hampir seluruh rakyat negeri Lembah Nil itu, kembali terfokus pada pelaksanaan pemilu sebagai salah satu pemulus jalan mengisi keberhasilan revolusi yang telah melengserkan rezim lama yang dikenal dekat dengan Israel dan sekutu-sekutunya selama ini.*/ Sana`a, 17 Zulqa`dah 1432 H
Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di San’ah, Yaman